Banjir sebagai Gejala Bencana dan Bencana itu Sendiri
Ekokritik Materialis dan Intertekstualitas Postmodern atas Puisi-Puisi Anugrah Prasetya “Anugrah Datang, Semarang Tenggelam” Kota yang Tenggelam dan Penyair yang Menyaksikan Banjir di kota-kota pesisir seperti Semarang telah bertransformasi dari peristiwa alam menjadi fakta sosial dan ekologis yang permanen. Penurunan muka tanah, kerusakan hutan, reklamasi pesisir, serta ketimpangan tata ruang menjadikan banjir sebagai cara hidup yang dipaksakan, bukan peristiwa yang dapat dihindari. Dalam konteks ini, puisi-puisi Anugrah Prasetya yang terangkum dalam naskah “Anugrah Datang, Semarang Tenggelam” bukan hanya dokumentasi penderitaan ekologis, melainkan tindakan kultural—sebuah cara menandai keterlibatan penyair dalam ruang kota yang sedang “tenggelam” secara fisik dan simbolik. Fenomena ekologis yang berulang di Semarang merepresentasikan apa yang disebut Rob Nixon sebagai slow violence , dan Lawrence Buell sebagai toxic realism . Sementara itu, gaya penulisan Anugrah menunjukkan ci...