The Gift of the Magi untuk Menyoal Pemberian dan Keikhlasan di Era Kebaikan yang Direkam


Di tengah banjir konten “kebaikan yang direkam”—orang memberikan uang kepada pengemis, memborong dagangan pedagang kecil, atau membuat kejutan hadiah mewah sambil direkam kamera beresolusi tinggi—The Gift of the Magi (1905) karya O. Henry kembali terasa relevan. Cerita pendek klasik ini, yang tampak sederhana namun sarat muatan moral, menghadirkan sebuah potret kebaikan yang intim, sunyi, dan penuh pengorbanan, yang kontras dengan budaya digital masa kini yang mengubah “memberi” menjadi komoditas visual untuk konsumsi publik.

O. Henry menggambarkan pasangan muda, Jim dan Della, yang hidup dalam kemiskinan tetapi saling mencintai. Della menjual rambutnya—satu-satunya aset yang ia banggakan—demi membeli rantai untuk jam saku milik Jim. Namun Jim ternyata telah menjual jam itu untuk membeli sisir mahal bagi rambut Della. Ironi yang lembut sekaligus menyentuh itu mengejawantahkan inti moral cerita: pengorbanan tulus lebih berharga daripada objek hadiah itu sendiri.

O. Henry menutup kisahnya dengan kalimat yang terkenal, “Of all who give gifts, these two were the wisest.” 

Kearifan yang dimaksud bukan berasal dari nilai materi hadiah, tetapi dari kedalaman cinta dan keikhlasan. Justru sifat intim, personal, dan tidak terlihatnya pengorbanan mereka yang membuatnya menjadi “hadiah yang bijak.” Dan inilah wilayah moral yang terasa semakin langka di era digital.

Budaya “memberi” di media sosial hari ini kerap disertai perangkat produksi: kamera, lighting, narasi editing, dan strategi amplifikasi algoritmik. Fenomena ini sudah lama menjadi perhatian para peneliti media digital.

Crystal Abidin, ahli studi influencer dari Universitas Curtin, dalam Internet Celebrity: Understanding Fame Online (2018), menyebutnya sebagai “performative altruism”—kebaikan yang bukan hanya tindakan moral, tetapi juga presentasi diri dan komoditas visual.

Menurut Abidin, “aksi memberi” dalam ruang digital sering menyatu dengan tujuan: membangun citra kemanusiaan, meningkatkan engagement, memperluas followers, dan pada akhirnya memperoleh monetisasi. Fenomena ini disebut “influencer humanitarianism”—sebuah bentuk kedermawanan yang dikemas sebagai spektakel.

Apabila kita letakkan konsep ini berdampingan dengan The Gift of the Magi, perbedaannya menjadi sangat mencolok. Tidak ada penonton. Tidak ada kamera. Tidak ada upaya memperlihatkan pengorbanan.

Della memotong rambutnya tanpa saksi; Jim menjual jamnya tanpa jeda dramatis. Yang mereka kejar bukan validasi sosial, melainkan kebahagiaan pasangan mereka sendiri. Della berkata, “I had my hair cut off and sold it because I wanted to give you a gift.”

Tidak ada yang lebih transparan dan sederhana dari kesaksian itu.

Mengapa budaya digital begitu haus pada aksi kebaikan yang terlihat? Jawabannya dapat ditemukan dalam teori Social Evaluation Theory dari ahli psikologi sosial Mark Leary (Duke University).

Dalam Self-Presentation: Impression Management and Interpersonal Behavior (1996), Leary menjelaskan bahwa manusia memiliki kebutuhan mendalam untuk dinilai positif oleh orang lain. Media sosial memperkuat dorongan ini, karena setiap tindakan kini dapat diberi “nilai” secara instan berupa likes, views, komentar, dan share.

Dalam kerangka psikologi modern, tindakan “memberi” di ruang digital terkadang mengalami pergeseran motivasi: dari moralitas internal ke pencarian validasi eksternal.

Sosiolog Zygmunt Bauman dalam Liquid Modernity (2000) menyatakan bahwa masyarakat modern hidup dalam dunia “rapuh” yang membuat individu terus-menerus membangun citra agar tidak menghilang dalam arus sosial. Kebaikan yang direkam adalah bagian dari strategi memperkuat keberadaan diri di mata publik.

