Meraba Kekekalan Hubungan Manusia dan Waktu dalam Puisi "Sinyal" karya Melki Deni

Puisi "Sinyal" karya Melki Deni mengajak pembaca memasuki dunia refleksi filosofis tentang waktu, kehidupan, dan keabadian. Dengan menggunakan elemen-elemen simbolik seperti "sinyal" dan "garis waktu," penyair menggambarkan perenungan mendalam tentang eksistensi manusia di tengah dunia yang terus berubah. Melalui pembacaan dekat, kita dapat menemukan bagaimana puisi ini berupaya memahami hubungan antara manusia, waktu, dan kemungkinan kekekalan, serta bagaimana bahasa syair menjadi medium untuk mengatasi batas-batas realitas tersebut.

Metafora Sinyal dan Transformasi Eksistensial

Puisi ini dibuka dengan pernyataan yang kuat: "Tak ada sinyal pertama dalam syair." (larik 1). Di sini, sinyal bukanlah sekadar komunikasi teknologi yang biasa kita kenal, melainkan lambang dari sesuatu yang lebih besar—sebuah penanda eksistensi yang mungkin melampaui ruang dan waktu. Frasa ini mengisyaratkan bahwa puisi, atau syair, tidak dimulai dari sebuah sinyal definitif, melainkan muncul dari proses yang lebih abstrak dan metaforis.

Dalam larik kedua, muncul sosok Rea yang dikatakan sebagai “kita seperti kepompong bermetamorfosis menuju ciptaan baru pada lembaran bumi ini” (larik 2-4). Metafora kepompong dan metamorfosis ini menggambarkan proses transformasi eksistensial. Kepompong melambangkan transisi dari bentuk lama ke bentuk baru, dari yang sementara menuju yang mungkin abadi. Di sinilah puisi ini menyentuh tema utama: manusia berada dalam perjalanan transformasi, yang tidak hanya bersifat fisik tetapi juga spiritual.

Simfoni dan Waktu: Dimensi Tak Terselesaikan

Melki Deni juga menghubungkan dimensi waktu dengan elemen musikal melalui frasa “Simfoni memperlambat hari” (larik 5). Simfoni, yang biasanya melambangkan harmoni dan keseimbangan, di sini justru memperlambat hari, seolah-olah waktu itu sendiri diperlambat atau bahkan dihentikan. Ini menciptakan kesan bahwa kita, sebagai manusia, mungkin terjebak dalam suatu siklus yang tidak pernah mencapai akhir. 

Hal ini semakin dikuatkan oleh pernyataan “hari yang tak mau mati mungkin bersembunyi di balik sinyal hitam dan putih ini” (larik 6-7). Warna hitam dan putih adalah simbol dualitas—hidup dan mati, awal dan akhir—tetapi dalam puisi ini, dua warna ini melebur dalam satu "sinyal" yang ambigu. Sinyal tersebut, yang seharusnya mengantarkan pesan atau komunikasi, justru menandakan ketidakpastian. Ada kemungkinan bahwa hari, sebagai simbol waktu, tidak benar-benar ada; kita hanya "sinyal antitamat pada garis waktu" (larik 8). Penyair tampaknya sedang mempertanyakan apakah manusia dan eksistensinya dapat dikatakan berakhir, atau kita adalah bagian dari sesuatu yang tak pernah tamat.

Keabadian dan Keruntuhan Garis Waktu

Pertanyaan yang diajukan Rea dalam puisi, “Apakah kita adalah kekal?” (larik 9), menjadi inti dari perenungan ini. Pertanyaan ini disertai dengan gambaran ketar-ketir di pelataran rumah, yang menandakan ketidakpastian eksistensial. Pelataran rumah dapat dianggap sebagai simbol tempat aman, namun dalam puisi ini, menjadi lokasi dari kecemasan mendalam tentang keabadian dan makna keberadaan kita di dunia.

Larik-larik berikutnya memperkuat tema ini: “Terkadang kita ingin meruntuhkan garis waktu pada sinyal” (larik 10-11). Keinginan untuk meruntuhkan garis waktu menunjukkan keinginan manusia untuk melampaui keterbatasan temporal, sementara sinyal di sini kembali menjadi medium untuk mencoba menghancurkan batas tersebut. Penyair menggunakan sinyal sebagai simbol sesuatu yang bergerak di luar ruang dan waktu, tetapi juga sebagai sesuatu yang tidak tetap dan ambigu. 

Selanjutnya, ada keinginan untuk “menyalin kembali garis batas lapuk di antara alfa dan omega bumi ini” (larik 12-13). Alfa dan omega adalah simbol dari awal dan akhir, tetapi penyair menggambarkan garis batas antara keduanya sebagai "lapuk," seolah-olah waktu itu sendiri telah menjadi usang dan tidak lagi mampu mengatur realitas manusia. Manusia ingin mengatasi keterbatasan ini, mencoba menemukan atau menegaskan kembali makna di antara yang awal dan akhir, tetapi hasilnya adalah ketidakpastian dan keraguan.

Syair sebagai Ruang Eksistensial

Bagian terakhir puisi ini menekankan esensi dari syair itu sendiri: “Hanya syair; Hanya sinyal, Mungkin kita Antitamat!” (larik 14-16). Di sini, syair menjadi lebih dari sekadar rangkaian kata-kata; ia menjadi medium yang mencerminkan keberadaan manusia yang ambigu dan tanpa akhir. Kata "antitamat" adalah istilah kunci dalam puisi ini, mengindikasikan bahwa mungkin tidak ada akhir yang definitif bagi kita—tidak ada "tamat" yang jelas. Kita hidup dalam suatu kondisi yang terus-menerus berada di antara, tanpa awal yang jelas dan tanpa akhir yang pasti.


Pengulangan "hanya" dalam frasa ini menekankan kesederhanaan sekaligus ketidakpastian. Meskipun syair dan sinyal tampak seolah-olah sederhana dan pasti, kenyataannya mereka penuh dengan ambiguitas. Syair menjadi sarana bagi manusia untuk mengekspresikan keterbatasan mereka, sementara sinyal menjadi metafora untuk ketidakmampuan kita memahami waktu dan eksistensi dengan cara yang absolut.

Kesimpulan

Puisi "Sinyal" karya Melki Deni adalah sebuah eksplorasi filosofis tentang hubungan antara manusia, waktu, dan kekekalan. Melalui pendekatan pembacaan dekat, kita dapat melihat bagaimana penyair menggunakan sinyal sebagai metafora untuk mengekspresikan ambiguitas dan ketidakpastian yang melingkupi eksistensi manusia. Pertanyaan tentang keabadian, waktu, dan makna hidup diungkapkan melalui metafora kepompong, sinyal, dan garis waktu yang lapuk. 

Dalam puisi ini, syair menjadi alat untuk memahami—atau setidaknya berusaha memahami—apa yang tidak bisa dijelaskan sepenuhnya oleh logika atau pengalaman sehari-hari. Dengan menggunakan bahasa yang padat dan penuh simbolisme, Melki Deni menggambarkan bahwa manusia, dalam esensi yang paling mendasar, adalah makhluk antitamat—selalu berada di antara alfa dan omega, antara awal dan akhir, tanpa kepastian di mana garis waktu mereka akan berakhir.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cerpen "To Build a Fire" dan Sastra Ekologi Saat Ini

Laut, Ibu, dan Kehidupan dalam Puisi "Menebalkan Ibu di Kerongkongan" karya Titan Sadewo

Bagaimana "The Tell-Tale Heart” Karya Edgar Allan Poe Dapat Digunakan untuk Meneroka Over-Awareness di Era Hiper-Modern