Simpangan Hidup dan Maut dalam Puisi "Bisikan dari Maut" karya Surya Gemilang
Puisi "Bisikan dari Maut" karya Surya Gemilang mengangkat tema yang dalam dan kompleks tentang kehidupan, kematian, dan pilihan yang harus diambil di antara keduanya. Puisi ini tidak hanya berbicara tentang kematian secara fisik, tetapi juga tentang bagaimana manusia dipanggil atau tergoda oleh maut, yang dalam puisi ini digambarkan sebagai suara yang membisikkan, menggoda, dan memberikan petunjuk mengenai "jalan yang benar." Melalui pembacaan dekat, puisi ini menghadirkan meditasi yang mendalam tentang eksistensi, penyesalan, dan dorongan untuk bertahan hidup di tengah ketidakpastian yang ada di ambang maut.
Bisikan Maut: Jalan yang Benar atau Jalan yang Salah?
Puisi dibuka dengan larik yang mencolok: "dan sesungguhnya mautlah berbisik padamu / jika pada kuping hangatmu / sesuatu mendesis: ‘kau di jalan yang benar.’” (larik 1-3). Maut, yang sering kali dihindari dalam percakapan sehari-hari, di sini menjadi sosok yang aktif, berbisik dengan suara yang halus namun tegas. Bisikan ini membawa pesan ambivalen: “kau di jalan yang benar,” sebuah ungkapan yang bisa ditafsirkan sebagai panggilan menuju kematian, atau sebagai pesan bahwa kematian adalah takdir yang tak bisa dihindari dan mungkin benar untuk diikuti.
Kehangatan kuping di sini menandakan kehidupan yang masih berdenyut, tetapi bisikan maut ini mengisyaratkan bahwa meskipun kita hidup, kita selalu berada dalam bayang-bayang kematian. Maut, dalam pengertian ini, tidak datang sebagai sesuatu yang menakutkan, melainkan sebagai penuntun, yang memberikan petunjuk tentang arah yang benar, meskipun itu mungkin berarti menuju akhir dari segalanya. Ada ketegangan antara kenyamanan kehidupan dan daya tarik bisikan maut yang terus-menerus hadir, memberi tanda bahwa hidup kita berjalan menuju kematian.
Perjalanan di Atas Seutas Rambut: Hidup yang Rentan
Selanjutnya, puisi menggambarkan perjalanan hidup sebagai sesuatu yang rapuh dan berbahaya: “di depanmu hanya terentang seutas rambut / menuju gubuk di mana ibumu menunggu” (larik 6-7). Seutas rambut melambangkan ketipisan dan kerapuhan hidup. Hidup di sini bukanlah jalan yang penuh dengan kelopak mawar—simbol keindahan dan kenyamanan—melainkan perjalanan yang sangat rentan, di mana kesalahan kecil bisa membawa seseorang jatuh ke dalam maut.
Gubuk tempat ibu menunggu menjadi simbol dari panggilan rumah, panggilan asal-muasal, dan kenyamanan yang dirindukan. Sosok ibu, yang menunggu di depan pintu dan melambai-lambai, menciptakan perasaan nostalgia, keinginan untuk kembali ke masa lalu, ke masa kanak-kanak, atau ke masa yang lebih sederhana dan penuh kasih. Panggilan "kembalilah dalam pelukku" (larik 9) adalah ajakan untuk kembali pada sesuatu yang dulu aman dan penuh kehangatan—kembali ke rumah, atau mungkin kembali kepada kehidupan yang lebih sederhana dan damai. Namun, kenyataannya, rumah itu sudah tidak ada.
Kehilangan Rumah dan Makna Kematian
Puisi kemudian menyatakan dengan tegas: “dan sesungguhnya tak ada lagi rumahmu, / termasuk dalam pelukan ibumu” (larik 10-11). Ini adalah pengakuan pahit bahwa rumah, yang dulu menjadi tempat berlindung, sekarang telah hilang. Tidak ada lagi tempat aman yang bisa diharapkan, bahkan dalam pelukan ibu. Hal ini mencerminkan betapa waktu, kehilangan, dan kematian telah menghapus semua yang pernah menjadi makna dan pegangan hidup.
Semua yang pernah menahan sang aku lirik di rumahnya telah mati: “semua yang menahanmu di situ telah mati / saat 21 tahun umurmu, semua mati” (larik 12-13). Usia 21 tahun di sini bisa merujuk pada masa transisi dari remaja menuju dewasa, ketika seseorang mulai menyadari bahwa dunia tidak lagi sama seperti ketika mereka masih kecil. Pada titik ini, sang aku lirik menyadari bahwa rumah dan semua yang dulu memberikan kenyamanan telah menghilang, digantikan oleh hantu-hantu yang mengingatkannya pada apa yang hilang, tetapi dengan cara yang keji dan penuh godaan.
Kembali dari Tepi Kematian: Nilai Hidup
Puisi ini berpuncak pada sebuah ajakan untuk berbalik: “maka berbaliklah, / tinggalkan seutas rambut itu, / tubuhmu terlalu berat dan berharga / untuk jatuh pada entah-apa-di-sana” (larik 14-17). Seutas rambut yang menjadi simbol dari perjalanan menuju kematian, kini harus ditinggalkan. Sang aku lirik diingatkan bahwa tubuhnya, dan kehidupannya, terlalu berharga untuk menyerah begitu saja kepada ketidakpastian dan kegelapan yang menunggu di ujung jalan menuju kematian.
Pesan ini menekankan pentingnya mempertahankan kehidupan, meskipun kematian terus membisikkan bahwa jalan yang benar adalah menuju padanya. Tubuh, dengan segala kompleksitas dan maknanya, dianggap sebagai sesuatu yang berharga dan berat—sesuatu yang tidak bisa begitu saja diserahkan kepada maut. Ada dorongan kuat untuk menolak daya tarik kematian dan memilih kehidupan, meskipun hidup itu sendiri penuh dengan kesedihan dan kesulitan.
Kesimpulan: Maut sebagai Godaan dan Kehidupan sebagai Pilihan
Puisi "Bisikan dari Maut" menggambarkan ketegangan antara kehidupan dan kematian, di mana maut tidak digambarkan sebagai sesuatu yang menyeramkan, tetapi sebagai bisikan yang lembut dan menggoda. Maut berbicara kepada kita, menuntun kita menuju jalannya, tetapi pada saat yang sama, puisi ini memberikan dorongan untuk berbalik dari godaan tersebut. Kehidupan, dengan segala penderitaan dan kehilangan, masih dianggap lebih berharga daripada menyerah kepada ketidakpastian kematian.
Melalui metafora jalan yang terentang seutas rambut dan gambaran gubuk ibu, puisi ini menyelami perasaan kerinduan akan kenyamanan masa lalu yang telah hilang, serta panggilan maut yang terus menggoda. Namun, pesan terakhir dalam puisi ini adalah tentang nilai kehidupan itu sendiri—tubuh yang berharga dan berat, yang tidak seharusnya diserahkan kepada kematian tanpa perjuangan. Puisi ini mengajak pembaca untuk merenungkan arti kehidupan dan kematian, serta pilihan yang harus diambil di antara keduanya.
Dengan gaya yang tenang namun penuh ketegangan, “Bisikan dari Maut” memberikan kita wawasan tentang bagaimana manusia berada dalam persimpangan antara harapan akan kehidupan dan daya tarik kematian yang selalu ada di dekat kita.
Komentar