Dari sini kita melihat kontras kuat: The Gift of the Magi beroperasi dalam dunia stabilitas moral, di mana identitas tidak ditentukan oleh penonton sementara kehidupan digital modern justru bergerak menuju medan di mana identitas harus diperbaharui melalui performativitas.

O. Henry menulis, “There were two possessions of the James Dillingham Youngs in which they both took mighty pride. One was Jim’s gold watch... the other was Della’s hair.”

Keduanya menjual harta paling berharga yang mereka miliki. Pengorbanan itu sangat pribadi dan menyakitkan, namun setara dan simetris. Tidak ada penonton yang menilai, dan tidak ada keuntungan sosial yang diperoleh.

Di era konten digital, pengorbanan seperti ini menjadi jarang. Kebaikan yang direkam sering tidak mengandung rasa kehilangan nyata. Memberi uang dalam bentuk konten mungkin tidak mengubah kualitas hidup pemberi, tetapi sangat mengubah citra digitalnya.

Di sini terjadi apa yang disebut antropolog Marcel Mauss dalam The Gift (1925): tindak pemberian selalu melibatkan hubungan kuasa. Dalam konteks digital modern, relasi kuasa itu bergeser kepada penonton dan algoritma.

Yang menarik: pembaca modern justru merindukan nilai moral seperti yang digambarkan O. Henry—kebaikan yang tidak mengutamakan citra, dan hadiah yang berasal dari kerelaan untuk kehilangan, bukan untuk tampil.

Meskipun ditulis pada 1905, The Gift of the Magi sebenarnya sudah memuat kritik halus terhadap masyarakat konsumtif yang menilai nilai hadiah dari harga barang. Jim dan Della menunjukkan bahwa pemberian paling dalam berasal dari niat, bukan dari nilai ekonominya.

Ketika Jim melihat rambut Della terpotong, ia terkejut, tetapi segera berkata, “Nothing like a haircut could make me love you any less.”

Dialog sederhana ini menegaskan bahwa esensi cinta terletak bukan pada simbol material, tetapi pada perasaan yang mengikat. Di era ketika cinta dan kebaikan sering disubstitusikan oleh gesture visual di media sosial, pesan ini menjadi sangat relevan.

Karena cerpen ini mengingatkan kita bahwa kebaikan paling murni biasanya tidak terlihat. Kita hidup dalam zaman di mana kebaikan perlu direkam untuk dianggap nyata, di mana bantuan perlu dikemas sebagai konten agar dinilai sebagai amal. O. Henry menawarkan antitesis: cinta dan pengorbanan yang justru menghilang dari pandangan publik adalah yang paling tulus.

Literatur klasik ini dapat membantu pembaca modern untuk:

  1. Melihat kembali motif di balik tindakan memberi. Apa yang mendorong kita memberi—cinta, empati, atau performa?

  2. Mengkritisi budaya kebaikan yang dipertontonkan. Apakah kebaikan yang direkam tetap memiliki nilai moral yang sama?

  3. Menemukan kembali nilai kesunyian dalam cinta. Jim dan Della mengajarkan bahwa cinta tidak membutuhkan algoritma.

  4. Mengevaluasi kembali relasi kita dengan benda, simbol, dan citra. Mereka memberi bukan untuk menaikkan status, tetapi untuk memberi kebahagiaan.

Akhirnya, kita bisa melihat bahwa mungkin kita tidak lagi hidup di dunia Jim dan Della, tetapi nilai moral mereka berdua justru semakin penting di era digital.

Di tengah budaya viralisasi kebaikan, kita diingatkan bahwa: pemberian tanpa penonton adalah bentuk kebaikan paling dalam, pengorbanan tanpa kamera adalah cinta yang paling jujur, dan hadiah terbesar adalah niat, bukan harga.

O. Henry tidak sedang menulis tentang rambut dan jam; ia menulis tentang kita—manusia yang terus mengukur, menampilkan, dan menegosiasikan kebaikan. The Gift of the Magi mengajak kita kembali melihat bahwa kebaikan sejati tidak perlu direkam untuk menjadi nyata.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cerpen "To Build a Fire" dan Sastra Ekologi Saat Ini

Laut, Ibu, dan Kehidupan dalam Puisi "Menebalkan Ibu di Kerongkongan" karya Titan Sadewo

Bagaimana "The Tell-Tale Heart” Karya Edgar Allan Poe Dapat Digunakan untuk Meneroka Over-Awareness di Era Hiper-Modern