Postingan

The Story of an Hour ditinjau dari Psikologi dan Isu Feminisme Modern

Gambar
  Di antara karya sastra pendek yang paling sering disalahpahami dalam sejarah, The Story of an Hour karya Kate Chopin menempati posisi istimewa. Cerita ini kerap dibaca sebagai kisah ironis tentang kematian mendadak seorang perempuan berpenyakit jantung. Namun pembacaan semacam itu gagal menangkap inti radikalnya. Chopin tidak sedang menulis tentang penyakit jantung; ia menulis tentang ketegangan antara struktur sosial dan kesehatan mental perempuan, jauh sebelum istilah “mental health”, “burnout relasional”, atau “emotional labor” dikenal secara luas. Dalam rentang waktu satu jam, Louise Mallard mengalami apa yang oleh psikologi modern disebut sebagai epifani eksistensial, yaitu momen singkat ketika subjek menyadari bahwa penderitaannya bukan semata persoalan pribadi, melainkan hasil dari struktur relasi yang meniadakan dirinya. Kesadaran ini, sebagaimana akan kita lihat, justru menjadi titik paling berbahaya dalam hidup Louise. Chopin membuka ceritanya dengan penekanan pada kon...

The Monkey's Paw, Antara Tekanan Zaman, Keinginan Instan, dan Pelajaran Psikologis

Gambar
Di tengah derasnya arus media sosial, budaya hustle , dan glorifikasi pencapaian cepat, generasi masa kini hidup dalam lanskap psikologis yang jauh berbeda dari 1902—tahun ketika W.W. Jacobs menerbitkan The Monkey’s Paw . Meski terpaut lebih dari satu abad, kisah ini tetap menggema kuat, terutama jika dibaca melalui lensa mental health generasi modern yang sering terjebak dalam keinginan instan. Fabel gotik ini bukan sekadar cerita seram tentang jimat terkutuk; ia adalah refleksi mendalam mengenai konsekuensi dari keinginan yang tidak dipertimbangkan matang, obsesi terhadap hasil cepat, serta rapuhnya struktur mental kita ketika realitas tak sesuai ekspektasi. Dalam cerita Jacobs, keluarga White memperoleh sepotong jimat berbentuk tangan monyet yang memberi tiga permintaan—namun dengan konsekuensi tragis. Mereka meminta 200 pound dan mendapatkannya melalui kematian anak mereka, Herbert. Ketika duka menutup logika, mereka meminta Herbert kembali hidup, tetapi realitas yang kembali bukan...

Antara Bartleby Sang Penyalin Naskah dan Kesehatan Mental Kelas Pekerja

Gambar
Ketika Bartleby, seorang salin-menyalin di sebuah kantor hukum Wall Street, menjawab semua permintaan atasannya dengan satu frasa berulang “I would prefer not to” ia tidak sekadar menolak tugas. Dengan kalimat singkat itu Melville menulis alegori tahunan tentang pekerja yang memilih menolak sebagai satu-satunya bahasa yang tersisa ketika struktur kerja sudah mengikis martabat dan kapasitas untuk bertahan. Abad dua ratus kemudian, Bartleby terasa seperti potret klinis dari masalah yang kini ditulis oleh para ahli kesehatan mental: burnout kronis, depresi fungsional, kecemasan ekonomi, dan efek destruktif dari precarious employment. Melville tidak memberi diagnosis pada tokohnya; ia memberi fenomena. Mengaitkan Bartleby dengan studi-studi kontemporer tentang kesehatan mental pekerja, khususnya pekerja kelas menengah ke bawah dan pekerja gig, dan membantu kita melihat bagaimana karya sastra menjadi kacamata untuk memahami epidemi psikologis zaman ini. Christina Maslach, salah satu otorit...

The Most Dangerous Game, Tentang Manusia sebagai Pelaku dan Korban dari Praktek Kekuasaan

Gambar
Pada tahun 1924, jauh sebelum istilah privilege , algoritma , atau komodifikasi manusia digital memasuki kosakata publik, Richard Connell sudah menulis salah satu alegori kekuasaan paling gelap dalam sastra modern: The Most Dangerous Game . Cerita ini tampak seperti kisah petualangan yang memindahkan pembaca ke pulau terpencil, tetapi hari ini ia bekerja seperti cermin yang memantulkan cara manusia diburu, dinilai, dan diposisikan dalam hierarki kekuasaan berbasis kelas maupun digital. Ketika Rainsford terdampar di pulau milik Jenderal Zaroff, ia mendapati bahwa perburuan di pulau itu tidak lagi berupa hewan, tetapi manusia. Zaroff berkata dengan tenang: “I hunt the scum of the earth—sailors from tramp ships… It gives me pleasure.” Dalam kalimat singkat ini, Connell memadatkan seluruh struktur kekuasaan modern: mereka yang memiliki hak istimewa menggunakan tubuh dan kehidupan yang dianggap “rendahan” sebagai objek hiburan, eksperimen, atau komoditas. Zaroff adalah representasi palin...

