Postingan

Menampilkan postingan dari November, 2025

The Most Dangerous Game, Tentang Manusia sebagai Pelaku dan Korban dari Praktek Kekuasaan

Gambar
Pada tahun 1924, jauh sebelum istilah privilege , algoritma , atau komodifikasi manusia digital memasuki kosakata publik, Richard Connell sudah menulis salah satu alegori kekuasaan paling gelap dalam sastra modern: The Most Dangerous Game . Cerita ini tampak seperti kisah petualangan yang memindahkan pembaca ke pulau terpencil, tetapi hari ini ia bekerja seperti cermin yang memantulkan cara manusia diburu, dinilai, dan diposisikan dalam hierarki kekuasaan berbasis kelas maupun digital. Ketika Rainsford terdampar di pulau milik Jenderal Zaroff, ia mendapati bahwa perburuan di pulau itu tidak lagi berupa hewan, tetapi manusia. Zaroff berkata dengan tenang: “I hunt the scum of the earth—sailors from tramp ships… It gives me pleasure.” Dalam kalimat singkat ini, Connell memadatkan seluruh struktur kekuasaan modern: mereka yang memiliki hak istimewa menggunakan tubuh dan kehidupan yang dianggap “rendahan” sebagai objek hiburan, eksperimen, atau komoditas. Zaroff adalah representasi palin...

Membaca Ulang "The Cask of Amontillado" Dengan Lensa Jurnalisme Kultural dan Etika Publik saat Ada Tumbler Hilang

Gambar
Peristiwa hilangnya sebuah tumbler senilai Rp300.000 di sebuah kereta Commuterline tampak biasa saja dalam lanskap urban Indonesia. Namun ketika penumpang yang kehilangan tas bekal tersebut membawa kisah ini ke media sosial, gelombang perhatian langsung membesar. Di tengah arus komentar, kemarahan, dan simpati, posisi seorang petugas KAI terancam hanya karena menjadi orang terakhir yang menyerahkan tas itu ke bagian lost and found . Petugas itu akhirnya bersedia mengganti tumbler tersebut agar tidak kehilangan pekerjaan. Peristiwa yang awalnya “sepele” kemudian berubah menjadi drama moral publik—sebuah ritual penghakiman yang berlangsung secara digital. Fenomena ini menarik bila dibaca melalui kacamata sastra, khususnya cerita pendek Edgar Allan Poe tahun 1846, The Cask of Amontillado . Meski ditulis lebih dari satu abad sebelum adanya internet, cerpen ini memotret sesuatu yang sangat relevan dengan dunia modern: ritual balas dendam, pembingkaian cerita tunggal, dan efek gelembung emo...

Cerpen "To Build a Fire" dan Sastra Ekologi Saat Ini

Gambar
  Dalam sejarah sastra, sangat sedikit kisah yang secara tajam dan telak memotret hubungan manusia dan alam seperti “To Build a Fire” karya Jack London. Ditulis pada tahun 1908, kisah ini tidak pernah kehilangan relevansinya, terutama di abad ke-21 ketika dunia sedang menghadapi krisis iklim, kerusakan ekologis, dan meningkatnya wacana ecocriticism, sebuah  pendekatan kritis yang menelaah hubungan timbal balik antara manusia, teks, dan alam. Jack London tidak menulis cerpen ini sebagai dokumen ilmiah mengenai ekologi, namun intuisi sastranya mampu menangkap persoalan yang kini menjadi inti sastra ekologi: arogansi manusia, ketidakmampuan membaca alam, dan kesalahpahaman mendalam mengenai tempat manusia dalam jejaring ekologis. Cerpen ini dibuka dengan gambaran ekstrem di mana suhu udara di tempat di mana tokoh utama itu berada mencapai “seventy degrees below zero,” dan tokoh utamanya berjalan melintasi Yukon dengan penuh keyakinan berlebihan. London menggambarkannya sebagai s...

