Kegelisahan Isbedi Stiawan ZS akan Pandemi Covid-19

Puisi "Sirkus di Jalan Pandemi" karya Isbedi Stiawan ZS menyajikan sebuah cermin kemanusiaan di tengah masa krisis, yaitu pandemi COVID-19. Melalui puisi ini, Isbedi Stiawan menyuarakan keprihatinan mendalam tentang ketidakadilan sosial yang dirasakan oleh masyarakat kecil selama pandemi. Dengan pendekatan pembacaan dekat, kita bisa mengidentifikasi lapisan-lapisan makna yang hadir melalui bahasa, ironi, dan struktur puisi.

Ironi sebagai Kritik Sosial

Puisi ini mengandung nada ironis yang sangat kuat, dimulai dengan pertanyaan retoris: "masih ada yang kau selipkan di saku celana?" (larik 1-2). Di sini, sang penyair seolah berbicara kepada kekuasaan, mempertanyakan apakah masih ada yang bisa diberikan kepada rakyat kecil yang sudah kehilangan segalanya. Ironi ini semakin diperkuat oleh kontras antara anjuran "diam di rumah" (larik 5) dan kenyataan pahit bahwa mereka yang diperintah untuk tinggal di rumah justru kehilangan penghidupan sehari-hari.

Penyair menggambarkan bagaimana rakyat kecil harus tetap berjuang untuk bertahan hidup meskipun dihadapkan pada perintah-perintah yang kaku dan tidak realistis. "kami tiap hari mesti makan, seperti juga buang tahi setiap pagi sebelum mandi" (larik 7-9) adalah metafora kasar yang dengan sengaja digunakan untuk memperlihatkan betapa mendesaknya kebutuhan fisik manusia, sesuatu yang sering dilupakan dalam kebijakan yang hanya berfokus pada keselamatan tanpa memperhatikan kebutuhan dasar.

Tema Ketidakadilan dan Kepemilikan

Isbedi juga menyentuh tema ketidakadilan sosial melalui pertanyaan tajam: "negeri ini siapa punya? siapa kuasa bagi orang-orang seperti kami?" (larik 19-20). Pertanyaan ini menyoroti adanya jarak yang begitu besar antara penguasa dan rakyat kecil, yang tidak hanya dalam hal ekonomi, tetapi juga dalam cara suara mereka diabaikan. "layarlayar kaca cuma mengabarkan suaramu, suara kami kau letakkan di sudut mana?" (larik 25-26) menegaskan bagaimana media arus utama hanya menyuarakan kepentingan pihak berkuasa, sementara rakyat kecil hanya menjadi penonton tanpa hak bersuara.

Puisi ini secara implisit mengkritik bagaimana bantuan yang dijanjikan pemerintah seringkali tidak sampai pada mereka yang paling membutuhkan. Isbedi menggunakan metafora sirkus dalam judulnya, yang seakan menunjukkan bahwa kondisi selama pandemi adalah sebuah pertunjukan yang penuh dengan absurditas, di mana rakyat kecil menjadi bagian dari tontonan yang dikendalikan oleh kekuasaan, tanpa kuasa untuk merubah nasib mereka.

Ketakutan Ganda: Pandemi dan Kelaparan

Salah satu kekuatan terbesar puisi ini terletak pada penggambaran paradoks ketakutan. Di satu sisi, "kami takut pandemi" (larik 27), namun di sisi lain, ada ketakutan yang lebih besar dari sekadar virus: "lebih ngeri keluarga mati tanpa makan" (larik 28). Penyair dengan cermat menangkap dilema yang dihadapi oleh masyarakat kecil, di mana kelangsungan hidup fisik lebih mendesak daripada ketakutan akan pandemi. Ini adalah ketakutan ganda—takut akan penyakit, tapi juga takut akan kelaparan dan kemiskinan yang semakin mengimpit.

Larik-larik terakhir puisi ini juga mencerminkan hilangnya harapan dan kepastian: "kini, entah tahun berapa karena kami benar-benar lupa selain hari kematian" (larik 37-38). Pandemi bukan hanya mencabut kehidupan secara fisik, tetapi juga mencabut rasa waktu, harapan, dan masa depan. Kehidupan telah direduksi menjadi sekadar bertahan sampai kematian datang, sesuatu yang diungkapkan dengan tragis dalam larik: "pun liang kubur itu! pemakaman yang kadang ditolak orangorang" (larik 39-40).

Struktur dan Bahasa: Penggambaran Kegelisahan

Dari segi struktur, puisi ini tidak memiliki pola rima tetap, yang mencerminkan ketidakpastian dan kekacauan situasi yang digambarkan. Gaya enjambment, di mana kalimat berlanjut tanpa jeda pada baris berikutnya, mencerminkan kegelisahan dan alur pemikiran yang tidak terputus dari persona lirik. Penggunaan enjambment ini juga menekankan bahwa tidak ada kepastian atau akhir yang jelas di masa pandemi ini—semuanya mengalir terus menerus tanpa henti, sebagaimana penderitaan orang-orang yang digambarkan dalam puisi.

Bahasa dalam puisi ini, meski sederhana dan langsung, penuh dengan muatan emosional dan kritik sosial yang tajam. Pilihan kata seperti "buang tahi," "kontrakan," dan "digadai" memperkuat gambaran kehidupan rakyat kecil yang penuh dengan kesulitan sehari-hari. Kesederhanaan ini, alih-alih melemahkan puisi, justru memperkuat realitas pahit yang digambarkan, seolah-olah menghapus jarak antara puisi sebagai karya seni dan realitas kehidupan yang kejam.

Kesimpulan

"Sirkus di Jalan Pandemi" adalah sebuah puisi yang penuh dengan rasa frustasi, ketidakberdayaan, dan kemarahan terhadap ketidakadilan yang dialami oleh rakyat kecil selama pandemi. Melalui pendekatan pembacaan dekat, kita bisa melihat bagaimana Isbedi Stiawan ZS dengan cermat menggunakan ironi, metafora, dan bahasa sehari-hari untuk mengekspresikan realitas pahit yang sering kali tersembunyi di balik wacana resmi tentang penanganan pandemi. Puisi ini tidak hanya menjadi kritik sosial yang tajam, tetapi juga menjadi pengingat bahwa di balik statistik dan kebijakan, ada manusia-manusia yang berjuang untuk bertahan hidup di tengah krisis yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Puisi ini mengajak pembaca untuk merenungkan, bukan hanya tentang bagaimana pandemi mempengaruhi kesehatan, tetapi juga bagaimana hal itu memperburuk ketidakadilan sosial yang sudah ada sebelumnya. Seperti sirkus yang penuh pertunjukan dan manipulasi, pandemi ini, dalam puisi Isbedi, menjadi arena di mana yang lemah harus bertarung, bukan hanya melawan virus, tetapi juga melawan ketidakadilan yang sudah menjerat mereka.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cerpen "To Build a Fire" dan Sastra Ekologi Saat Ini

Laut, Ibu, dan Kehidupan dalam Puisi "Menebalkan Ibu di Kerongkongan" karya Titan Sadewo

Bagaimana "The Tell-Tale Heart” Karya Edgar Allan Poe Dapat Digunakan untuk Meneroka Over-Awareness di Era Hiper-Modern