Menemui Ketaksempurnaan dalam Menjalani Hidup, dalam "Mazmur 119:144" karya Grace Celine
Puisi *"Mazmur 119:144"* karya Grace Celine adalah refleksi mendalam tentang kehidupan yang penuh tantangan dan kesalahan, serta bagaimana manusia menghadapinya. Melalui analogi kehidupan sebagai *bahasa asing* yang baru dipelajari, penyair menggambarkan betapa sulitnya memahami hidup, dan bagaimana berbagai respons manusia muncul dalam menghadapi kesulitan tersebut. Puisi ini menawarkan renungan tentang pembelajaran, ketidaksempurnaan, dan pentingnya upaya untuk memperbaiki diri di tengah-tengah kesalahan dan kebingungan yang sering mewarnai kehidupan.
Hidup sebagai Bahasa Asing: Ketidaksempurnaan dalam Menjalani Kehidupan
Puisi ini dibuka dengan metafora yang kuat: "Hidup seperti bahasa asing / yang baru dipelajari" (larik 1-2). Bahasa asing adalah sesuatu yang tidak familiar, memerlukan waktu untuk dipelajari, dan sering kali menjadi sumber kebingungan. Begitu pula dengan kehidupan, menurut penyair, sering kali tampak sulit dipahami dan menantang, terutama ketika kita masih mencoba memahami berbagai dinamika yang ada di dalamnya. Dalam proses belajar bahasa, kesalahan dalam melafalkan, memahami, dan menerjemahkan sangat wajar terjadi, dan inilah yang menjadi kiasan untuk kesalahan-kesalahan yang dilakukan manusia dalam hidup.
Metafora ini menggambarkan kehidupan sebagai sebuah proses yang tidak instan. Sebagaimana seseorang belajar bahasa asing, hidup juga membutuhkan kesabaran dan kegigihan. Dalam kehidupan, seperti dalam mempelajari bahasa, tidak ada yang sempurna; kesalahan adalah bagian yang tak terhindarkan. Penyair menggarisbawahi bahwa "semua orang salah / melafalkannya" (larik 3-4). Ini adalah pengakuan universal bahwa setiap manusia membuat kesalahan dalam hidup mereka, karena hidup itu sendiri adalah sesuatu yang kompleks dan penuh dengan hal-hal yang tidak dapat sepenuhnya dimengerti.
Reaksi terhadap Kesalahan: Memperbaiki atau Menertawai?
Penyair kemudian membedakan respons manusia terhadap kesalahan mereka. Ada yang "berani memperbaiki kesalahannya" (larik 5), sebuah tanda dari mereka yang menganggap kesalahan sebagai bagian dari proses belajar dan berusaha untuk tumbuh darinya. Orang-orang ini tidak hanya menerima kenyataan bahwa mereka membuat kesalahan, tetapi juga mengambil langkah untuk memperbaikinya. Ini adalah sikap yang produktif dan reflektif terhadap kehidupan, di mana setiap kesalahan dipandang sebagai peluang untuk belajar dan berkembang.
Namun, tidak semua orang memiliki sikap ini. Sebagian orang "menertawai kesalahannya" (larik 6), yang bisa diartikan sebagai bentuk penerimaan, tetapi bukan perbaikan. Menertawai kesalahan bisa menjadi mekanisme pertahanan, cara untuk menghindari rasa malu atau rasa bersalah. Tetapi penyair memperingatkan bahwa ada bahaya dalam berhenti di tahap ini: "Sebagian berhenti / pada menertawai / dan tak memperbaiki" (larik 7-9). Ini menggambarkan sikap apatis atau cenderung menerima kesalahan tanpa usaha untuk belajar darinya. Menertawai kesalahan tanpa niat memperbaiki bisa menjadi tanda stagnasi, di mana seseorang tidak berusaha memahami hidup dengan lebih baik, tetapi malah menganggap kesalahan sebagai sesuatu yang tidak penting untuk diubah.
