Membaca Ulang "The Cask of Amontillado" Dengan Lensa Jurnalisme Kultural dan Etika Publik saat Ada Tumbler Hilang
Peristiwa hilangnya sebuah tumbler senilai Rp300.000 di sebuah kereta Commuterline tampak biasa saja dalam lanskap urban Indonesia. Namun ketika penumpang yang kehilangan tas bekal tersebut membawa kisah ini ke media sosial, gelombang perhatian langsung membesar. Di tengah arus komentar, kemarahan, dan simpati, posisi seorang petugas KAI terancam hanya karena menjadi orang terakhir yang menyerahkan tas itu ke bagian lost and found. Petugas itu akhirnya bersedia mengganti tumbler tersebut agar tidak kehilangan pekerjaan. Peristiwa yang awalnya “sepele” kemudian berubah menjadi drama moral publik—sebuah ritual penghakiman yang berlangsung secara digital.
Fenomena ini menarik bila dibaca melalui kacamata sastra, khususnya cerita pendek Edgar Allan Poe tahun 1846, The Cask of Amontillado. Meski ditulis lebih dari satu abad sebelum adanya internet, cerpen ini memotret sesuatu yang sangat relevan dengan dunia modern: ritual balas dendam, pembingkaian cerita tunggal, dan efek gelembung emosi kolektif.
“The thousand injuries of Fortunato I had borne as I best could; but when he ventured upon insult, I vowed revenge,” tulis Poe. Montresor, naratornya, merasakan bahwa ia telah dipermalukan dan oleh karena itu berhak melakukan pembalasan. Ia lalu menjerumuskan Fortunato ke ruang bawah tanah dengan iming-iming “Amontillado”—sebuah anggur langka—dan membunuhnya perlahan dengan menutupinya di balik tembok.
Dalam dunia digital, Montresor tidak lagi membawa sekop. Ia membawa ponsel.
Dalam kasus tumbler Commuterline, penumpang merasa dirugikan dan seperti Montresor memilih membangun narasi tunggal bahwa jika tas dikembalikan, lalu tumbler hilang, maka ada seseorang yang harus bersalah.
Ketika cerita itu diposting, publik kemudian menjadi Fortunato yang “dipinggirkan”—dikurung dalam labirin mediasi tanpa kesempatan berbicara, sementara Montresor modern mengarahkan arus emosi massa.
Fenomena ini dapat dibaca melalui teori moral outrage digital yang dikemukakan oleh Molly Crockett (Yale University, 2017). Crockett menegaskan bahwa media sosial “lowers the cost of expressing outrage and increases its spread,” sehingga kemarahan menjadi spektakuler dan mudah menjadi mekanisme penghukuman.
Emosi dapat membesar tanpa verifikasi karena pengguna platform merasa bahwa partisipasi mereka adalah bentuk “keadilan”.
Inilah mekanisme balas dendam modern yang selaras dengan logika Montresor: pembalasan dulu, kebenaran belakangan.
Alih-alih bertanya “siapa yang mencuri tumbler?”, jurnalisme kultural melihat peristiwa ini sebagai gejala budaya. Seperti yang dijelaskan oleh John Hartley dalam Popular Reality (1996), jurnalisme kultural tidak semata-mata melaporkan fakta, tetapi memeriksa “kebiasaan, nilai, dan pemaknaan sosial yang bekerja di balik berita”.
Dalam kasus tumbler, ada beberapa lapisan kultural:
a. Kelas dan harapan pelayanan publik
Dalam masyarakat urban, pekerja layanan publik sering menjadi sasaran kemarahan karena dianggap sebagai representasi dari sistem yang lebih besar. Padahal tidak selalu benar. Petugas KAI yang mengembalikan tas justru menjadi pihak yang paling rentan di mana gajinya pas-pasan, posisinya dapat dengan mudah tergeser, tetapi ia menjadi tokoh antagonis dalam narasi digital penumpang.
b. Budaya rekam-dan-sebar
Mirip dengan Montresor yang mempersiapkan balas dendam dengan teliti, masyarakat digital kini merencanakan balas dendam dengan dokumentasi. Ponsel menjadi dinding batu Montresor. Konten menjadi alat yang menjerat, bukan sekadar menceritakan.
c. Hasrat untuk “mengutuk” demi keterlibatan
Menurut Zeynep Tufekci (2015), media sosial membuat orang merasa perlu menandai posisi moral agar terlihat sebagai bagian dari kelompok yang “benar”. Maka wajar jika unggahan tentang tumbler hilang langsung meledak—orang ingin ikut membangun tembok itu bersama Montresor untuk memastikan korban (petugas KAI) benar-benar tak bisa kabur.
