Bagaimana "The Tell-Tale Heart” Karya Edgar Allan Poe Dapat Digunakan untuk Meneroka Over-Awareness di Era Hiper-Modern
Cerpen Poe mengisahkan seorang narator tanpa nama yang bersikeras bahwa dirinya “waras,” namun terobsesi dengan mata seorang lelaki tua yang tinggal bersamanya.
Ia berkata, “I think it was his eye! Yes, it was this! One of his eyes resembled that of a vulture— a pale blue eye, with a film over it.”
Obsesi ini kemudian membawanya pada pembunuhan yang ia yakini sebagai bentuk kepekaan luar biasa: “How, then, am I mad? Hearken! and observe how healthily—how calmly I can tell you the whole story.”
Di sinilah kita melihat bagaimana over-awareness bekerja: bukan sekadar pengamatan, melainkan kesadaran yang terdistorsi, terlalu tajam, terlalu fokus, dan akhirnya memakan diri sendiri.
Dalam psikologi kontemporer, over-awareness sering dikaitkan dengan hypervigilance—kewaspadaan ekstrem yang sering muncul dalam kecemasan dan trauma.
Menurut Barlow (2002) dalam Anxiety and Its Disorders, hypervigilance membuat seseorang “continuously scan the environment for threats—real or imagined—leading to misinterpretation of neutral stimuli.”
Narator Poe adalah gambaran klasik fenomena ini. Mata lelaki tua bukanlah ancaman. Namun bagi narator, mata itu menjadi sinyal bahaya yang berulang-ulang ia interpretasikan secara ekstrem, “Whenever it fell upon me, my blood ran cold.”
Over-awareness membuatnya menafsirkan objek biasa sebagai ancaman eksistensial.
Psikolog klinis Ellen Hendriksen (2018) dalam bukunya How to Be Yourself mengatakan bahwa over-awareness sering membuat seseorang “terperangkap di dalam pikirannya sendiri, seperti berada di ruangan dengan speaker yang terlalu keras.”
Narator Poe hidup dalam “speaker internal” yang memekakkan—sebuah intensifikasi kesadaran yang merusak.
Dalam “The Tell-Tale Heart,” over-awareness tidak hanya muncul pada obsesi terhadap mata. Ia juga hadir pada sensasi tubuh, terutama suara detak jantung lelaki tua. Narator berkata, “It grew louder—louder—louder! … It was the beating of the old man’s heart.”
Padahal lelaki tua sudah mati. Dengan kata lain, suara itu hanya ada di kepala narator, tetapi sensasinya bagai kenyataan. Over-awareness telah mencapai puncak yaitu saat ia mendengar apa yang tidak ada, merasakan apa yang mustahil.
Dalam penelitian tentang psikosomatik, psikolog sains klinis Paul Meehl (1990) menjelaskan bagaimana individu dengan over-awareness dapat mengalami “amplification of internal cues that become indistinguishable from external reality.”
Over-awareness membuat dirinya menjadi musuh paling mematikan bagi dirinya sendiri.
Fenomena over-awareness jauh lebih relevan hari ini dibanding masa Poe. Di era digital, manusia terus dihadapkan pada beberapa hal seperti: informasi tanpa henti, monitoring diri melalui media sosial, perbandingan sosial konstan, kewaspadaan terhadap opini publik, kecemasan moral dan performatif, dan notifikasi yang memicu respons psikologis otomatis.
Ahli sistem syaraf Stephen Porges (2011) dalam The Polyvagal Theory menjelaskan bahwa sistem saraf modern manusia “tidak pernah benar-benar beristirahat di dunia yang penuh stimulasi.” Akibatnya, sangat mudah bagi manusia modern untuk hidup dalam keadaan semi-hypervigilant setiap hari tanpa sadar.
Narator Poe adalah ekstremnya. Namun pola pikirnya selaras dengan kondisi kontemporer ketika orang pada akhirnya menjadi terlalu sadar bagaimana mereka terlihat, terlalu sadar apa yang mungkin dipikirkan orang lain, terlalu sadar setiap kesalahan kecil, terlalu sadar ancaman yang sebenarnya tidak ada, dan terlalu sadar pada kekurangan diri hingga menciptakan realitas semu.
