Telaah Puisi Setia Naka Andrian "Burung-Burung" Menunjukkan Harapan di Atas Ketidakpastian Hidup
Puisi "Burung-Burung" karya Setia Naka Andrian, yang didedikasikan untuk Iman Budhi Santosa, menawarkan refleksi mendalam tentang kehidupan yang penuh ketidakpastian dan kerusakan, namun tetap ada daya hidup dan harapan yang bertahan dalam bentuk simbolik burung-burung. Melalui penggunaan simbol burung, penyair menggambarkan pergulatan manusia dengan alam, kebaikan, kejahatan, dan perjuangan melawan tantangan kehidupan modern. Dengan gaya bahasa yang kontemplatif dan puitis, puisi ini menyampaikan pesan yang kompleks namun dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Burung-Burung Sebagai Simbol Ketangguhan
Burung-burung dalam puisi ini menjadi pusat simbolisme yang kaya. Mereka digambarkan sebagai entitas yang tetap bergerak, meski dunia di sekitarnya penuh dengan kelelahan dan kehancuran. “burung-burung menyambar / tubuh-tubuh lelah, / atap-atap rumah” (larik 1-3). Burung-burung di sini melambangkan kekuatan yang terus hidup, meski di tengah kelelahan fisik dan mental. Mereka tetap melanjutkan gerakan mereka meskipun segala sesuatu di bumi mengalami kehancuran dan keputusasaan, seperti atap rumah yang melambangkan perlindungan dan ketahanan yang mulai runtuh.
Kehancuran yang ditimbulkan oleh alam dan kehidupan ini semakin diperjelas dengan citra “tanaman gagal berbiak / di pekarangan / musim panen dibawa lari / tikus dan hama” (larik 4-7). Tanaman yang gagal tumbuh dan hasil panen yang dirampas oleh tikus dan hama menegaskan ketidakpastian dan ketidakadilan yang ada dalam kehidupan manusia. Di tengah segala kerusakan ini, burung-burung tetap terbang—mereka mewakili daya hidup yang terus-menerus bergerak, meskipun kondisi di bumi tampak suram dan penuh tantangan.
Perjuangan Kebaikan yang Tumbang
Puisi ini juga menghadirkan refleksi tentang kebaikan yang sering kali tersingkir dalam kekacauan dunia. Dalam larik “dan apa saja / yang kerap berpusingan / menjadi kebaikan-kebaikan / yang tumbang sembarangan” (larik 8-11), penyair menggambarkan bagaimana kebaikan, yang seharusnya menjadi poros kehidupan, sering kali tersingkir secara sembarangan. Kebaikan yang ‘tumbang sembarangan’ mengindikasikan bahwa dalam pergulatan hidup, kebaikan bukanlah sesuatu yang selalu dihargai atau dipertahankan. Ada kesan bahwa kehidupan modern—yang diwakili oleh simbol-simbol kehancuran seperti tikus, hama, dan tubuh lelah—membuat kebaikan sulit untuk bertahan.
Namun, burung-burung yang “menanak nasi / di ketinggian” (larik 12-13) membawa harapan. Nasi, sebagai simbol dari kehidupan dan keberlanjutan, dipersiapkan di “ketinggian,” yang bisa diartikan sebagai tempat yang lebih tinggi atau lebih spiritual. Ini menunjukkan bahwa meskipun kebaikan sering tumbang di bumi, ada dimensi lain—dimensi spiritual atau batiniah—di mana kehidupan terus berlangsung dan terjaga. Dalam udara yang menghubungkan penyair dengan “surga terakhir / di pikiranmu” (larik 14-15), burung-burung menjadi penghubung antara dunia yang rapuh dan kehancuran dengan harapan akan tempat yang lebih damai dan spiritual.
Burung dan Realitas Modern
Selanjutnya, burung-burung dalam puisi ini juga terhubung dengan realitas dunia modern yang penuh konflik dan ketidakadilan. Larik “burung-burung menggambar / kabel listrik yang ditanam / di kaki para pedagang senjata” (larik 16-18) menghadirkan citra yang kontras antara sesuatu yang seharusnya hidup dan bebas (burung) dengan sesuatu yang terkait dengan kekuasaan dan kekerasan (pedagang senjata). Kabel listrik, yang ditanam di kaki para pedagang senjata, menjadi simbol dari keterhubungan manusia dengan kekuatan teknologi dan kekuasaan yang korup. Burung-burung tetap terbang di atas ini, menggambarkan keberanian dan kebebasan di tengah-tengah kekuasaan yang sering kali menindas dan mencemari kehidupan.
