Fantasi di Great Depression atau Slow Living in this Economy?
Ketika James Thurber menerbitkan “The Secret Life of Walter Mitty” pada tahun 1939, dunia sedang bergelut dengan sisa dampak Depresi Besar dan ancaman perang global. Namun yang mengejutkan adalah bagaimana sosok Walter Mitty—pria biasa yang hidup lebih nyata di dalam fantasinya daripada di dunia nyata—tampak begitu relevan di tengah krisis ekonomi modern, burnout, dan munculnya gerakan slow living. Seseorang yang dulu dianggap bahan humor kini lebih mirip gambaran psiko-sosial manusia urban hari ini.
Mitty menjalani hari-hari yang tampak sederhana: mengantar istrinya ke salon, pergi ke toko, berjalan sendirian di kota kecil. Tetapi pikirannya bergerak cepat, melompat dari satu fantasi ke fantasi lain, menciptakan dunia di mana ia kuat, penting, dan memiliki kendali. Dalam salah satu adegan paling terkenal, Mitty membayangkan dirinya sebagai komandan pesawat yang gagah, We’re going through! The Commander’s voice was like thin ice breaking.”
Kontras ini sangat tajam. Dalam dunia nyata, ia pria yang ditertawakan—ditegur karena cara mengemudi, diatur oleh istrinya, dan tidak dianggap oleh orang-orang di sekitarnya. Dalam dunia fantasinya, ia adalah pahlawan. Ketegangan antara dua dunia inilah yang membuat cerita ini menjadi cermin bagi kita yang hidup di era tekanan ekonomi, ritme hidup cepat, dan maraknya gerakan slow living.
Sosiolog Arlie Russell Hochschild (2016) menyebut fenomena modern sebagai “the time bind”—kita tidak hanya kekurangan uang, tetapi juga kekurangan waktu, perhatian, dan ruang mental. Saat tekanan meningkat, manusia sering melarikan diri ke dunia batin.
Psikolog Viktor Frankl (1946), dalam karya monumental Man’s Search for Meaning, menjelaskan bahwa manusia yang kehilangan kendali atas realitasnya akan “menciptakan makna melalui dunia internal ketika dunia eksternal tidak dapat memberikannya.”
Walter Mitty melakukan persis hal itu.
Di tengah dominasi ekonomi yang menuntut produktivitas tanpa henti, masyarakat modern menghadapi situasi serupa. PHK massal, inflasi, kenaikan harga kebutuhan pokok, dan pekerjaan yang semakin menekan membuat banyak orang “hidup di kepala sendiri” sebagai mekanisme bertahan.
Ethan Kross (2021) dalam Chatter menunjukkan bahwa daydreaming meningkat drastis dalam kondisi stres ekonomi, terutama untuk membangun rasa kendali palsu.
Walter Mitty adalah gambaran awal dari coping mechanism ini. Thurber bahkan menangkap kedalaman psikologis fenomena itu jauh sebelum ilmu psikologi modern memetakannya.
Dalam salah satu adegan, Mitty membayangkan dirinya sebagai ahli bedah dalam operasi yang dramatis, “‘Coreopsis has set in,’ said Mitty, looking grim.”
Fantasi ini bukan sekadar humor; ia adalah obat sementara bagi kehidupan yang tak memberinya ruang untuk eksistensi yang bermakna.
Jika Mitty hidup pada tahun 2025, kita dapat membayangkan ia sebagai seseorang yang lelah dengan pekerjaan korporat, atau terjebak dalam rutinitas domestik yang membosankan, atau kehabisan waktu untuk dirinya sendiri, atau dan mencari jeda dari ritme kapitalisme yang tidak memberi ampun.
Gerakan slow living, seperti dijelaskan oleh Carl Honoré dalam In Praise of Slow (2004), muncul sebagai reaksi terhadap “kecepatan yang tidak manusiawi” dalam kehidupan modern.
Slow living bukan sekadar hidup lambat, melainkan memilih ritme yang lebih sehat, penuh kesadaran, dan memberi ruang bagi manusia untuk kembali merasakan dirinya.
