Banjir sebagai Gejala Bencana dan Bencana itu Sendiri


Ekokritik Materialis dan Intertekstualitas Postmodern atas Puisi-Puisi Anugrah Prasetya “Anugrah Datang, Semarang Tenggelam”


Kota yang Tenggelam dan Penyair yang Menyaksikan

Banjir di kota-kota pesisir seperti Semarang telah bertransformasi dari peristiwa alam menjadi fakta sosial dan ekologis yang permanen. Penurunan muka tanah, kerusakan hutan, reklamasi pesisir, serta ketimpangan tata ruang menjadikan banjir sebagai cara hidup yang dipaksakan, bukan peristiwa yang dapat dihindari.

Dalam konteks ini, puisi-puisi Anugrah Prasetya yang terangkum dalam naskah “Anugrah Datang, Semarang Tenggelam” bukan hanya dokumentasi penderitaan ekologis, melainkan tindakan kultural—sebuah cara menandai keterlibatan penyair dalam ruang kota yang sedang “tenggelam” secara fisik dan simbolik.

Fenomena ekologis yang berulang di Semarang merepresentasikan apa yang disebut Rob Nixon sebagai slow violence, dan Lawrence Buell sebagai toxic realism. Sementara itu, gaya penulisan Anugrah menunjukkan ciri ekokritik materialis, serta strategi intertekstualitas postmodern sebagaimana dikembangkan oleh Linda Hutcheon.

Empat kerangka konseptual di atas adalah cara bagaimana membaca bagaimana puisi-puisi Anugrah tidak sekadar mengisahkan bencana, tetapi juga menunjukkan kesadaran ekologis, politik, dan kultural dari generasi yang hidup di tengah banjir dan ironi pembangunan.

Banjir dan Kekerasan yang Lambat

Rob Nixon dalam Slow Violence and the Environmentalism of the Poor (2011) memperkenalkan istilah slow violence sebagai bentuk kekerasan ekologis yang berlangsung perlahan dan tersembunyi, tetapi menumpuk dan menghancurkan kehidupan masyarakat miskin. Dia menulis:

“By slow violence I mean a violence that occurs gradually and out of sight, a violence of delayed destruction that is dispersed across time and space...” (Nixon, 2011, p. 2)

Dalam konteks Semarang, rob dan banjir adalah bentuk slow violence yang tidak spektakuler seperti gempa atau letusan gunung, namun menghancurkan pelan-pelan: merendam rumah, memindahkan batas hidup, dan melahirkan ketidakpastian abadi.

Nixon menegaskan bahwa kekerasan jenis ini sering tidak tampak dalam media, karena tidak dramatis, sehingga sastra menjadi ruang penting untuk memunculkannya ke kesadaran publik. Itulah yang dilakukan Anugrah: dia menulis dari dalam bencana, bukan dari luar.

Hidup dalam “Toxic Realism”

Lawrence Buell dalam The Future of Environmental Criticism (2005) menamai kesadaran ekologis masa kini sebagai toxic realism, sebuah mode realisme yang menggambarkan dunia beracun sebagai kondisi normal.

“We have entered an era in which the toxic has become the normative condition of daily life... an aesthetic mode that takes environmental hazard and contamination as given rather than exceptional.” (Buell, 2005, p. 35)

Manusia modern hidup berdampingan dengan racun, limbah, dan banjir seolah-olah semua itu bagian dari cuaca.

Puisi Anugrah memperlihatkan realisme toksik itu:

“sedang jadi warga semarang / mesti mahir main air / agar tak tenggelam.”

 

Banjir di sini bukan lagi bencana luar biasa, tetapi kenormalan baru.

Buell menulis bahwa toxic realism menandai “the normalization of hazard” (p. 37)—kesadaran bahwa kita hidup di dunia yang sakit, tetapi tetap berjalan seolah-olah sehat.