Krisis Identitas Manusia Modern dalam Cerpen An Occurrence at Owl Creek Bridge

Gambar
Dalam cerpen klasik “An Occurrence at Owl Creek Bridge” (1890), Ambrose Bierce menghadirkan kisah yang tampak sederhana: seorang laki-laki bernama Peyton Farquhar digantung oleh pihak militer.  Namun sebelum kematiannya, dalam sepersekian detik yang terakhir, pikirannya menciptakan sebuah fantasi pelarian dramatis: tali terputus, ia terjun ke sungai, berenang sejauh-jauhnya, melarikan diri melalui hutan, dan pulang ke rumah untuk memeluk istrinya. Semua itu ternyata hanyalah konstruksi mental. Pada akhir cerita, Bierce menuliskan kalimat penutup yang sangat terkenal:  “Peyton Farquhar was dead; his body, with a broken neck, swung gently from side to side beneath the timbers of the Owl Creek bridge.” Kisah ini tampak tragis, tetapi juga psikologis. Farquhar mati bukan hanya secara fisik—ia mati dengan kepala penuh fantasi tentang dirinya sebagai pahlawan yang berhasil pulang. Di sini, Bierce seakan meramalkan fenomena yang sangat nyata di abad ke-21: manusia yang menciptakan i...

Fantasi di Great Depression atau Slow Living in this Economy?

Gambar
Ketika James Thurber menerbitkan “The Secret Life of Walter Mitty” pada tahun 1939, dunia sedang bergelut dengan sisa dampak Depresi Besar dan ancaman perang global. Namun yang mengejutkan adalah bagaimana sosok Walter Mitty—pria biasa yang hidup lebih nyata di dalam fantasinya daripada di dunia nyata—tampak begitu relevan di tengah krisis ekonomi modern, burnout , dan munculnya gerakan slow living . Seseorang yang dulu dianggap bahan humor kini lebih mirip gambaran psiko-sosial manusia urban hari ini. Mitty menjalani hari-hari yang tampak sederhana: mengantar istrinya ke salon, pergi ke toko, berjalan sendirian di kota kecil. Tetapi pikirannya bergerak cepat, melompat dari satu fantasi ke fantasi lain, menciptakan dunia di mana ia kuat, penting, dan memiliki kendali. Dalam salah satu adegan paling terkenal, Mitty membayangkan dirinya sebagai komandan pesawat yang gagah,  We’re going through! The Commander’s voice was like thin ice breaking.” Kontras ini sangat tajam. Dalam duni...

Bagaimana "The Tell-Tale Heart” Karya Edgar Allan Poe Dapat Digunakan untuk Meneroka Over-Awareness di Era Hiper-Modern

Gambar
Pada 1843 Edgar Allan Poe menerbitkan salah satu cerpen paling terkenal dan paling sering dianalisis dalam sejarah sastra, yaitu  “The Tell-Tale Heart.” Kendati lahir dari tradisi gotik, kisah ini tetap memiliki resonansi mendalam dengan kehidupan manusia modern—bahkan semakin relevan di era ketika orang hidup dalam tekanan kesadaran berlebih, hiper-analisis, dan kegelisahan yang tanpa henti. Konsep ini disebut oleh sejumlah psikolog kontemporer sebagai over-awareness , yaitu kondisi ketika seseorang terlalu menyadari, memperhatikan, atau menganalisis pikiran, sensasi, dan tindakannya sendiri hingga menjadi beban psikologis. Cerpen Poe mengisahkan seorang narator tanpa nama yang bersikeras bahwa dirinya “waras,” namun terobsesi dengan mata seorang lelaki tua yang tinggal bersamanya. Ia berkata, “I think it was his eye! Yes, it was this! One of his eyes resembled that of a vulture— a pale blue eye, with a film over it.” Obsesi ini kemudian membawanya pada pembunuhan yang ia yakini ...

The Gift of the Magi untuk Menyoal Pemberian dan Keikhlasan di Era Kebaikan yang Direkam

Gambar
Di tengah banjir konten “kebaikan yang direkam”—orang memberikan uang kepada pengemis, memborong dagangan pedagang kecil, atau membuat kejutan hadiah mewah sambil direkam kamera beresolusi tinggi— The Gift of the Magi (1905) karya O. Henry kembali terasa relevan. Cerita pendek klasik ini, yang tampak sederhana namun sarat muatan moral, menghadirkan sebuah potret kebaikan yang intim, sunyi, dan penuh pengorbanan, yang kontras dengan budaya digital masa kini yang mengubah “memberi” menjadi komoditas visual untuk konsumsi publik. O. Henry menggambarkan pasangan muda, Jim dan Della, yang hidup dalam kemiskinan tetapi saling mencintai. Della menjual rambutnya—satu-satunya aset yang ia banggakan—demi membeli rantai untuk jam saku milik Jim. Namun Jim ternyata telah menjual jam itu untuk membeli sisir mahal bagi rambut Della. Ironi yang lembut sekaligus menyentuh itu mengejawantahkan inti moral cerita: pengorbanan tulus lebih berharga daripada objek hadiah itu sendiri . O. Henry menutup ki...