Di satu sisi, Walter Mitty adalah manifestasi ekstrem dari seseorang yang hidup terlalu cepat sehingga harus berhenti melalui fantasi. Slow living menawarkan alternatif yang lebih sehat: bukan melarikan diri ke dunia imajinasi, tetapi memperbaiki ritme hidup di dunia nyata.
Namun sumber masalahnya sama: Manusia membutuhkan ruang untuk bernapas, untuk lambat, untuk bermakna.
Ketika realitas menolak memberikannya, pikiran menciptakan kompensasi.
Barry Schwartz (2004) dalam The Paradox of Choice berpendapat bahwa manusia modern kewalahan oleh tuntutan, bukan oleh kurangnya pilihan. Kita memiliki terlalu banyak hal untuk dipikirkan, terlalu banyak hal untuk dicapai, terlalu banyak hal yang harus “dipenuhi” agar dianggap berhasil.
Walter Mitty tidak punya ambisi yang besar. Tetapi ia memiliki kebutuhan eksistensial yang sangat manusiawi: ingin merasa berharga. Itulah sebabnya setiap fantasinya menempatkan dirinya sebagai aktor utama dalam skenario heroik.
Namun di dunia nyata, ia tidak punya ruang itu.
Dalam adegan akhir cerita, ia membayangkan dirinya menghadapi regu tembak—tenang, gagah, seolah menguasai nasibnya, “Walter Mitty the Undefeated, inscrutable to the last.”
Ironi inilah yang membuat banyak pembaca modern melihat cerita itu dengan rasa pedih. Di balik humor Thurber tersimpan kritik halus terhadap dunia yang membuat manusia kehilangan kesempatan untuk merasakan dirinya sebagai subjek yang utuh.
Di era pandemi, inflasi global, dan perubahan ekonomi digital, kita melihat betapa lonjakan dari mereka yang merasa burnout, depresi ringan, kecemasan, ketidakpuasan kerja, dan pelarian psikologis melalui media sosial, game, atau fantasi personal.
Penelitian Jean Twenge (2019) tentang generasi modern menunjukkan bahwa pelarian digital sering kali digunakan untuk menggantikan otonomi yang hilang di dunia nyata. Di sinilah Walter Mitty menemukan relevansi yang mengejutkan, karena Ia adalah analog generasi yang melarikan diri ke dalam dunia mental ketika dunia material terlalu menekan.
Berbeda dengan Mitty yang tenggelam dalam fantasi, slow living menawarkan: ritme sadar, penolakan terhadap kecepatan, pengambilan keputusan untuk hidup lebih sederhana, penataan ulang prioritas, dan penegasan kembali makna hidup sehari-hari.
Gerakan ini muncul di tengah ekonomi yang sulit bukan karena orang ingin menjadi lambat, tetapi karena kecepatan telah menjadi sumber ketidakmanusiawian.
Mitty tidak pernah memiliki pilihan itu. Ia hanya punya dunia batin.
Namun para pembaca modern dapat melihat bahwa slow living adalah bentuk pembebasan yang mungkin akan menyelamatkan seseorang seperti Mitty dari hidup sebagai karakter sampingan dalam hidupnya sendiri.
Jika ditanya mengapa kita harus membaca Walter Mitty pada hari-hari ini, jawabannya mungkin adalah karena cerita ini adalah potret halus tentang keadaan kita yang berada dalam tekanan ekonomi, dalam kehidupan yang tak terkendali, pada hilangnya makna, pada larinya kita ke dunia digital, dan kebutuhan manusia untuk memperlambat dunia agar dapat hidup kembali.
Dalam dunia yang bergerak terlalu cepat, Walter Mitty mengingatkan kita bahwa jika kita tidak menemukan ruang untuk hidup, kita akan melarikan diri ke dalam kepala kita.
Slow living adalah jawaban kontemporer untuk tragedi sunyi itu.**
.jpg)
Komentar