Sosiolog Shoshana Zuboff (2019) dalam The Age of Surveillance Capitalism menyebut zaman ini sebagai era ketika manusia “dipaksa menyadari dirinya sebagai objek data dan objek pandangan”—sebuah bentuk kesadaran yang tidak natural dan dapat merusak.
The Tell-Tale Heart seakan memprediksi hal ini.
Dalam cerpen Poe, narator membangun seluruh kisah berdasarkan “kepekaannya” yang ia yakini sebagai bukti kewarasan. Padahal, pembaca tahu bahwa ia salah menginterpretasikan semuanya. Ia menciptakan narasi palsu berdasarkan persepsi hiper-sadar yang salah arah.
Begitu pula manusia modern.
Riset Daniel Kahneman (2011) dalam Thinking, Fast and Slow menjelaskan bagaimana otak membangun “narrative coherence”—cerita internal untuk menjelaskan realitas, sering kali salah, tetapi terasa benar. Dalam konteks over-awareness, cerita internal ini menjadi semakin meyakinkan karena didorong oleh kecemasan.
Psikolog existensial Rollo May (1950) dalam The Meaning of Anxiety menjelaskan bahwa kecemasan modern sering muncul dari “overconscious self-monitoring,” yang membuat seseorang tidak hidup secara spontan. Ia terlalu memikirkan hal-hal yang seharusnya tidak perlu dipikirkan.
Inilah inti kehancuran dalam “The Tell-Tale Heart.” Narator tidak menikmati hidup, karena ia sibuk mengawasi matanya sendiri, mata orang lain, suara yang tidak ada, kesan yang ingin ia ciptakan, dan bagaimana ia terlihat di mata polisi.
Setiap saat ia hidup dalam tekanan kesadaran yang tidak manusiawi. Ini semua mirip dengan manusia masa kini yang hidup dalam monitor diri terus-menerus di ruang digital.
Cerpen Poe menjadi relevan kembali karena tiga alasan utama, yaitu; ia menggambarkan bahaya kesadaran yang tidak seimbang. Kesadaran adalah anugerah, tetapi bila terlalu intens, ia berubah menjadi penjara internal. Yang kedua adalah bagaimana ia memetakan bagaimana manusia bisa menciptakan ancaman dari dalam dirinya sendiri. Era digital memperbesar fenomena ini.
Yang terakhir adalah bagaimana ia menunjukkan bagaimana kecemasan dapat mengubah persepsi menjadi realitas. Suara jantung dalam cerpen menjadi metafora bagi notifikasi digital yang terus mengganggu ketenangan batin.
Dengan kata lain, The Tell-Tale Heart adalah peringatan bahwa kadang masalah terbesar bukan dunia luar, melainkan bagaimana pikiran mempersepsikannya.
Sebagai penutup, bisa dikatakan bahwa dalam dunia yang semakin dipenuhi tekanan untuk selalu sadar, selalu memikirkan kesan, selalu berhati-hati, dan selalu siap bereaksi, dan “The Tell-Tale Heart” menawarkan cermin yang menakutkan namun perlu.
Over-awareness adalah masalah psikis yang semakin menguat dalam kehidupan modern—baik melalui kecemasan, hiper-vigilance, overthinking, maupun kebutuhan sosial-digital untuk selalu “siaga.”
Narator Poe adalah simbol ekstrem kondisi ini. Ia terlalu sadar sampai kehilangan kendali dirinya, terjebak dalam suara yang ia ciptakan sendiri. Dan seperti manusia modern, ia akhirnya tenggelam oleh pikirannya sendiri.
Over-awareness bukan sekadar gangguan kecil. Ia adalah tragedi eksistensial—dan Poe telah meramalkannya satu setengah abad sebelum kita hidup di era notifikasi, FOMO, dan ketakutan menjadi tidak cukup sempurna.**

Komentar