Anugrah menulis dari ruang sakit itu, dengan humor getir dan bahasa pamflet, menegaskan bahwa bencana telah menjadi rutinitas.

Ideologi yang Retak dan Banjir sebagai Simptom Politik

Di tangan Anugrah, banjir bukan hanya realitas ekologis, melainkan simptom ideologis dari negara yang gagal menjalankan tanggung jawab ekologinya.

Dalam puisi “Balada Orang-Orang Tenggelam”, ia menulis:

“tak ada nuh, atau kami tak lagi mengenalinya / di antara potret senyum di baliho-baliho.”

Louis Althusser dalam Lenin and Philosophy and Other Essays (1971) menyebut bahwa ideologi bekerja dengan “menyembunyikan kondisi nyata keberadaannya.”

Banjir dalam puisi ini menjadi retakan ideologis: ia membongkar kepalsuan narasi pembangunan yang selalu memuja kemajuan, tapi menenggelamkan warga miskin.

“negara sudah bikin kota / jadi sehebat slogannya — tak usah / sok berpuisi kritik kebijakan pejabat...” (Save Our Semarang)

Ironi dalam puisi ini menjadi pisau ideologis yang membalik fungsi bahasa propaganda menjadi bahasa subversif.

Slogan kota hebat berubah menjadi sindiran pahit tentang kegagalan struktural.

Banjir yang Menulis: Perspektif Ekokritik Materialis

Konsep ekokritik materialis (Iovino & Oppermann, Material Ecocriticism. 2014) menawarkan cara pandang baru: bahwa materi—air, tanah, sampah, tubuh—bukan benda pasif, melainkan agen aktif yang berpartisipasi membentuk makna.

Iovino dan Oppermann menyebut, “Material ecocriticism is the study of how matter—biotic and abiotic—narrates, acts, and participates in the formation of meaning.” (2014, p. 7)

Dalam Anugrah Datang, Semarang Tenggelam, banjir bukan metafora, melainkan aktor material yang menulis sejarah sosial kota.

“pohon-pohon memang habis ditebang, cuma / kayu-kayunya dijual untuk membeli pesiar.”

Air, dalam puisi-puisi ini, berbicara: ia memaksa warga belajar berenang, memindahkan perkampungan, menulis ulang batas kota.

Inilah yang dimaksud dengan speaking matter—materi yang menyimpan trauma dan narasi sendiri.

Dengan demikian, puisi-puisi Anugrah bukan sekadar refleksi ekologis, tetapi dokumen material tentang tubuh kota yang rusak.

Parodi dan Ironi: Intertekstualitas Postmodern

Anugrah menulis dalam gaya postmodern yang memadukan mitos kuno, teknologi, dan budaya populer.

Dalam “Alegori Banjir”, ia menulis:

“kayak nuh, kini elon bikin bahtera / buat selamatkan manusia / ke planet lain.”

Perpaduan antara Nuh dan Elon Musk menunjukkan intertekstualitas parodik.

Linda Hutcheon dalam A Poetics of Postmodernism (1989) menjelaskan: “Postmodern intertextuality is not a nostalgic return; it is an ironic reworking of the past in the context of the present.” (p. 118)

Anugrah mengulang kisah penyelamatan, tetapi dengan jarak kritis (repetition with critical distance).

Dia tidak sedang memuliakan mitos, tetapi membongkar komodifikasi keselamatan dalam budaya teknologi.

Dengan memadukan tokoh religius, selebritas, dan pejabat, penyair menghadirkan kritik atas otoritas kebenaran dan penyelamatan dalam ideologi modern.

Pamflet Digital dan Estetika Sarkasme

Gaya pamflet Anugrah mengingatkan pada W.S. Rendra dan Wiji Thukul, namun ia menulis dengan idiom digital yang baru.

Puisi-puisinya menggunakan bahasa sehari-hari dan humor media sosial:

“oke segitu dulu guys, kalau ramai lanjut part dua ya!”

