Cerpen "To Build a Fire" dan Sastra Ekologi Saat Ini

 


Dalam sejarah sastra, sangat sedikit kisah yang secara tajam dan telak memotret hubungan manusia dan alam seperti “To Build a Fire” karya Jack London. Ditulis pada tahun 1908, kisah ini tidak pernah kehilangan relevansinya, terutama di abad ke-21 ketika dunia sedang menghadapi krisis iklim, kerusakan ekologis, dan meningkatnya wacana ecocriticism, sebuah pendekatan kritis yang menelaah hubungan timbal balik antara manusia, teks, dan alam.

Jack London tidak menulis cerpen ini sebagai dokumen ilmiah mengenai ekologi, namun intuisi sastranya mampu menangkap persoalan yang kini menjadi inti sastra ekologi: arogansi manusia, ketidakmampuan membaca alam, dan kesalahpahaman mendalam mengenai tempat manusia dalam jejaring ekologis.

Cerpen ini dibuka dengan gambaran ekstrem di mana suhu udara di tempat di mana tokoh utama itu berada mencapai “seventy degrees below zero,” dan tokoh utamanya berjalan melintasi Yukon dengan penuh keyakinan berlebihan.

London menggambarkannya sebagai sosok yang tidak imajinatif, karena ia “lacked imagination and had no keen intelligence.” Kalimat ini penting: bukan karena ia bodoh, tetapi karena ia gagal membaca tanda-tanda alam. Di sinilah kritik ekologis London berakar.

Dalam cerpen, tokoh utama menolak nasihat orang tua di Sulphur Creek yang mengatakan bahwa tak seorang pun boleh bepergian sendirian pada kondisi sedingin itu. Ia mengabaikan pengetahuan ekologis tradisional, sesuatu yang oleh para ahli ekokritik dianggap sebagai sumber krisis lingkungan modern. London menulis begini, “The old-timer had been very serious in laying down the law that no man must travel alone in the Klondike after fifty below.”

Tokoh utama mengabaikan peringatan ini karena ia percaya bahwa kecerdasannya dan kekuatannya cukup untuk mengalahkan alam. Di sinilah cerpen London secara mengejutkan kompatibel dengan pemikiran modern seperti Bill McKibben dalam The End of Nature (1989), yang menulis bahwa krisis lingkungan muncul karena kita “menganggap diri sebagai pusat dari segala sistem.”

Arogansi tokoh dalam cerpen adalah miniatur dari arogansi global terhadap alam: ia tidak menganggap alam sebagai entitas hidup dan berbahaya, melainkan hambatan kecil yang bisa diatasi melalui tekad pribadi.

Sastra ekologi modern menekankan bahwa manusia harus memahami keterbatasannya dalam matriks ekologis yang lebih besar. London sudah menggambarkan hal ini jauh sebelum istilah ecocriticism lahir.

Salah satu kontribusi penting sastra ekologi modern, terutama melalui pemikiran Lawrence Buell (The Environmental Imagination, 1995), adalah gagasan bahwa alam tidak boleh dianggap sekadar “latar” atau “background” dari peristiwa manusia. Alam adalah agen aktif.

Dalam “To Build a Fire,” London secara eksplisit menggambarkan alam sebagai kekuatan yang tidak peduli pada ambisi manusia. Bukan antagonis dalam pengertian moral, tetapi sistem alamiah yang berjalan apa adanya. Dalam cerpen tersebut, London menulis, “The cold of space smote the unprotected tip of the planet, and he was its victim.”

Penggambaran ini sangat dekat dengan apa yang disebut Timothy Morton sebagai hyperobject, yaitu sebuah fenomena ekologis yang begitu besar dan tak terhindarkan sehingga manusia hanya bisa mengalaminya secara parsial. Dingin yang ekstrem bukan sekadar cuaca, tapi ia adalah entitas ekologis yang tak dapat dinegosiasikan. Dalam perspektif Morton, manusia bukan pusat narasi, tetapi bagian kecil dari sistem yang lebih luas.

London menolak romantisasi alam. Tidak ada kehangatan, tidak ada moralitas, tidak ada belas kasih. Hanya alam yang berjalan sesuai hukumnya sendiri.

Dalam cerpen itu, tokoh utama beberapa kali menilai bahwa ia “akan baik-baik saja,” meskipun tanda-tanda alam menunjukkan bahaya besar. Ia percaya bahwa ia bisa membangun api dengan mudah, sampai akhirnya ranting-ranting salju jatuh dan mematikan api yang ia butuhkan untuk bertahan hidup. London menuliskannya dengan, “It was as though he had forgotten that he had just come from wetting himself in the creek.”

