Menimbang Orang Baik di Zaman Informasi Gelap
Dalam dunia yang dibanjiri oleh informasi tak terverifikasi, konten buatan mesin, dan politik emosi yang menguasai ruang publik, tampaknya cerpen A Good Man Is Hard to Find (1953) karya Flannery O’Connor justru menjadi semakin relevan, bukan semakin tua. Kisah tragikomik ini—yang pada permukaannya bercerita tentang keluarga yang melakukan perjalanan dan bertemu dengan seorang pembunuh buronan bernama The Misfit—sesungguhnya adalah sebuah meditasi mendalam tentang moralitas palsu, kerapuhan penilaian manusia, dan ketidakmampuan masyarakat membedakan kebenaran dari ilusi. Tema-tema ini justru menguat di abad ke-21, ketika manusia hidup dalam arus informasi yang tak lagi bisa dipercaya, bahkan ketika ia bersumber dari wajah yang “tampak baik”.
Di dalam cerita, sang Nenek adalah sosok yang gemar menampilkan moralitas, tetapi tidak hidup secara moral. Ia memulai cerita dengan keluhan manipulatif: ia tidak ingin pergi ke Florida dan berusaha menakut-nakuti keluarganya dengan berita kriminal, berkata: “I wouldn't take my children in any direction with a criminal like that aloose in it.” Ironisnya, retorika moral yang ia gunakan kemudian justru membawa keluarga itu benar-benar bertemu The Misfit. Sejak awal, O’Connor menempatkan pembaca dalam dunia di mana bahasa moral digunakan untuk kepentingan pribadi, bukan kebenaran—fenomena yang sangat mengingatkan pada apa yang kini disebut para peneliti sebagai performative morality atau moralitas performatif.
Caroline Holley (2020) dalam artikelnya Performative Piety in the Works of Flannery O’Connor menjelaskan bahwa karakter-karakter O’Connor kerap mempraktikkan moralitas sebagai semacam kosmetik sosial. Mereka tampak “baik” bukan karena kebaikan itu nyata, tetapi karena citra itu berguna. Kita tidak jauh dari budaya kontemporer—influencer moral, aktivis digital yang hanya vokal saat ada sorotan, atau orang-orang yang berbicara tentang etika sambil menyebarkan konten yang tidak diverifikasi. Moralitas menjadi sesuatu yang dipamerkan, bukan dihidupi. Dan O’Connor, jauh sebelum era Instagram, telah menangkap fenomena ini dengan tajam.
Dalam dunia post-truth, kebenaran bukan lagi sesuatu yang ditemukan, melainkan dipilih berdasarkan kenyamanan emosional. Kajian Lewandowsky dkk. (2020) dalam The Psychology of Misinformation menunjukkan bagaimana manusia modern percaya pada narasi bukan karena faktanya, tetapi karena narasi tersebut sesuai dengan identitas moralnya. Tepat seperti sang Nenek, yang lebih peduli terlihat elegan ketimbang aman ketika ia memilih gaun, sarung tangan putih, dan topi bermekar ungu hanya karena, katanya, “in case of an accident, anyone seeing her dead on the highway would know she was a lady.” Simbol kesalehan semakin penting daripada realitas moral itu sendiri.
Fenomena ini mencapai puncaknya ketika Nenek mencoba menyelamatkan diri dengan memuji The Misfit, berkata, “I just know you’re a good man.” Kata “good” di sini tidak lahir dari moralitas, melainkan strategi persuasi dangkal—cara bernegosiasi dengan kekerasan melalui pujian palsu. Flannery O’Connor mengolok-olok cara manusia menggunakan kata “baik” sebagai alat retorika, bukan sebagai nilai.
Di sinilah relevansi terhadap banjir informasi terasa paling kuat. Menurut Gordon Pennycook dan David Rand (2021), manusia modern lebih mudah terkena hoaks bukan karena mereka bodoh, tetapi karena mereka malas secara kognitif. Mereka ingin percaya pada sesuatu yang tampak benar, terdengar moral, atau memuaskan ego. Sang Nenek adalah contoh sempurna: ia tidak melakukan refleksi moral apa pun. Ia hanya mengikuti impuls emosionalnya, percaya pada hal-hal yang tampak benar bagi dirinya, bahkan ketika itu mengarah pada kehancuran.
Jika kita membawa cerpen ini ke dalam konteks era AI—ketika deepfake, chatbots, dan konten sintetis dapat dengan mudah meniru suara moral atau wajah kesalehan—kita mulai melihat bagaimana O’Connor menjadi seorang nabi gelap. Florence Vincent (2022) menulis bahwa salah satu ancaman terpenting AI adalah hilangnya kemampuan manusia membedakan antara moralitas autentik dan moralitas imitasi. Dalam dunia seperti ini, “Nenek” adalah setiap pengguna media sosial yang mengira ia sedang berhadapan dengan sesuatu yang benar, sementara sebenarnya ia sedang berinteraksi dengan algoritma yang merayunya, menenteramkannya, atau memanipulasinya.