Ada juga sindiran tentang kehidupan modern yang penuh kecemburuan dan godaan: “penakluk segala godaan / dan rasa cemburu di akhir pekan” (larik 19-20). Ini menunjukkan bagaimana kehidupan manusia sering kali dipenuhi oleh godaan dan kecemburuan, terutama di zaman modern, di mana konsumerisme dan ketidakpuasan pribadi sering kali mengambil alih.
Ketidakpastian dan Keteguhan
Puisi ini juga mencerminkan ketidakpastian dalam kehidupan melalui gambaran alam yang tak terduga: “burung-burung tetap terbang / meski hujan di luar sana runtuh / tak beraturan” (larik 21-23). Burung-burung tetap terbang meski hujan tak beraturan, yang menggambarkan ketangguhan di tengah kondisi yang tidak pasti. Ini adalah simbol keteguhan dan keberanian, di mana burung-burung tetap melanjutkan perjalanan mereka, meskipun dunia di sekitar mereka dipenuhi oleh kekacauan dan hujan yang turun secara tidak teratur.
Manusia, menurut penyair, sering kali menjatuhkan diri sendiri sebelum sepenuhnya tenggelam: “meski siapa saja kerap menjatuhkan / dirinya sendiri / sebelum sama sekali tenggelam” (larik 24-26). Ini adalah refleksi mendalam tentang bagaimana manusia sering kali menghancurkan dirinya sendiri sebelum menghadapi kesulitan sepenuhnya. Manusia sering kali merasa lelah dan menyerah sebelum benar-benar mencapai titik di mana mereka tidak bisa bertahan lagi.
Kematian sebagai Rumah dan Akhir yang Ditempa
Bagian terakhir puisi ini memberikan refleksi filosofis yang mendalam tentang kematian. “burung-burung tak mati sembarangan / ia punya rumah dalam kuburnya / ia punya kubur dalam rumahnya” (larik 27-29). Penyair menggambarkan bahwa burung-burung, meski tidak mati sembarangan, memiliki hubungan erat dengan rumah dan kubur. Kematian bukanlah akhir yang sia-sia bagi burung-burung ini, melainkan sebuah kepulangan—sebuah rumah dalam kubur. Dalam rumahnya, mereka telah menyiapkan kuburnya, dan dalam kuburnya, mereka telah menemukan rumahnya. Ini mencerminkan pemahaman tentang kematian sebagai bagian tak terpisahkan dari kehidupan, sebuah proses yang alami dan tidak perlu ditakuti.
Kesimpulan: Ketangguhan dalam Kehidupan dan Kematian
“Burung-Burung” karya Setia Naka Andrian adalah puisi yang penuh simbolisme tentang ketangguhan hidup, kejatuhan kebaikan, dan kekuatan burung sebagai metafora untuk kehidupan yang terus berlanjut, meskipun dunia di sekitarnya dipenuhi kekacauan dan ketidakpastian. Melalui pembacaan dekat, kita melihat bagaimana burung-burung menjadi simbol ketahanan spiritual dan fisik, di mana mereka terus terbang meskipun dunia di sekitarnya runtuh. Dalam kematian pun, burung-burung ini tidak mati sembarangan; mereka memiliki rumah dan kubur yang mereka siapkan dengan penuh makna.
Puisi ini, dengan gayanya yang reflektif dan puitis, mengajak pembaca untuk merenungkan makna ketangguhan, kebebasan, dan perjuangan dalam menghadapi kehidupan yang penuh tantangan. Burung-burung, meskipun kecil dan tampaknya rentan, menunjukkan bahwa kehidupan bisa tetap bergerak, tetap mencari makna, dan tetap bertahan di tengah dunia yang tak selalu ramah. Pada akhirnya, burung-burung dalam puisi ini adalah simbol dari kehidupan yang tak pernah menyerah, meski apa pun terjadi di sekitarnya.
Komentar