Perihal Kekecewaan, dari "Araby" sampai Abad Digital


Sejak dimuat dalam Dubliners (1914), “Araby” karya James Joyce terus dibaca sebagai kisah tentang cinta masa remaja dan pahitnya kehilangan ilusi. Namun hari ini, lebih dari satu abad setelah penulisannya, cerita pendek itu menemukan kehidupan baru ketika dibaca melalui kacamata psikologi digital, studi budaya internet, dan kritik sastra kontemporer. Dunia yang dialami sang narator—dunia fantasi, idealisasi, dan harapan yang runtuh—secara mengejutkan memiliki struktur emosional yang hampir identik dengan pengalaman manusia modern yang hidup di tengah layar, algoritma, dan representasi diri yang terpolarisasi oleh media sosial.

Dalam “Araby”, sang tokoh yang tanpa nama menaruh seluruh emosinya pada figur perempuan bernama Mangan’s sister. Ia tidak mengenalnya dengan baik, bahkan hampir tidak pernah bercakap panjang dengannya; namun ia menanamkan hasrat, makna, dan tujuan hidup pada sosok itu. “Her name sprang to my lips at moments in strange prayers,” kata narator dalam salah satu bagian paling terkenal dari cerita tersebut—suatu pengakuan bahwa ia telah menempatkan si gadis dalam ranah sakral, jauh di atas realitas sehari-hari. Dari gerak kecil rambutnya hingga cahaya yang jatuh di dinding ketika ia melintas, semuanya menjadi titik tumpu bagi narator untuk menciptakan dunia simbolik yang ia butuhkan.

Fenomena ini paralel dengan apa yang dijelaskan Sherry Turkle (MIT) dalam Alone Together (2011) saat membahas bagaimana teknologi menciptakan “ilusi relasi”—perasaan dekat tanpa kedekatan nyata. Dalam media sosial, seseorang dapat membangun obsesi pada gambar, unggahan, atau narasi yang diciptakan orang lain, meskipun hubungan itu tidak pernah benar-benar terbentuk. Narator Joyce telah mengalami hal yang serupa jauh sebelum dunia mengenal internet: ia membangun relasi parasosial yang sepenuhnya hidup dalam imajinasi. Turkle menyebut bahwa teknologi memperkuat kecenderungan manusia untuk menambal kesepian dengan proyeksi fantasi; “Araby” menunjukkan kecenderungan itu secara psikologis murni, bahkan tanpa teknologi.

Hal lain yang membuat “Araby” relevan adalah bagaimana sang narator membangun ekspektasi secara berlebihan terhadap sesuatu yang tidak pernah menjanjikan pemenuhan. Dalam hal ini, bazar Araby menjadi simbol harapan modern: ruang asing yang penuh cahaya, eksotisme, dan janji akan sesuatu yang luar biasa. Ketika Mangan’s sister berkata bahwa ia tidak bisa pergi ke Araby, dan sang narator berjanji akan membawa pulang sesuatu untuknya, misi itu tiba-tiba berubah menjadi panggilan takdir. Ia menafsirkan keinginan gadis itu sebagai peneguhan terhadap perasaannya, padahal dalam realitas, itu hanya percakapan ringan yang netral. Namun demikian, harapan telah terlanjur tumbuh, menebal, dan memadat di benak narator.

Fenomena harapan yang dibangun dari narasi kecil ini sangat mirip dengan apa yang diteliti Jean Twenge dalam iGen (2017). Twenge menemukan bahwa media sosial mendorong remaja menciptakan ekspektasi yang cepat, instan, dan emosional terhadap banyak hal: pertemanan, cinta, validasi sosial, dan kebahagiaan. Ekspektasi yang tumbuh di ruang digital seringkali tidak memiliki dasar konkret—sebagaimana ekspektasi narator Joyce tidak benar-benar memiliki landasan hubungan yang nyata. Twenge juga menunjukkan bahwa generasi digital mengalami kekecewaan yang lebih cepat dan lebih intens, karena ritme emosi mereka dibentuk oleh dunia yang memberikan reward seketika. Ketika reward itu tidak datang, kekecewaan menjadi lebih tajam.

Joyce memahami mekanisme ini dengan kejelian psikologis yang menakjubkan. Ketika akhirnya narator tiba di Araby, yang ia temukan bukanlah dunia gemerlap yang ia impikan. Bazar itu gelap, kios-kios sudah hampir tutup, dan penjaga toko berbicara dingin. Tidak ada eksotisme, tidak ada keajaiban, tidak ada panggilan romantik dari nasib. Yang tersisa adalah ruangan kosong yang memperlihatkan realitas yang selama ini ia abaikan. Pada saat itulah Joyce memberikan salah satu ending paling terkenal dalam sejarah cerpen: “my eyes burned with anguish and anger” ketika ia melihat dirinya sebagai “a creature driven and derided by vanity.”

