Samsa dan Nasib Manusia di Hadapan Mesin Ekonomi



Ketika Franz Kafka membuka The Metamorphosis dengan kalimat yang dingin dan langsung — “As Gregor Samsa awoke one morning from uneasy dreams he found himself transformed in his bed into a gigantic insect” — ia menempatkan pembaca pada inti dilema manusia modern: identitasnya diukur dan dibentuk oleh fungsi ekonomi, sehingga ketika fungsi itu hilang, identitas pun lenyap. Gregor tidak menangis pertama-tama karena bentuk barunya; yang menggejolak dalam benaknya adalah bahwa ia akan terlambat bekerja. Sangat jelas: pekerjaan, bukan keberadaan manusia sendiri, menjadi ukuran utama nilai hidupnya.

Kisah singkat Kafka itu adalah alegori yang menyayat—sebuah proyeksi fiksi yang membuat terlihat dengan ekstrim apa yang teori sosial telah lama klaim: kapitalisme mereduksi manusia menjadi alat produksi. Karl Marx merumuskan ini sebagai alienation — keterasingan pekerja dari produk kerja, proses produksi, sesama manusia, dan bahkan dari dirinya sendiri (Marx, Economic and Philosophic Manuscripts, 1844). Gregor adalah manifestasi fiksi dari pekerja terasing: meskipun berdenyut sebagai subjek, ia diperlakukan sebagai fungsi, lalu disingkirkan ketika fungsi itu gagal.

Di zaman neoliberal kini, pola itu tidak saja bertahan — ia berubah wujud namun tetap menyeramkan. Richard Sennett menunjukkan bagaimana pasar fleksibel mengikis kesinambungan kerja dan membuat “karakter” kita terkikis (Sennett, The Corrosion of Character, 1998). Pekerjaan yang semula memberi penghidupan berubah menjadi rangkaian tugas temporal yang menuntut ketersediaan total sambil menghapus jaminan. Orang tidak lagi “bekerja untuk hidup”; mereka hidup untuk memenuhi tuntutan kerja yang tak pernah berhenti. Kondisi ini menghasilkan bentuk kelelahan eksistensial: waktu bebas yang seharusnya untuk “menikmati hidup” dihabiskan untuk memenuhi target, notifikasi, dan meeting.

David Graeber menyasar dimensi moral pekerjaan di era modern dengan istilah bullshit jobs — pekerjaan yang secara subyektif dirasakan tidak berguna namun sulit ditinggalkan karena kebutuhan ekonomi dan struktur organisasi (Graeber, Bullshit Jobs, 2018). Banyak pekerja modern mengaku bahwa pekerjaan mereka tidak memberi makna, hanya tekanan. Dalam narasi Kafka, Gregor hidup sebagai “alat” untuk menafkahi keluarga dan melunasi utang — ketika ia tidak bisa lagi jadi alat, keluarga segera melihatnya sebagai beban. Di dunia nyata, orang tetap bertahan dalam pekerjaan hampa karena ketakutan terhadap ketidakamanan ekonomi; rasa aman materi jadi mata uang identitas.

Kapitalisme juga mengkomodifikasi emosi. Arlie Hochschild pada The Managed Heart (1983) memperkenalkan konsep emotional labor: tuntutan agar pekerja menampilkan emosi tertentu demi produk atau layanan. Di sektor jasa, manusia diminta menjadi “wajah ramah” merek; di media sosial modern, setiap individu diminta memformat kehidupan sebagai konten yang menarik. Hal ini mengaburkan batas antara hidup dan pekerjaan: bahkan ruang privat menjadi “ruang kerja” bila harus mendukung reputasi profesional. Kelelahan bukan hanya fisik; ia adalah kelelahan afektif. Pada saat liburan, pikiran pekerja tetap terganggu oleh email; pada saat ulang tahun, notifikasi kerja tetap berdentang. Gregor yang khawatir akan pekerjaan di pagi metamorfosisnya bukanlah hiperbola—itu prasasti masa kini.

Teknologi memperkeras tekanan ini. Shoshana Zuboff menamakan logika digital korporasi modern sebagai surveillance capitalism: akumulasi data dan ekstraksi nilai dari perilaku manusia (Zuboff, The Age of Surveillance Capitalism, 2019). Bukan hanya jam kerja yang dimonitor; perhatian, preferensi, dan bahkan emosi menjadi sumber nilai. Algoritma mendorong produktivitas, engagement, dan ketersediaan emosional, sehingga manusia terjebak menjadi sumber input yang harus terus-menerus disuplai. Dalam ekosistem ini, menikmati hidup sama dengan kehilangan peluang ekonomi—oleh karena itu “menikmati” diremehkan sebagai aktivitas yang ‘tidak produktif’.

Guy Standing menambahkan istilah precariat untuk menggambarkan kelas pekerja baru yang hidup dalam ketidakpastian gig economy: pekerjaan sementara, pendapatan variabel, tanpa jaminan sosial (Standing, The Precariat, 2011). Ketidakpastian ini menghancurkan kemampuan jangka panjang berpikir dan merencanakan — termasuk merencanakan kebahagiaan, istirahat, atau proyek-proyek hidup yang memberi arti. Gregor, yang bekerja sebagai wakil dagang, adalah ilustrasi awal dari pekerja yang harus selalu “siap”—siap untuk bepergian, siap untuk memenuhi target—sehingga kehidupannya dipinjamkan sepenuhnya pada keperluan ekonomi.