Kesalahan-kesalahan kecil yang ia abaikan berubah menjadi bencana besar. Menurut Cheryll Glotfelty, tokoh pendiri ekokritik, inti kajian ekologi dalam sastra adalah analisis mengenai “konsekuensi dari tidak memahami tempat manusia dalam lingkungan fisik.” Tokoh London adalah representasi sempurna dari manusia modern yang tidak memperhitungkan risikonya sendiri.

Fenomena ini juga tercermin dalam kecelakaan modern seperti kebakaran hutan yang disebabkan kelalaian kecil, atau krisis iklim global yang muncul dari akumulasi tindakan industri yang tampak sepele tetapi berakibat besar.

Salah satu adegan paling ekologis dalam cerpen adalah ketika London menggambarkan anjing pendamping tokoh utama. Anjing itu secara naluriah mengetahui bahwa suhu ekstrem tidak cocok untuk perjalanan. Ditulisnya, “The animal was depressed by the tremendous cold. It knew that this was no time for traveling.”

Dari adegan terserbut, terlihat adanya dua lapisan ekologis yaitu anjing yang mewakili pengetahuan ekologis yang intuitif, yang dibentuk oleh seleksi alam, dan  manusia yang mewakili pengetahuan rasional yang sombong, yang ironisnya justru merusak kemampuan membaca alam.

Dalam wacana ekologi modern, ini selaras dengan pandangan David Abram dalam The Spell of the Sensuous (1996): manusia modern telah kehilangan hubungan intim dengan lingkungan. Jack London telah menggambarkan kehilangan itu sejak awal abad ke-20.

Ketika tokoh utama akhirnya menyadari bahwa ia tidak bisa lagi membangun api, London menulis kalimat yang sangat terkenal, “He was without imagination. He was quick and alert in the things of life, but only in the things, and not in the significances.” Ini adalah salah satu pernyataan paling ekologis dalam sastra. Tokoh ini memahami hal-hal, tetapi bukan maknanya. Ia memahami tindakan membangun api, tetapi tidak memahami makna ekologis dari kondisi alam yang ia hadapi.

Menurut Richard Powers, pemenang Pulitzer untuk novel ekologis The Overstory (2018), salah satu krisis terbesar dunia modern adalah “gagalnya manusia melihat bahwa ia bukan pusat dari ekosistem.” London menulis esensi dari gagasan ini lebih dari satu abad sebelumnya.

Cerita pendek “To Build a Fire” berakhir tragis. Tokoh utama akhirnya menyerah, “slipping into unconsciousness,” dan alam melanjutkan perjalanannya, acuh dan dingin. Anjing itu pergi untuk mencari manusia lain yang dapat membuat api, yang menjadi sebuah simbol bahwa kehidupan ekologis akan terus berlanjut tanpa manusia yang gagal menyesuaikan diri.

Dalam konteks modern, cerpen ini dapat dibaca sebagai peringatan ekologis bahwa alam tidak memerlukan manusia, dan tindakan manusia yang ceroboh dapat menyebabkan kehancuran dirinya sendiri.

Menurut saya, cerpen “To Build a Fire” adalah teks penting dalam kajian sastra ekologi modern karena ia menolak romantisme hubungan manusia dan alam. Ia juga memperlihatkan arogansi manusia sebagai bencana ekologis. Di samping itu, ia menekankan bahwa alam adalah agen aktif, bukan latar, menegaskan bahwa kegagalan membaca lingkungan adalah kegagalan eksistensial manusia, dan menggambarkan dunia yang tidak bergantung pada manusia untuk bertahan hidup. Cerpen ini adalah peringatan bahwa alam selalu memberi tanda, tetapi manusia sering gagal membaca maknanya.

Jika kita sedang hidup dalam abad yang ditandai oleh krisis iklim, banjir besar, kebakaran hutan, kepunahan spesies, dan kerusakan ekologis, maka membaca Jack London bukan nostalgia masa lalu—melainkan upaya memahami masa depan.**

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Laut, Ibu, dan Kehidupan dalam Puisi "Menebalkan Ibu di Kerongkongan" karya Titan Sadewo

Bagaimana "The Tell-Tale Heart” Karya Edgar Allan Poe Dapat Digunakan untuk Meneroka Over-Awareness di Era Hiper-Modern