Humor ini bukan sekadar lelucon, melainkan strategi resistensi terhadap bahasa politik yang beku.

Dalam konteks postmodernisme, Hutcheon menulis bahwa teks postmodern “installs and then subverts the conventions it appears to use” (1989, p. 106).

Anugrah melakukan hal itu: ia memakai gaya populer hanya untuk menyindir absurditas kekuasaan.

Sarkasme menjadi bentuk kesadaran kritis, menolak keseriusan retoris dan menggantinya dengan ironi sebagai bentuk perlawanan.

Kehadiran Penyair secara Kultural

Lebih jauh, puisi-puisi ini dapat dibaca sebagai penanda kehadiran (presence marker) seorang penyair muda di Semarang. Jika – diasumsikan - dalam dekade terakhir, kehidupan sastra di kota ini relatif sunyi dari tema ekologis dan aktivitas lembaga seni, maka – barangkali – inilah suara yang pertama.

Kehadiran Anugrah dengan Anugrah Datang, Semarang Tenggelam merupakan tindakan kultural (cultural act)—membangun ruang dialog baru melalui bahasa puisi.

“memang tak mudah hidup / di kota hebat ini, harus punya skill / supaya terus bertahan.” (Welcome to Semarang)

Larik ini bukan hanya komentar sosial, tetapi juga manifesto eksistensial penyair yang berjuang di tengah masyarakat dan budayanya.

Dalam istilah Pierre Bourdieu (1993), karya sastra adalah bentuk position-taking: pernyataan posisi dalam medan budaya.

Puisi-puisi Anugrah adalah pernyataan itu — suara generasi yang menolak tenggelam bersama kotanya.

Arsip Antroposen dan Kesadaran yang Menyala

Melalui gaya pamflet digital, humor, dan intertekstualitas ironis, Anugrah Prasetya menulis arsip Antroposen Indonesia—kesaksian dari generasi yang hidup di tengah banjir dan sarkasme pembangunan.

Dalam puisinya, banjir bukan lagi simptom menuju bencana, melainkan bencana itu sendiri—bencana ekologis, ideologis, dan kultural.

Puisi-puisi ini memperlihatkan bahwa bahkan di tengah air yang terus naik, bahasa masih bisa menjadi bahtera: bahtera kesadaran, tempat manusia dan materi menulis sejarah bersama.

 

Wanalampah, Oktober 2025.

 

Pustaka

Althusser, Louis. Lenin and Philosophy and Other Essays. Monthly Review Press, 1971.

Baudrillard, Jean. Simulacra and Simulation. University of Michigan Press, 1994.

Bourdieu, Pierre. The Field of Cultural Production: Essays on Art and Literature. Columbia University Press, 1993.

Buell, Lawrence. The Future of Environmental Criticism: Environmental Crisis and Literary Imagination. Blackwell, 2005.

Endraswara, Suwardi. Ekokritik: Kritik Sastra Berwawasan Ekologi. Ombak, 2016.

Glotfelty, Cheryll & Harold Fromm (Eds.). The Ecocriticism Reader: Landmarks in Literary Ecology. University of Georgia Press, 1996.

Hutcheon, Linda. A Poetics of Postmodernism: History, Theory, Fiction. Routledge, 1989.

Iovino, Serenella & Oppermann, Serpil. Material Ecocriticism. Indiana University Press, 2014.

Nixon, Rob. Slow Violence and the Environmentalism of the Poor. Harvard University Press, 2011.

Williams, Raymond. Marxism and Literature. Oxford University Press, 1977.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cerpen "To Build a Fire" dan Sastra Ekologi Saat Ini

Krisis Identitas Manusia Modern dalam Cerpen An Occurrence at Owl Creek Bridge

Bagaimana "The Tell-Tale Heart” Karya Edgar Allan Poe Dapat Digunakan untuk Meneroka Over-Awareness di Era Hiper-Modern