Jurnalisme kultural membaca semua ini sebagai ritus keadilan digital yang menggantikan mekanisme hukum dan etika formal.
Jika jurnalisme kultural mengajak kita untuk melihat konteks sosial, maka teori etika publik melengkapi dengan analisis moral tentang bagaimana masyarakat harus menilai tindakan.
Etika publik, seperti dijelaskan Amy Gutmann dalam Democratic Education (1999), menekankan tanggung jawab warga untuk mempertimbangkan dampak tindakan mereka terhadap komunitas luas.
Dalam konteks digital, etika publik merujuk pada kewajiban kita untuk tidak merusak reputasi seseorang tanpa bukti yang jelas, serta tidak menyalahgunakan kekuatan platform untuk tujuan balas dendam personal.
Dalam kasus tumbler, dapat kita lihat bahwa si penumpang menggunakan ruang publik (internet) untuk menyelesaikan persoalan privat, kemudian ada tuduhan yang tidak terbukti menyebabkan individu rentan kehilangan pekerjaan, lalu publik bereaksi tanpa memeriksa sistem lost and found serta prosedur penanganan barang.
Ini persis seperti Montresor yang berkata kepada Fortunato, “You are rich, respected, admired, beloved; you are happy, as once I was.” Dalam narasi Montresor, Fortunato bukan sekadar orang yang menghinanya—ia simbol struktural yang membuat Montresor merasa direndahkan. Maka wajar bila dalam konteks tumbler, petugas KAI bukan hanya petugas: ia simbol dari sistem transportasi, dari negara, dari layanan publik. Akibatnya, ia menjadi target yang sempurna.
Etika publik menuntut kita untuk tidak mempersonalisasikan masalah struktural, tetapi dalam praktiknya media sosial justru memudahkan personalisasi itu terjadi secara masif.
Dalam cerpen Poe, Fortunato dituntun melalui lorong-lorong catacomb gelap yang kian menyempit. Dalam konteks digital, seseorang yang terseret dalam kemarahan publik harus melewati lorong-lorong yang tak kalah sempit, di mana screenshots yang terus menyebar, adanya arus komentar yang tak bisa dikendalikan, begitu pula dengan opini yang bergulir tanpa konteks, di samping adanya rasa takut kehilangan pekerjaan atau reputasi.
Di akhir cerpen, Montresor menutup tembok terakhir sambil berkata, “In pace requiescat!” Namun sebelum itu, ada momen ketika Fortunato mulai menyadari apa yang terjadi.
“For the love of God, Montresor!”
Begitu pula petugas KAI yang membalas tulisan di thread soal hilangnya tumbler tuku itu bahwa ia rela mengganti. Atau pada akhirnya, si penulis thread didampingi suaminya, juga mengunggah permintaan maaf kepada khalayak atas kehebohan soal tumbler yang hilang seharga 300 ribu itu. Pada titik ini, ritual pengurungan digital telah selesai. Petugas KAI tidak benar-benar dipecat, tetapi ia sempat mengalami catacomb versi modern—ketidakberdayaan di dalam sistem representasi sosial yang lebih kuat daripada dirinya. Atau yang kini sedang dialami oleh si pengeluh kesah itu.
Jika Poe menulis cerpennya sekarang, ia mungkin akan memindahkan adegan dari catacomb ke kolom komentar Instagram atau X. Keduanya memiliki karakter yang sama, yaitu gelap, bergaung, dan tempat di mana seseorang bisa “dikubur” secara sosial.
Dalam teori digital shaming, seperti dijelaskan Jon Ronson dalam So You’ve Been Publicly Shamed (2015), penghakiman digital bekerja sangat mirip dengan ritual abad pra-modern: masyarakat mengurung seseorang dalam “panggung publik”, melemparkan hukuman simbolik, dan membiarkan ia menghadapi konsekuensi jangka panjang tanpa ada proses proporsional.
Kasus tumbler Commuterline menjadi contoh bagaimana media sosial dapat bersalin rupa menjadi catacomb. Tindakan memposting cerita kehilangan barang berubah menjadi ritual balas dendam, dan publik serentak menjadi Montresor yang menimpali dengan batu-batu komentar.

Komentar