Dilema lain adalah internalisasi logika kapitalis: manusia mulai menilai diri lewat produktivitas. Max Weber menghubungkan etika kerja protestan dengan semangat kapitalisme—kerja sebagai tanda kesalehan dan keberhasilan (Weber, The Protestant Ethic and the Spirit of Capitalism, 1905). Saat ini, narasi itu diperbarui: kerja menjadi ukuran moral, dan ketidaktercapaian ekonomi menjadi sumber malu dan kecemasan eksistensial. Ketika Gregor tak lagi bisa “berfungsi”, bukan hanya ekonomi keluarga yang terguncang; harga dirinya luluh lantak. Ini adalah fenomena psikologis nyata: identitas kita sangat terikat pada pekerjaan sehingga kehilangan pekerjaan bisa memicu depresi, rasa malu, dan isolasi sosial.

Di era yang menyanjung produktivitas, kesempatan untuk menikmati hidup sering dianggap kemewahan self-indulgence, bukannya hak manusia. Kebijakan kerja yang memanjang, budaya ‘always-on’, dan kurangnya dukungan sistemik (mis. cuti berbayar yang memadai, jaminan kesehatan mental) membuat menikmati hidup menjadi tindakan yang bertentangan dengan kelangsungan ekonomi individu. Sennett dan Graeber sama-sama mengingatkan: kapitalisme membutuhkan pekerja yang tersedia, efisien, dan terkendali—bukan manusia yang utuh.

Kritik filosofis juga mengingatkan kita bahwa kehilangan kemampuan menikmati hidup adalah problem etis yang fundamental. Hannah Arendt dalam The Human Condition (1958) membedakan antara labor (kebutuhan biologis), work (produksi benda dunia), dan action (kehidupan bersama yang politis). Arendt khawatir ketika kehidupan manusia direduksi menjadi labor dan work semata, ruang untuk tindakan politis dan kebebasan personal menghilang. Kafka, dengan tragedi Gregor, menunjukkan konsekuensi moral ketika manusia hanya diperlakukan sebagai mesin kerja: ruang untuk kebebasan, cinta, dan spontaneitas hancur.

Solusi? Berbagai saran muncul dari wacana modern: pengakuan atas nilai non-ekonomi (care, seni, relasi), kebijakan redistributif (jaminan pendapatan dasar, cuti yang layak), batasan terhadap eksploitasi teknologi (regulasi surveillance capitalism), serta transformasi budaya organisasi yang memprioritaskan kesejahteraan. David Graeber mendorong kita mempertanyakan kegunaan pekerjaan; Shoshana Zuboff menuntut pembatasan ekstraksi data; Arlie Hochschild menuntut pengakuan atas emotional labor. Semua seruan itu adalah upaya mengembalikan manusia dari posisi alat ke posisi subjek.

Kembali pada Kafka: ketika Gregor akhirnya mati, keluarganya merasa lega dan “seolah-olah sesuatu yang lama menindih mereka telah tercabut” — sebuah akhir yang mengerikan karena menunjukkan betapa rapuhnya kasih yang bersyarat oleh ekonomi. Alegori ini menampar pembaca modern: jika struktur ekonomi terus menjadikan manusia sebagai alat, bukan korban yang dimanja, maka kenikmatan hidup—yang sederhana dan manusiawi—akan terus lari dari jangkauan banyak orang.

Untuk keluar dari lingkaran itu diperlukan perubahan struktural dan budaya. Menikmati hidup bukan soal hedonisme individual semata; ia soal waktu yang aman, ruang privat yang tidak dikomersialisasi, dan pengakuan sosial bahwa nilai manusia melampaui apa yang ia hasilkan. Tanpa itu, manusia tetap akan bangun setiap pagi seperti Gregor: bukan bertanya “siapakah aku?” tetapi “apa yang harus kulakukan agar tetap berguna?”. Dan dalam jawaban yang diserahkan pada mesin pasar itulah kita kehilangan hidup yang seharusnya bisa dinikmati.

Referensi terpilih

  • Marx, K. (1844). Economic and Philosophic Manuscripts.

  • Weber, M. (1905). The Protestant Ethic and the Spirit of Capitalism.

  • Arendt, H. (1958). The Human Condition.

  • Hochschild, A. R. (1983). The Managed Heart: Commercialization of Human Feeling.

  • Sennett, R. (1998). The Corrosion of Character: The Personal Consequences of Work in the New Capitalism.

  • Graeber, D. (2018). Bullshit Jobs: A Theory.

  • Zuboff, S. (2019). The Age of Surveillance Capitalism.

  • Standing, G. (2011). The Precariat: The New Dangerous Class.

  • Kafka, F. (1915). The Metamorphosis

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cerpen "To Build a Fire" dan Sastra Ekologi Saat Ini

Laut, Ibu, dan Kehidupan dalam Puisi "Menebalkan Ibu di Kerongkongan" karya Titan Sadewo

Bagaimana "The Tell-Tale Heart” Karya Edgar Allan Poe Dapat Digunakan untuk Meneroka Over-Awareness di Era Hiper-Modern