Dari Jefferson ke Jakarta: Memandang Realitas Indonesia Saat ini dari Cerita Pendek William Faulkner “A Rose for Emily” (1930)
Ketika Faulkner menerbitkan A Rose for Emily pada 30 April 1930 di Forum, Amerika sedang berada dalam masa pergolakan besar. Mereka baru masuk ke suatu masa yang disebut Great Depression, di mana harga saham jatuh, angka pengangguran dan kemiskinan secara drastis bertumbuh, dan ekonomi nyaris runtuh. Sebagian besar masyarakat tidak lagi percaya pada perbankan, mereka melakukan rush money. Di lingkup sosial, terutama di wilayah Selatan, di mana Faulkner menulis, terjadi ketegangan antara kelas borjuis yang gamang akibat terkikisnya nilai-nilai artistokrat berbasis pertanian dengan kelas pekerja yang mulai mengedepankan modernitas berbasis industri.
Pemunculan karakter Emily
Grierson melambangkan nilai-nilai yang dianut oleh kelas borjuis yaitu rasa hormat,
romantisasi, juga rasa belas kasihan. Oleh Faulkner, Emily Grierson digambarkan
sebagai bangsawan tua yang tetap dipuja sebagai simbol martabat lama, yang oleh
“kami” – pandangan penulisnya, dikuliti “kebusukannya” sehingga akhirnya
menjadi sesuatu yang sudah tak relevan.
Untuk menyegarkan
ingatan, berikut sinopsis dari A Rose for Emily:
Emily Grierson meninggal
di sebuah kota bernama Jefferson. kemudian cerita bergerak bolak-balik ke masa
lalu tentang kehidupan Emily yang di bawah kendali ayah yang otoriter yang membuatnya
terisolasi dari dunia luar, lalu hubungan Emily dengan Homer Barron, seorang mandor
dari wilayah Utara, serta bagaimana masyarakat kota mengawasinya dengan
campuran rasa hormat, gosip, dan jarak sosial.
Kematian Emily membuka kisah
tragedi dalam hidupnya, termasuk soal Homer yang menghilang secara misterius. Warga
menemukan mayat Homer yang telah lama membusuk di kamar tertutup di lantai
atas, dengan sehelai rambut abu-abu milik Emily di bantal sebelahnya. Cerita
tentang Emily Grierson adalah sebuah potret kelam tentang penyangkalan sejarah,
pembusukan nilai lama, dan kegagalan kolektif melihat kebenaran.
Dalam cerita pendek karya
Faulkner ini, masa lalu bukan sekadar bayangan, tetapi “sesuatu yang mengendap
dalam tanah, merasuk ke dalam rumah, dan mengubah cara orang menatap waktu.” Kalimat
Faulkner yang terkenal, “The past is never dead. It’s not even past.” bukan
hanya pernyataan metafisik, melainkan diagnosis tentang masyarakat yang hidup
bersama trauma yang tidak pernah dirawat.
Ketika kisah Emily
Grierson dibaca ulang dalam konteks Indonesia 2025 di mana ada wacana untuk menulis
ulang sejarah, ketika sebagian pelaku dan figur politik dengan rekam jejak yang
rumit justru diangkat sebagai pahlawan, maka resonansi cerita Faulkner menjadi
tak terelakkan.
Kita semua sedang dihadapkan
pada satu pertanyaan mendasar: apa yang terjadi pada masyarakat yang takut
membuka pintu masa lalunya sendiri?
Rumah besar Emily yang ditulis
Faulkner dengan istilah “once white” adalah simbol masa lalu yang membatu.
Faulkner menggambarkannya sebagai bangunan yang “menahan usia dengan arogansi,”
seperti monumen yang menolak runtuh meski fondasinya keropos. Ketika warga kota
Jefferson akhirnya memasuki kamar lantai atas dan menemukan mayat Homer Barron
yang membusuk, mereka bukan hanya menyaksikan kejahatan, melainkan hasil dari
penyangkalan yang berlangsung bertahun-tahun.
