Postingan

Menampilkan postingan dengan label resensi buku

Banjir sebagai Gejala Bencana dan Bencana itu Sendiri

Gambar
Ekokritik Materialis dan Intertekstualitas Postmodern atas Puisi-Puisi Anugrah Prasetya “Anugrah Datang, Semarang Tenggelam” Kota yang Tenggelam dan Penyair yang Menyaksikan Banjir di kota-kota pesisir seperti Semarang telah bertransformasi dari peristiwa alam menjadi fakta sosial dan ekologis yang permanen. Penurunan muka tanah, kerusakan hutan, reklamasi pesisir, serta ketimpangan tata ruang menjadikan banjir sebagai cara hidup yang dipaksakan, bukan peristiwa yang dapat dihindari. Dalam konteks ini, puisi-puisi Anugrah Prasetya yang terangkum dalam naskah “Anugrah Datang, Semarang Tenggelam” bukan hanya dokumentasi penderitaan ekologis, melainkan tindakan kultural—sebuah cara menandai keterlibatan penyair dalam ruang kota yang sedang “tenggelam” secara fisik dan simbolik. Fenomena ekologis yang berulang di Semarang merepresentasikan apa yang disebut Rob Nixon sebagai slow violence , dan Lawrence Buell sebagai toxic realism . Sementara itu, gaya penulisan Anugrah menunjukkan ci...

Rasa, Ingatan, dan Identitas

  Rasa, Ingatan, dan Identitas Membaca Rempah Rindu Soto Ibu karya Setiyo Bardono melalui Food Studies dan Semiotika Budaya   Oleh: Dedy Tri Riyadi   Pendahuluan Dalam sastra Indonesia kontemporer, muncul kecenderungan menarik yang menempatkan kuliner sebagai medan estetika dan representasi budaya. Salah satu karya yang paling konsisten dalam hal ini ialah Rempah Rindu Soto Ibu (2023) karya Setiyo Bardono. Hampir seluruh puisinya berpusat pada dunia makanan: soto, kopi, tempe, dawet, cabai, nasi uduk, hingga kue rangi. Namun, keistimewaan karya ini tidak terletak pada pilihan temanya semata, melainkan pada cara Bardono menjadikan makanan sebagai bahasa rasa, ingatan, dan identitas. Tiap puisi disertai tahun penulisan (2005–2024), yang memungkinkan pembaca melacak evolusi estetik dan tematik penyair selama hampir dua dekade. Dari Formalin Kundang (2005) hingga Semangkuk Soto Rasa Merdeka (2024), tampak pergeseran dari alegori moral menuju puitika rasa yang...

Sebuah Undangan untuk Merenungkan Kerapuhan Manusia (di) Indonesia

Gambar
Telaah Singkat Kumpulan Cerita Suatu Masa di SuatuTempat   karya Arie F Batubara Suatu Masa di Suatu Tempat adalah kumpulan cerita pendek karya Arie F. Batubara, seorang penulis yang telah menulis sejak 1970-an. Cerpen-cerpen dalam buku ini ditulis pada rentang 1990-an hingga 2000-an, sebuah periode ketika Indonesia berada di ambang pergolakan sosial-politik besar: dari rezim Orde Baru menuju Reformasi. Namun, karya-karya ini baru dibukukan pada Juni 2025, sehingga pembaca kini seakan diajak menyusuri arsip sastra yang lama tersimpan. Hal unik dari buku ini adalah cara ia lahir, menurut apa yang dituliskan lewat pengantar penulis: bukan dari seleksi naskah yang “terbaik”, melainkan dari apa yang berhasil ditemukan penulis di arsip digital pribadinya. Cerita-cerita ini seperti fragmen ingatan yang kemudian disatukan, membentuk mosaik tentang manusia, waktu, dan sejarah. Dilihat dari tema-tema yang ada di dalam cerita-cerita yang ada dalam buku ini, agaknya gagasan besar dar...

IA DINAMAI PEREMPUAN, Penceritaan Ulang Kisah Para Perempuan dalam Alkitab dengan Gaya Berbeda

Gambar
Sebuah Telaah Ringan Kumpulan Puisi Ita Siregar TUHAN sebagai entitas tertinggi dalam agama samawi kerap dipanggil dengan nama sandang maskulin, baik sebagai Bapa, Elohim, atau Eloah. Meskipun ada yang yakin bahwa "Allah" itu kata dengan bentuk feminin. Pandangan bahwa agama samawi bersifat patriarkis ditebalkan dengan banyaknya nabi, imam, rasul, hakim yang hampir seluruhnya laki-laki. Demikian juga garis keluarga juga memandang pada nama laki-laki sebagai kepala rumah tangga, kepala suku, raja, atau pendiri kaum. Mungkin karena inilah, dirasa perlu untuk "membuka kembali" kitab-kitab suci untuk menunjukkan kekeliruan pandangan tersebut. Atau, memang perlu melakukannya untuk mengingatkan akan tokoh-tokoh perempuan yang bertebaran namanya di dalamnya. Maka, muncullah Kumpulan Puisi karya Ita Siregar yang berjudul Ia Dinamai Perempuan yang terbit tahun 2020 oleh penerbit Navpress Indonesia. Mengingat ada 54 (bahkan 55, karena ada dua dalam satu judul puisi) nama pere...