Menariknya, The Misfit menjadi simbol dari krisis moral modern. Ia adalah sosok yang mengartikulasikan skeptisisme radikal terhadap otoritas, sejarah, dan agama. Ia berkata: “I found out the crime don’t matter. You can do one thing or you can do another, kill a man or take a tire off his car, because sooner or later you’re going to forget what it was you done.” Ini adalah ekspresi nihilisme post-truth: jika ingatan manusia rapuh, jika sejarah bisa direvisi, jika kebenaran dapat diciptakan kembali oleh siapa pun, kebenaran moral kehilangan bobot.
Dalam era digital—ketika informasi dapat diproduksi ulang tanpa dasar realitas, dan ketika deepfake mampu memalsukan peristiwa sejarah—pernyataan The Misfit terdengar seperti kritik atas masyarakat saat ini. Luciano Floridi (2023) menulis bahwa AI menyebabkan crisis of authenticity, di mana pengalaman manusia tak lagi bisa dibedakan dari simulasi. Itulah dunia The Misfit: ia tidak percaya pada hukuman, tidak percaya pada pahala, tidak percaya pada ingatan, dan karenanya merasa bebas melakukan kekerasan. Ketika kebenaran dipandang sebagai ilusi, moralitas pun runtuh.
Momen puncak cerita adalah ketika sang Nenek, dalam detik-detik terakhir hidupnya, menyentuh The Misfit dan berkata, “Why, you’re one of my babies.” Banyak kritikus membacanya sebagai momen grace, saat moralitas akhirnya muncul bukan sebagai performa, tetapi sebagai pengakuan autentik atas kemanusiaan orang lain. Sarah Watkins (2022) menyebutnya sebagai “radical empathy,” momen langka ketika ego runtuh dan manusia membuka diri pada makna moral sejati. Tetapi The Misfit justru mundur dan menembaknya.
Adegan ini bisa dibaca sebagai tragedi moral dunia digital. Kita hidup dalam masyarakat yang dipenuhi sinyal moral palsu, performa etika, dan curahan empati viral yang berubah menjadi kemarahan dalam hitungan jam. Kita jarang bertemu empati sejati. Ketika empati itu muncul, ia sering datang terlambat, atau tidak dipercaya, atau tenggelam oleh kebisingan algoritmik. Dalam ruang publik modern yang dibentuk oleh affective publics (Papacharissi, 2020), emosi kolektif bergerak bagaikan badai—besar, cepat, tetapi dangkal.
Pada akhirnya, The Misfit berkata setelah membunuh sang Nenek: “She would have been a good woman if it had been somebody there to shoot her every minute of her life.” Kalimat ini adalah satire paling kejam dalam seluruh cerita. O’Connor mengatakan bahwa manusia sering hanya menjadi “baik” ketika ia dipaksa oleh ancaman, bukan oleh kesadaran. Dalam dunia hari ini, ancaman itu tidak selalu senjata; bisa berupa viralitas, pembatalan digital, tekanan sosial, atau kecemasan kognitif karena tidak bisa lagi membedakan yang benar dari yang manipulatif.
Cerpen O’Connor, bila dibaca dalam lanskap digital abad ke-21, menunjukkan bahwa manusia modern sering tersesat bukan karena kekurangan informasi, tetapi karena terlalu banyak informasi yang salah. Kita hidup dalam masyarakat yang percaya pada moralitas instan, yang dinyatakan melalui tombol like atau cuitan bernada etis, tetapi tidak mengakar pada tindakan nyata. Kita seperti keluarga dalam cerita: berisik, penuh opini, tetapi tidak benar-benar tahu arah yang dituju.
Dengan demikian, A Good Man Is Hard to Find menjadi bukan sekadar cerita kriminal, tetapi sebuah alegori zaman kita—zaman di mana menjadi orang baik sangat sulit bukan karena dunia kekurangan orang baik, tetapi karena definisi “baik” telah diperdagangkan, dinegosiasikan, diproduksi algoritma, dan dirusak oleh ilusi digital. O’Connor menulis cerpen tentang moralitas palsu pada 1953, tetapi kita baru benar-benar memahaminya hari ini.
Jika dunia digital mengajarkan sesuatu, itu adalah bahwa kebaikan sejati tidak dapat dipalsukan, tidak dapat diproduksi AI, tidak dapat dilike secara massal. Kebaikan hanya muncul ketika manusia benar-benar melihat manusia lain, sebagaimana sang Nenek akhirnya melihat The Misfit—meskipun hanya sesaat sebelum peluru menutup mulutnya. Cerpen ini mengingatkan kita bahwa moralitas adalah praktik kesadaran, bukan sekadar pertunjukan.
Dan di era ketika kebenaran bisa dimanipulasi dalam hitungan detik, mungkin Flannery O’Connor ingin berkata kepada kita: berhati-hatilah dengan apa yang terlihat “baik”. Karena, seperti yang telah ia peringatkan lewat mulut The Misfit, “There’s no pleasure but meanness.” Dunia digital yang penuh sensasi, hoaks, dan manipulasi mungkin sedang membuktikan bahwa O’Connor benar—bahwa tanpa etika reflektif, manusia bisa menjadi makhluk yang, seperti The Misfit, kehilangan arah moral, tersesat di jalan raya informasi yang panjang, dan tidak sadar bahwa mereka sedang menuju tragedi yang mereka ciptakan sendiri.
.jpg)
Komentar