Walter Benjamin pernah
menulis bahwa sejarah manusia “selalu tertimbun puing demi puing,” dan tugas
kita bukanlah membangun narasi yang mulus, tetapi menatap reruntuhan itu tanpa
menutup mata. Rumah Emily adalah puing semacam itu. Ia merupakan arsip yang tak
diurus, arsip yang membusuk karena tidak pernah diakui.
Indonesia, dalam konteks
tertentu, hidup dalam rumah serupa: sebuah bangunan kenegaraan yang besar,
namun di dalamnya ada ruangan-ruangan gelap yang enggan dibuka—ruangan berisi
kekerasan politik, penghilangan paksa, pembunuhan massal, dan luka-luka sejarah
yang tidak pernah diselesaikan. Menyingkirkan bab-bab kelam dari buku sejarah atau
mengaburkannya dalam narasi resmi tidak membuatnya hilang; ia hanya berubah
bentuk, seperti bau yang merembes pelan dari rumah Emily.
Upaya Mengatur Ingatan
dari Suatu Ketakutan Kolektif
Narator A Rose for Emily
menggunakan kata “kami.” Ini bukan gaya yang netral, tapi ini cara Faulkner
sengaja menciptakan jarak.
“Kami” adalah masyarakat
yang melihat, mencurigai, tetapi tidak bertindak. Mereka tahu ada bau busuk,
namun memilih menyebarkan kapur barus daripada bertanya. Ketakutan mereka,
yaitu ketakutan pada skandal, pada konflik, pada kebenaran, menjadi cara mereka
untuk kemudian berusaha mengatur ingatan.
Paul Ricoeur, dalam
Memory, History, Forgetting, menyebut fenomena semacam ini sebagai “ingatan
yang dimanipulasi oleh ketidakinginan kolektif untuk mengakui kenyataan.”
Ingatan tidak hilang begitu saja; ia dipendam, ditekan, dan dibiarkan menjadi
bayangan panjang di belakang tubuh bangsa.
Indonesia 2025
menunjukkan gejala yang serupa. Kita menyaksikan bagaimana publik sering
memilih diam ketika sejarah dipoles ulang; bagaimana ketakutan turun-temurun
terhadap politik membuat banyak orang menghindari perbincangan tentang luka
bangsa; bagaimana sebagian masyarakat membiarkan narasi resmi berdiri tanpa
dibenturkan dengan kenyataan sejarah. Dalam keheningan itu, “kami” di Indonesia
tidak jauh berbeda dari “kami” di kota Jefferson.
Masyarakat yang Memuja
Masa Lalu
Faulkner menggambarkan
Emily sebagai “sisa aristokrasi lama” yang dipuja bukan karena kebajikannya,
tetapi karena ia mewakili citra masa lalu yang lebih nyaman daripada kenyataan.
“Kami menghormatinya,” tulis narator, “karena ia adalah tradisi, kewajiban, dan
keteguhan.” Tetapi tradisi yang dimaksud bukan tradisi moral, melainkan tradisi
imajinatif: tradisi yang dibangun dari nostalgia atas kejayaan yang sebenarnya
rapuh.
Di Indonesia,
kecenderungan ini muncul dalam bentuk yang lebih halus: tokoh-tokoh yang gagal
membawa perubahan atau bahkan berperan dalam memperburuk sistem justru disulap
menjadi pahlawan. Masa lalu dipulihkan, bukan untuk dihadapi, tetapi untuk
memperkuat legitimasi politik masa kini.
Jacques Derrida menyebut
fenomena semacam ini hauntology: masa lalu yang hadir sebagai hantu,
menuntut pengakuan, tetapi dimanipulasi menjadi alat kekuasaan. Hantu-hantu
sejarah tidak diusir; mereka dipoles, diberi pakaian baru, lalu diarak sebagai
simbol kesatuan.