The Lottery dan Demokrasi Mayoritas

Gambar
Shirley Jackson menulis “The Lottery” pada tahun 1948 sebagai sebuah alegori gelap tentang kekerasan ritual, tradisi buta, dan kepatuhan sosial. Di sebuah desa kecil yang tampak biasa, penduduk berkumpul setiap tahun untuk melakukan sebuah “lotere” mengerikan — bukan untuk hadiah, melainkan untuk mengorbankan seseorang sebagai bagian dari tradisi. Dengan santai Jackson menuliskan, “Some places have already quit lotteries,” menegaskan bahwa warga tahu “lotere” itu tidak lazim, tetapi tetap mempertahankannya karena “that's the way it has always been.” Pada zaman sekarang, di mana demokrasi populer dan approval rating pemimpin dijadikan ukuran legitimasi rezim, The Lottery muncul kembali sebagai cermin kritis: apakah mayoritas suara benar-benar berarti keadilan dan moralitas, atau bisa menjadi alat penindasan dan legitimasi kekuasaan? Jackson, dengan kisah sederhana namun brutal, memperingatkan kita tentang risiko mayoritarianisme yang tidak sadar — bahwa mayoritas yang mendukung b...

The Necklace, Pansos, dan Validasi Sosial di Era Digital

Gambar
Dalam masyarakat digital abad ke-21, di mana hidup seolah berjalan di bawah sorotan kamera yang tidak pernah padam, manusia modern menjalani ritual yang sama dengan Mathilde Loisel dalam The Necklace (1884). Guy de Maupassant, tanpa pernah mengenal algoritma atau budaya viral, seakan telah menulis sebuah naskah psikologis tentang pansos — panjat sosial — yang kini begitu akrab dalam jagat media sosial. Dorongan untuk terlihat mapan, sukses, glamor, dan diinginkan oleh publik bukanlah fenomena baru. Maupassant hanya menyingkap kenyataan paling purba dalam diri manusia: hasrat untuk dikagumi , bahkan bila itu berarti meminjam kemewahan yang bukan milik sendiri. Mathilde Loisel adalah prototipe manusia digital modern. Ia merasa hidupnya biasa saja, dan kebiasaannya membandingkan diri dengan kelas sosial yang lebih tinggi membuatnya terjerembap dalam rasa malu terhadap kenyataan hidupnya. Maupassant menuliskan dengan gamblang: “She suffered endlessly, feeling herself born for every deli...

Menimbang Orang Baik di Zaman Informasi Gelap

Gambar
  Dalam dunia yang dibanjiri oleh informasi tak terverifikasi, konten buatan mesin, dan politik emosi yang menguasai ruang publik, tampaknya cerpen A Good Man Is Hard to Find (1953) karya Flannery O’Connor justru menjadi semakin relevan, bukan semakin tua. Kisah tragikomik ini—yang pada permukaannya bercerita tentang keluarga yang melakukan perjalanan dan bertemu dengan seorang pembunuh buronan bernama The Misfit—sesungguhnya adalah sebuah meditasi mendalam tentang moralitas palsu, kerapuhan penilaian manusia, dan ketidakmampuan masyarakat membedakan kebenaran dari ilusi. Tema-tema ini justru menguat di abad ke-21, ketika manusia hidup dalam arus informasi yang tak lagi bisa dipercaya, bahkan ketika ia bersumber dari wajah yang “tampak baik”. Di dalam cerita, sang Nenek adalah sosok yang gemar menampilkan moralitas, tetapi tidak hidup secara moral. Ia memulai cerita dengan keluhan manipulatif: ia tidak ingin pergi ke Florida dan berusaha menakut-nakuti keluarganya dengan berita k...