The Necklace, Pansos, dan Validasi Sosial di Era Digital


Dalam masyarakat digital abad ke-21, di mana hidup seolah berjalan di bawah sorotan kamera yang tidak pernah padam, manusia modern menjalani ritual yang sama dengan Mathilde Loisel dalam The Necklace (1884).

Guy de Maupassant, tanpa pernah mengenal algoritma atau budaya viral, seakan telah menulis sebuah naskah psikologis tentang pansos — panjat sosial — yang kini begitu akrab dalam jagat media sosial. Dorongan untuk terlihat mapan, sukses, glamor, dan diinginkan oleh publik bukanlah fenomena baru. Maupassant hanya menyingkap kenyataan paling purba dalam diri manusia: hasrat untuk dikagumi, bahkan bila itu berarti meminjam kemewahan yang bukan milik sendiri.

Mathilde Loisel adalah prototipe manusia digital modern. Ia merasa hidupnya biasa saja, dan kebiasaannya membandingkan diri dengan kelas sosial yang lebih tinggi membuatnya terjerembap dalam rasa malu terhadap kenyataan hidupnya.

Maupassant menuliskan dengan gamblang: “She suffered endlessly, feeling herself born for every delicacy and luxury.” Kalimat ini adalah kristalisasi psikologi pansos: penderitaan yang timbul bukan karena kekurangan nyata, tetapi karena bayangan tentang kehidupan yang lebih mewah.

Fenomena pansos hari ini memiliki pondasi psikologis yang sama. Dr. Sherry Turkle, profesor MIT dan peneliti otoritatif tentang hubungan manusia–teknologi, menulis dalam Alone Together (2011), “Technology doesn’t just change what we do; it changes who we are. We expect more from technology and less from each other.”

Dalam konteks pansos, teknologi memberi ruang bagi kita untuk membangun citra ideal — bahkan bila citra itu palsu. Dan seperti Mathilde, kita ingin dunia melihat versi diri yang sudah melalui filter, baik secara harfiah maupun simbolik.

Citra diri menjadi komoditas. Kehadiran digital berubah menjadi kompetisi tak berkesudahan. Kita meminjam gaya hidup orang kaya, menyewa pakaian untuk sesi foto, membeli kopi mahal demi konten, atau memamerkan perjalanan wisata meski semua dibayar dengan cicilan.

Jean Twenge, psikolog yang meneliti generasi digital dalam iGen (2017), menegaskan bahwa media sosial memperkuat “evaluasi diri berdasarkan impresi eksternal.” Twenge mencatat bahwa generasi digital “menilai dirinya melalui metrik visual—likes, shares, visibility.” Fenomena ini sama persis dengan Mathilde yang menilai dirinya melalui gaun, perhiasan, dan tatapan orang lain dalam pesta.

Ketika Mathilde meminjam kalung berlian milik Madame Forestier agar “tampak” setara dengan kelas aristokrasi, ia menjalankan tindakan pansos klasik. Ia menginginkan status, bukan pengalaman. Maupassant menggambarkan kegembiraan Mathilde saat ia berada di pesta itu, "She was the prettiest woman present—resplendent, graceful, smiling, and wild with joy.”

Seperti pengguna media sosial yang merasakan euforia saat foto mereka viral atau mendapat ribuan likes, Mathilde menikmati validasi sesaat yang terasa seperti kemenangan besar.

Tetapi ada harga yang harus dibayar.

Kalung itu—yang ternyata hilang—membuat Mathilde harus bekerja keras selama sepuluh tahun untuk menggantinya. Kehidupannya berubah menjadi siklus penderitaan fisik dan mental. Dalam ironi yang paling terkenal dalam sastra realis, kalung itu ternyata palsu.

“Oh, my poor Mathilde! Mine was false. It was worth at most five hundred francs!”

Di sinilah Maupassant menunjukkan ironi besar yang kini menjadi ciri zaman digital; kita sering menghabiskan hidup untuk mengejar validasi yang ternyata tidak pernah nyata.

Dalam ekologi psikologi digital, fenomena ini disebut the performance trap — jebakan performa sosial — yang dijelaskan oleh psikolog Jonathan Haidt dalam The Coddling of the American Mind (2018). Haidt menulis bahwa “identitas digital membuat individu merasa dirinya memiliki audiens permanen, sehingga memicu tekanan untuk tampil sempurna.” Tekanan ini mempercepat lahirnya budaya pansos, di mana penampilan lebih penting daripada kenyataan.