Kalimat ini menggambarkan dengan jernih apa yang oleh para psikolog digital disebut sebagai post-expectation crash—runtuhnya dunia fantasi ketika bertemu kenyataan yang tidak sesuai. Dalam konteks modern, ini terjadi ketika seseorang membangun harapan terhadap persona daring seseorang yang tidak pernah benar-benar membalas; ketika seseorang berharap bahwa kehidupan orang lain yang tampak sempurna di Instagram dapat menjadi acuan nyata; atau ketika seseorang mengidealkan percakapan singkat sebagai tanda ketertarikan. Narator Joyce mengalami bentuk awal dari fenomena yang kini terjadi setiap hari dalam kehidupan digital.

Kritikus sastra Irlandia Declan Kiberd, dalam Inventing Ireland (1995), membaca “Araby” sebagai alegori harapan modern—sebuah kisah tentang kegagalan imajinatif yang tak terhindarkan ketika seseorang bertumbuh. Kiberd menunjukkan bahwa Joyce menggambarkan masyarakat Dublin yang stagnan dan terjebak dalam rutinitas, sehingga anak-anak mudanya mencari makna melalui fantasi. Dunia digital hari ini menciptakan kondisi psikologis yang serupa: seseorang sering merasa hidupnya monoton dan kurang berarti, sehingga ia mencari tujuan melalui dunia virtual yang penuh simbol dan janji visual. Di era algoritma, seperti halnya Dublin yang suram, kita membangun dunia imajinatif sebagai pelarian.

Lebih jauh lagi, Jessica Pressman dalam Digital Modernism (2014) menekankan bahwa keinginan (desire) dalam era digital tidak lagi lahir dari pengalaman langsung, melainkan dari representasi. “Araby” memberi ilustrasi klasik mengenai hal itu: sang narator tidak mencintai Mangan’s sister sebagai manusia dengan kompleksitas batin, melainkan sebagai representasi—sebuah layar kosong tempat ia memproyeksikan fantasi dan mimpinya. Inilah yang disebut Pressman sebagai “economy of desire”—keinginan yang dibentuk oleh simbol dan narasi, bukan oleh hubungan nyata. Fenomena ini kini sangat jelas terlihat dalam budaya digital, ketika seseorang jatuh cinta pada citra ideal yang dibuat melalui foto, unggahan, dan algoritma.

Hubungan antara teori Pressman dan “Araby” sangat presisi secara fenomenologis: keduanya menunjukkan mekanisme proyeksi hasrat yang sama. Joyce memotret seorang anak lelaki yang menanamkan harapan berlebihan pada sesuatu yang samar; dunia digital memotret jutaan orang yang melakukan hal serupa setiap hari. Kesamaan struktur psikologis ini membuat “Araby” bukan hanya relevan, tetapi juga seolah menjadi naskah arketipal bagi pengalaman emosional di era digital.

Pada akhirnya, apa yang membuat “Araby” penting dibaca sekarang bukanlah kisah cinta remajanya, melainkan pencerahan pahit yang dialami sang narator. Joyce tidak menawarkan moral, tetapi memberikan momen keinsafan—sebuah penglihatan mendalam tentang bagaimana manusia membangun dunia fantasi dari serpihan kenyataan dan bagaimana dunia itu hancur oleh cahaya realitas yang sederhana. Dalam dunia digital, kita berulang kali mengalami momen serupa: ketika pesan tidak dibalas, ketika ekspektasi runtuh, ketika idealisasi tidak sesuai dengan kenyataan fisik, atau ketika kita melihat bahwa kehidupan orang lain tidak seindah yang mereka tampilkan.

“Araby” menunjukkan bahwa kekecewaan bukanlah kegagalan, tetapi peristiwa pembelajaran. Dalam kekecewaan itulah seseorang menemukan kedewasaan yang sesungguhnya. Dan dalam zaman digital yang penuh fantasi visual serta narasi ideal, kedewasaan emosional menjadi barang langka. Joyce, melalui cerita pendek ini, seakan mengingatkan bahwa di balik layar-layar yang mempesona itu, selalu ada ruangan gelap di mana manusia harus berhadapan dengan dirinya sendiri.

Itulah sebabnya “Araby” tetap perlu dibaca pada abad ke-21: karena ia tidak hanya menceritakan seorang anak yang kehilangan ilusi, tetapi juga menggambarkan bagaimana manusia modern membangun, memuja, dan akhirnya harus meninggalkan dunia fantasi yang mereka ciptakan sendiri. Dalam era digital, kita semua adalah anak yang berlari menuju Araby. Dan pada suatu titik, kita semua harus berdiri di dalam bazar gelap itu dan melihat diri kita apa adanya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cerpen "To Build a Fire" dan Sastra Ekologi Saat Ini

Laut, Ibu, dan Kehidupan dalam Puisi "Menebalkan Ibu di Kerongkongan" karya Titan Sadewo

Bagaimana "The Tell-Tale Heart” Karya Edgar Allan Poe Dapat Digunakan untuk Meneroka Over-Awareness di Era Hiper-Modern