Emily—yang menyimpan
mayat Homer dan merawatnya seperti memelihara kenangan—adalah alegori dari
bangsa yang memilih merawat ilusi masa lalu ketimbang berhadapan dengan
kenyataan.
Luka yang Tak Pernah
Menjadi Masa Lalu
“Masa lalu tidak pernah
mati,” ujar Faulkner. “Ia bahkan tidak pernah menjadi masa lalu.”
Derrida, Ricoeur,
Benjamin, sepakat dalam satu hal: tanpa pengakuan, masa lalu akan kembali,
bukan sebagai kenangan, tetapi sebagai gangguan. Luka yang tidak dirawat akan
mencari cara untuk muncul kembali.
Indonesia 2025
menunjukkan bentuk-bentuk munculnya gangguan itu: ketegangan wacana sejarah,
polarisasi memori, munculnya kembali stigma-stigma politik yang lama, serta
perdebatan tentang siapa yang layak disebut pahlawan. Semua ini bukan pertanda
kemajuan, melainkan gejala masa lalu yang menuntut untuk diberi tempat.
Dalam Culture and
Imperialism, Edward Said menulis bahwa bangsa yang tidak mampu membaca
sejarahnya sendiri akan selalu “hidup dalam ketegangan antara kenyataan dan
narasi yang dipaksakan.” Ketegangan itulah yang tampak dalam politik ingatan di
Indonesia hari ini.
Dari Jefferson ke Jakarta
Faulkner tidak hanya menulis
tentang kota kecil di Selatan Amerika, namun ia menulis tentang sifat dasar
masyarakat yang enggan berubah.
Ia juga tidak sedang
mengutuk masa lalu, melainkan mengutuk ketakutan untuk menghadapinya.
Karena dua hal itu, maka A
Rose for Emily masih terasa relevan bagi Indonesia di tahun 2025. Dalam
cerita pendek itu terdapat beberapa hal yang bisa direnungkan yaitu:
a.
ternyata, akan jadi sesuatu yang membahayakan
jika menunda pengakuan sejarah.
b.
masyarakat, bisa dimanipulasi oleh
nilai-nilai sehingga mereka dapat terlibat dalam penyangkalan akan sejarah itu
sendiri,
c.
dan ketika itu terjadi, sangat mungkin
jika kemudian ada tokoh yang memiliki masa lalu yang buruk justru dianggap begitu
penting dan monumental
d.
meski demikian, bau busuk tidak hilang
hanya karena pintu dikunci dan kamar-kamar diberi kamper.
Dari kota Jefferson, Faulkner
menggugat bahwa kesunyian bisa menjadi bagian dari “dosa”. Kesunyian atau
mendiamkan segala sesuatu di luar apa yang bukan menjadi permasalahan dari
hidup seseorang bisa menjadi bentuk kolusi yang tidak disadari.
Membuka Pintu yang Paling
Gelap
Pada akhirnya, A Rose
for Emily adalah cerita tentang apa yang terjadi ketika kita tidak berani
membuka pintu yang paling gelap. Ketika masyarakat akhirnya membuka kamar
Emily, mereka menemukan bukan hanya mayat, tetapi masa lalu yang telah dirawat
sebagai keindahan padahal ia adalah luka.
Dalam momen-momen genting
antara adanya upaya memoles sejarah, menghapus sebagian darinya, dan menganggap
bahwa kita di Indonesia ini – selama ini – baik-baik saja, ada baiknya kita membaca
cerita pendek Faulkner yang berani untuk merayakan kejujuran bahwa bangsa tidak
dapat dibangun di atas ingatan yang direkayasa.
Memang, cerita pendek Faulkner
ini tidak menawarkan solusi, tetapi ia memberi kita gambaran bahwa masa depan
adalah sesuatu yang hanya dapat tumbuh di tanah yang telah diakui bekas
lukanya. Jika luka tidak diakui, tanah itu akan tetap rapuh, dan rumah kita
akan menjadi seperti rumah Emily—indah dari jauh, namun sunyi di dalamnya.
Komentar