Kehidupan sebagai Sesuatu yang Jauh dan Sulit Dipahami
Bagian akhir puisi ini menggarisbawahi refleksi yang lebih dalam tentang bagaimana sebagian orang memandang hidup: "Hidup memang seperti itu / Setidaknya bagi orang-orang / yang memperlakukannya / sebagai sesuatu / yang jauh dan asing" (larik 10-14). Di sini, penyair menekankan bahwa hidup sering kali tampak sulit dan asing bagi mereka yang memandangnya dengan jarak atau ketidakpedulian. Hidup adalah sesuatu yang rumit, dan jika seseorang memperlakukannya sebagai sesuatu yang jauh—tidak mau terlibat atau tidak berusaha memahami—maka hidup akan terus terasa asing dan sulit dipahami.
Frasa "yang jauh dan asing" menunjukkan keterasingan emosional dan spiritual yang dialami oleh banyak orang. Hidup terasa lebih sulit ketika kita tidak mencoba memahaminya atau ketika kita mengambil sikap pasif terhadap pengalaman yang kita jalani. Ini adalah kritik halus terhadap orang-orang yang memilih untuk menghindari refleksi diri dan pembelajaran dari pengalaman hidup. Bagi mereka, hidup tetap menjadi sesuatu yang penuh misteri, bukan karena kehidupan itu sendiri tidak dapat dipahami, tetapi karena mereka tidak berusaha mendekatinya dengan rasa ingin tahu dan keterlibatan.
Kesulitan Hidup dan Upaya untuk Memahami
Larik terakhir, "Betapa ia sulit dipahami" (larik 15), memberikan kesimpulan yang seolah-olah melingkupi seluruh puisi. Penyair tidak menawarkan jawaban pasti tentang bagaimana hidup seharusnya dijalani, tetapi menyatakan bahwa hidup memang sulit dipahami. Ini adalah kenyataan yang harus diterima oleh setiap individu. Namun, ada perbedaan besar antara mereka yang mencoba memahami hidup, meskipun dengan kesalahan, dan mereka yang memilih untuk tidak memperbaiki diri, bahkan setelah menyadari kesalahan mereka.
Puisi ini, dalam kesederhanaannya, mengajak kita untuk merenungkan bagaimana kita merespons kesalahan dalam hidup. Apakah kita berani memperbaiki diri? Apakah kita hanya menertawakan kesalahan tanpa usaha untuk berubah? Atau apakah kita justru memperlakukan hidup sebagai sesuatu yang jauh dan sulit dipahami, tanpa upaya untuk lebih dekat dan terlibat dengan prosesnya?
Kesimpulan: Hidup sebagai Proses Belajar yang Tak Pernah Selesai
“Mazmur 119:144” karya Grace Celine adalah sebuah perenungan tentang kehidupan sebagai proses belajar yang penuh dengan kesalahan, tetapi juga penuh dengan peluang untuk perbaikan. Melalui analogi bahasa asing, penyair menggambarkan bahwa kehidupan adalah sesuatu yang perlu dipelajari dengan sabar, dan kesalahan adalah bagian tak terpisahkan dari proses itu. Ada mereka yang berusaha memperbaiki diri, ada yang hanya menertawai kesalahan, dan ada yang memilih untuk tidak melibatkan diri dalam usaha memahami hidup.
Puisi ini menawarkan pandangan yang humanis tentang kehidupan: kesalahan adalah bagian dari kehidupan, tetapi bagaimana kita merespons kesalahan itu adalah yang menentukan pertumbuhan kita. Dengan sikap reflektif, kita bisa belajar memperbaiki diri dan memahami hidup, meskipun sulit. Hidup, seperti bahasa, membutuhkan upaya terus-menerus untuk dipahami, dan hanya melalui kesadaran serta kemauan untuk memperbaiki diri, kita bisa menemukan makna di dalamnya.
Komentar