Krisis Identitas Manusia Modern dalam Cerpen An Occurrence at Owl Creek Bridge
Dalam cerpen klasik “An Occurrence at Owl Creek Bridge” (1890), Ambrose Bierce menghadirkan kisah yang tampak sederhana: seorang laki-laki bernama Peyton Farquhar digantung oleh pihak militer.
Namun sebelum kematiannya, dalam sepersekian detik yang terakhir, pikirannya menciptakan sebuah fantasi pelarian dramatis: tali terputus, ia terjun ke sungai, berenang sejauh-jauhnya, melarikan diri melalui hutan, dan pulang ke rumah untuk memeluk istrinya.
Semua itu ternyata hanyalah konstruksi mental. Pada akhir cerita, Bierce menuliskan kalimat penutup yang sangat terkenal: “Peyton Farquhar was dead; his body, with a broken neck, swung gently from side to side beneath the timbers of the Owl Creek bridge.”
Kisah ini tampak tragis, tetapi juga psikologis. Farquhar mati bukan hanya secara fisik—ia mati dengan kepala penuh fantasi tentang dirinya sebagai pahlawan yang berhasil pulang.
Di sini, Bierce seakan meramalkan fenomena yang sangat nyata di abad ke-21: manusia yang menciptakan identitas semu untuk bertahan dari tekanan dunia.
Dalam dunia modern, ketika ekonomi tak pasti, media sosial memaksa kita membangun citra, dan persaingan menjadi ekstrem, kisah Farquhar menjadi cermin dari krisis identitas. Untuk membacanya secara lebih dalam, kita dapat menggunakan kacamata psikoanalisis Heinz Kohut, tokoh utama self psychology.
Heinz Kohut, dalam karyanya The Analysis of the Self (1971) dan The Restoration of the Self (1977), menjelaskan bahwa manusia membangun identitas melalui tiga kebutuhan utama, yaitu : kebutuhan dikagumi dan diapresiasi (mirroring), kebutuhan menemukan figur panutan untuk ditiru (idealization), dan kebutuhan merasa serupa dan bagian dari kelompok (twinship).
Ketika ketiga kebutuhan ini terganggu atau tidak terpenuhi, seseorang dapat mengalami narcissistic injury—cedera pada struktur diri—yang membuatnya menciptakan “diri semu” (false self) untuk menggantikan kekosongan identitas.
Dalam konteks ini, Peyton Farquhar bukan sekadar karakter cerita; ia adalah prototipe manusia modern. Ia ingin menjadi “seseorang”, ingin diakui, ingin memainkan peran heroik dalam perang, padahal ia sebenarnya hanyalah warga sipil biasa.
Bierce menulis: “Being a civilian, he was unable to take active part in the war, but he was at heart a soldier.”
Kalimat ini mencerminkan persis apa yang disebut Kohut sebagai grandiose self—keinginan menjadi lebih penting dari kenyataan diri yang sebenarnya.
Penggambaran ini begitu intens sehingga pembaca percaya ia benar-benar lolos.
Dalam psikoanalisis Kohut, saat ego terancam, fantasi bukan sekadar pelarian; ia adalah alat untuk mempertahankan struktur diri. Fantasi hadir untuk menyatukan diri yang retak, menghadirkan ilusi bahwa hidup masih dapat dikendalikan.
Di abad 21, bentuk fantasi ini hadir dalam berbagai rupa, seperti idealisasi diri di Instagram, narasi motivasi yang hiperpositif, pelarian ke video game dan dunia virtual, identitas kerja yang dibangun berlebihan, juga keinginan tampil sebagai “pahlawan moral” di ruang digital.
Farquhar melarikan diri ke dunia yang diciptakannya sendiri, dan kita pun demikian—hanya medianya berbeda.
Pada tingkat psikologis, apa yang dilakukan Farquhar disebut sebagai psychic retreat—istilah yang kemudian dibahas dengan baik oleh John Steiner dalam Psychic Retreats (1993). Ini adalah kondisi ketika seseorang mundur ke dalam dunia batin untuk menghindari realitas penuh ancaman.
Kohut menyebut fenomena serupa sebagai fragmentation anxiety—ketakutan bahwa diri akan hancur atau runtuh. Untuk mencegahnya, seseorang menciptakan narasi yang meneguhkan dirinya sendiri.
Farquhar membayangkan dirinya sebagai pahlawan yang kembali ke rumah; banyak orang modern membayangkan diri sebagai versi sukses yang selalu positif dan kuat, meski realitas berkata sebaliknya.
Ketika masyarakat modern mengalami burnout, ketidakstabilan pekerjaan, dan kompetisi yang keras, fantasi menjadi cara bertahan. Sama seperti Farquhar, identitas manusia modern sering kali dibangun di atas ilusi agar tidak runtuh
Kohut melihat bahwa jika kebutuhan identitas seseorang tidak terpenuhi, mereka akan mengandalkan imajinasi untuk mengisi kekosongan, atau membutuhkan validasi berlebihan, atau menciptakan citra diri yang rapuh namun tampak kuat.
Farquhar memproyeksikan dirinya sebagai pahlawan yang melawan musuh. Tetapi kebenarannya, ia hanyalah korban propaganda yang dimanfaatkan oleh tentara musuh. Ia ingin menjadi tokoh besar, tetapi justru menjadi korban permainan besar.
Bierce menulis: “He was a civilian and a planter, and like other planters, he was greatly interested in the war.”
Minatnya berlebihan, tetapi kontribusinya tidak nyata. Ini paralel dengan fenomena performative identity di media sosial saat ini—orang yang tampak peduli, tampak penting, tampak heroik, tetapi hanya di permukaan.
Sama seperti Farquhar, manusia modern sering “menggantung” di jembatan kehidupan yang rapuh—tetapi justru sibuk berfantasi bahwa semuanya baik-baik saja.
Ambrose Bierce seakan memberikan peringatan jauh sebelum media sosial lahir: bahwa ketika identitas dibangun di atas fantasi, diri menjadi rentan. Hidup bisa tampak indah dalam kepala, tetapi pada akhirnya realitas akan menagih.
Heinz Kohut memberikan solusi: identitas yang sehat hanya dapat terbentuk melalui hubungan yang empatik, pengalaman yang autentik, dan penerimaan diri apa adanya—bukan ilusi menjadi “lebih”.
Peyton Farquhar mengungsi ke fantasi sebagai bentuk pertahanan, sama seperti manusia modern melarikan diri dari tekanan hidup melalui dunia digital dan citra diri palsu.
Dalam perspektif psikoanalisis Heinz Kohut, Farquhar adalah gambaran dari diri (self) yang rapuh, yang membangun grandiositas untuk menutupi kekosongan batin. Ia adalah prototipe dari manusia abad ke-21, yang hidup dalam ketegangan antara identitas nyata dan identitas yang ditampilkan.
Ambrose Bierce menutup cerpen ini dengan menggantung tubuh Farquhar di bawah jembatan. Ironisnya, di abad 21, banyak manusia menggantung identitasnya di antara dua dunia—realitas dan fantasi—dan tidak pernah benar-benar menyadari di mana mereka berdiri.**

Komentar