Membaca Ulang "The Cask of Amontillado" Dengan Lensa Jurnalisme Kultural dan Etika Publik saat Ada Tumbler Hilang

Gambar
Peristiwa hilangnya sebuah tumbler senilai Rp300.000 di sebuah kereta Commuterline tampak biasa saja dalam lanskap urban Indonesia. Namun ketika penumpang yang kehilangan tas bekal tersebut membawa kisah ini ke media sosial, gelombang perhatian langsung membesar. Di tengah arus komentar, kemarahan, dan simpati, posisi seorang petugas KAI terancam hanya karena menjadi orang terakhir yang menyerahkan tas itu ke bagian lost and found . Petugas itu akhirnya bersedia mengganti tumbler tersebut agar tidak kehilangan pekerjaan. Peristiwa yang awalnya “sepele” kemudian berubah menjadi drama moral publik—sebuah ritual penghakiman yang berlangsung secara digital. Fenomena ini menarik bila dibaca melalui kacamata sastra, khususnya cerita pendek Edgar Allan Poe tahun 1846, The Cask of Amontillado . Meski ditulis lebih dari satu abad sebelum adanya internet, cerpen ini memotret sesuatu yang sangat relevan dengan dunia modern: ritual balas dendam, pembingkaian cerita tunggal, dan efek gelembung emo...

Cerpen "To Build a Fire" dan Sastra Ekologi Saat Ini

Gambar
  Dalam sejarah sastra, sangat sedikit kisah yang secara tajam dan telak memotret hubungan manusia dan alam seperti “To Build a Fire” karya Jack London. Ditulis pada tahun 1908, kisah ini tidak pernah kehilangan relevansinya, terutama di abad ke-21 ketika dunia sedang menghadapi krisis iklim, kerusakan ekologis, dan meningkatnya wacana ecocriticism, sebuah  pendekatan kritis yang menelaah hubungan timbal balik antara manusia, teks, dan alam. Jack London tidak menulis cerpen ini sebagai dokumen ilmiah mengenai ekologi, namun intuisi sastranya mampu menangkap persoalan yang kini menjadi inti sastra ekologi: arogansi manusia, ketidakmampuan membaca alam, dan kesalahpahaman mendalam mengenai tempat manusia dalam jejaring ekologis. Cerpen ini dibuka dengan gambaran ekstrem di mana suhu udara di tempat di mana tokoh utama itu berada mencapai “seventy degrees below zero,” dan tokoh utamanya berjalan melintasi Yukon dengan penuh keyakinan berlebihan. London menggambarkannya sebagai s...

Krisis Identitas Manusia Modern dalam Cerpen An Occurrence at Owl Creek Bridge

Gambar
Dalam cerpen klasik “An Occurrence at Owl Creek Bridge” (1890), Ambrose Bierce menghadirkan kisah yang tampak sederhana: seorang laki-laki bernama Peyton Farquhar digantung oleh pihak militer.  Namun sebelum kematiannya, dalam sepersekian detik yang terakhir, pikirannya menciptakan sebuah fantasi pelarian dramatis: tali terputus, ia terjun ke sungai, berenang sejauh-jauhnya, melarikan diri melalui hutan, dan pulang ke rumah untuk memeluk istrinya. Semua itu ternyata hanyalah konstruksi mental. Pada akhir cerita, Bierce menuliskan kalimat penutup yang sangat terkenal:  “Peyton Farquhar was dead; his body, with a broken neck, swung gently from side to side beneath the timbers of the Owl Creek bridge.” Kisah ini tampak tragis, tetapi juga psikologis. Farquhar mati bukan hanya secara fisik—ia mati dengan kepala penuh fantasi tentang dirinya sebagai pahlawan yang berhasil pulang. Di sini, Bierce seakan meramalkan fenomena yang sangat nyata di abad ke-21: manusia yang menciptakan i...