Platform digital memperkuat dinamika tersebut. Danah Boyd, peneliti media sosial dalam bukunya It’s Complicated (2014), menjelaskan bahwa remaja dan orang dewasa “menggunakan media sosial untuk menunjukkan versi ideal diri yang diharapkan mendapat pengakuan.”

Tetapi pengakuan digital adalah pedang bermata dua: ia memuaskan di permukaan, tetapi rapuh dan mudah menghilang. Sama seperti Mathilde yang hanya bercahaya satu malam, validasi digital sering hanya bertahan beberapa jam sebelum dihapus oleh konten lain yang lebih baru dan lebih mencolok.

The Necklace juga membuka pembacaan tentang kelas sosial digital, di mana status tidak lagi diukur hanya melalui kekayaan nyata, tetapi melalui citra online. Fenomena seperti flexing, glamor lifestyle content, dan pamer kemewahan (asli atau palsu) adalah manifestasi modern dari ilusi sosial.

Zygmunt Bauman, dalam Liquid Modernity (2000), menyatakan bahwa masyarakat modern membentuk identitas melalui konsumsi, bukan melalui tindakan atau moralitas. Dalam konteks digital, citra konsumtif menjadi mata uang sosial.

Mathilde ingin memanjat struktur sosial yang ada pada zamannya. Para pengguna media sosial hari ini ingin memanjat struktur sosial digital: mendapatkan verifikasi, menjaring perhatian, masuk ke dunia influencer, atau sekadar tampak hidup “lebih baik” dari kondisi sebenarnya.

Di sisi psikologi, budaya pansos juga terkait dengan social comparison theory Festinger (1954), yang menjelaskan bahwa manusia cenderung menilai dirinya berdasarkan perbandingan dengan orang lain.

Dalam era media sosial, perbandingan ini menjadi intens dan konstan. Setiap hari, pengguna disuguhi kehidupan orang lain yang tampak lebih sukses dan lebih glamor. Mathilde, dalam skala yang lebih kecil, mengalami hal yang sama ketika ia melihat teman-teman sekolahnya menjadi kaya dan terpandang, sementara ia bergumul dalam kehidupan sederhana yang tidak ia terima.

Kesenjangan antara realitas dan citra inilah yang memicu penderitaan. Tekanan itu membuat manusia modern menghabiskan uang, waktu, dan emosinya demi tampil menjadi seseorang yang bukan dirinya—persis seperti Mathilde yang kehilangan sepuluh tahun hidup untuk mengganti sebuah kalung palsu.

Dalam kerangka budaya digital, The Necklace bukan sekadar cerita tentang kesia-siaan ambisi sosial; ia adalah peringatan tentang biaya psikologis dari mengejar validasi eksternal.

Dunia digital hari ini telah menciptakan kondisi di mana setiap orang dapat menjadi Mathilde: terobsesi pada performa sosial, bingung membedakan mana yang nyata dan palsu, dan pada akhirnya terjebak dalam loop kesengsaraan yang diciptakan oleh diri sendiri.

Namun Maupassant bukan hanya mengkritik; ia memberi pelajaran moral yang sangat relevan, bahwa kebahagiaan tidak terletak pada citra, tetapi pada penerimaan diri. Sementara pansos adalah jalan pintas menuju pengakuan, tetapi ia sering berakhir pada kehilangan hal-hal yang jauh lebih penting: waktu, kejujuran, dan identitas diri.

Ketika Mathilde akhirnya mengetahui bahwa kalung itu palsu, pembaca modern dihadapkan pada pertanyaan yang sama pentingnya hari ini: Berapa banyak hidup kita yang telah kita buang demi sesuatu yang sebenarnya tidak pernah nyata?

Di era digital yang penuh ilusi visual, The Necklace menjadi cermin yang jelas untuk melihat diri sendiri — dan mungkin, untuk menghentikan diri sebelum ikut meminjam “kalung” lain yang kita tahu tidak akan pernah membawa kebahagiaan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cerpen "To Build a Fire" dan Sastra Ekologi Saat Ini

Laut, Ibu, dan Kehidupan dalam Puisi "Menebalkan Ibu di Kerongkongan" karya Titan Sadewo

Bagaimana "The Tell-Tale Heart” Karya Edgar Allan Poe Dapat Digunakan untuk Meneroka Over-Awareness di Era Hiper-Modern