Pernyataan Atas Tanggungan Hidup Manusia dalam Puisi "Kutukan Bagi yang Hidup" karya Jemi Batin Tikal

Puisi “Kutukan Bagi yang Hidup” karya Jemi Batin Tikal mengangkat tema yang mendalam tentang kesedihan, harapan, kehilangan, dan penantian. Dalam suasana yang tenang namun penuh beban emosional, puisi ini menggambarkan bagaimana perasaan yang kompleks seperti kesedihan dan kehilangan tidak bisa ditampung atau sepenuhnya dipahami, dan bagaimana hal-hal tersebut menjadi semacam kutukan bagi mereka yang hidup. Melalui pembacaan dekat, kita bisa menggali lebih dalam makna-makna yang tersembunyi dalam puisi ini, khususnya mengenai pengalaman emosional yang sering kali tak terkatakan.

Matahari Tenggelam: Simbol Waktu yang Terus Berlalu

Puisi ini dibuka dengan citra visual yang kuat: "Matahari di balik punggung / perlahan tenggelam / sebelum cahaya padam / kau berkata" (larik 1-4). Matahari yang perlahan tenggelam di balik punggung menciptakan suasana senja—waktu transisi antara terang dan gelap, kehidupan dan kematian, harapan dan ketidakpastian. Citra ini melambangkan bahwa waktu terus berjalan tanpa henti, dan matahari yang tenggelam menjadi simbol dari sesuatu yang berakhir, baik itu hari, pengalaman, atau mungkin juga kehidupan. Ada rasa kedamaian, tetapi juga ketidakberdayaan karena kita tidak bisa menghentikan berlalunya waktu.

Dalam suasana senja ini, seseorang berkata, "Dengarkan deru ombak itu yang menenangkan." (larik 4). Ombak, yang datang berulang tanpa henti, bisa menjadi metafora dari kehidupan yang terus berlanjut meskipun kita mengalami kesedihan dan kehilangan. Suara ombak memberikan rasa ketenangan, tetapi juga mengingatkan kita akan siklus kehidupan yang tidak bisa dihindari, sebuah siklus di mana kita selalu kembali kepada perasaan yang sama—kehilangan, penantian, dan harapan yang mungkin tidak pernah terwujud.

Laut sebagai Cermin Kesedihan

Laut dalam puisi ini memiliki makna yang sangat simbolis. Ketika lirik menggambarkan bahwa mereka berdua "memandangi muka laut serupa kaca / ditimpa cahaya" (larik 6-7), laut menjadi semacam cermin yang memantulkan perasaan mereka. Ketenangan permukaan laut yang seperti kaca bisa diartikan sebagai representasi dari ketenangan luar yang menyembunyikan kedalaman emosional yang sebenarnya. Meskipun laut tampak tenang, kita tahu bahwa di bawah permukaan ada banyak hal yang tidak terlihat—arus yang kuat, kehidupan yang tersembunyi, dan mungkin juga kesedihan yang tak terucapkan.

Desiran angin yang "kadang meningkahi" (larik 8) dan "sesekali sunyi menyergap" (larik 9) memperkuat suasana kontemplatif yang melingkupi kedua tokoh dalam puisi ini. Ada momen-momen di mana keheningan mendominasi, dan di dalam keheningan itulah perasaan menjadi lebih intens. Sunyi menyergap, membuat dada terasa berat, menunjukkan bahwa di tengah keheningan, emosi-emosi yang sulit diungkapkan menjadi semakin kuat dan mendalam. Namun, mereka tidak tahu pasti apa yang menyebabkan perasaan ini, seolah-olah kesedihan dan ketidakpastian dalam hidup adalah sesuatu yang abstrak dan tidak bisa dijelaskan sepenuhnya.

Kesedihan yang Tak Tertampung

Salah satu tema utama dalam puisi ini adalah kesadaran akan keterbatasan kita untuk menampung perasaan, khususnya kesedihan. Dalam larik "Tak ada kejutan / kita sama mengerti bahwa kesedihan / takkan mampu ditampung luas-dalam lautan" (larik 10-12), laut, yang begitu luas dan dalam, bahkan tidak cukup untuk menampung kesedihan yang mereka rasakan. Ini adalah pengakuan bahwa kesedihan adalah sesuatu yang begitu besar dan mendalam sehingga tidak ada ruang, bahkan seimbolis laut sekalipun, yang mampu sepenuhnya mengatasi atau menghilangkannya.

Laut di sini berfungsi sebagai metafora yang kuat untuk perasaan manusia—terutama perasaan yang tidak dapat dijelaskan, dikendalikan, atau diatasi sepenuhnya. Bahkan sesuatu yang sebesar dan sedalam laut tidak mampu menjadi wadah bagi kesedihan, yang berarti bahwa kesedihan itu begitu melekat pada kehidupan manusia sehingga menjadi bagian tak terpisahkan dari eksistensi kita.

Harapan, Kehilangan, dan Penantian sebagai Kutukan

Bagian berikutnya dari puisi ini menyoroti elemen harapan, kehilangan, dan penantian sebagai sesuatu yang menyakitkan dan tidak bisa dihindari: "Kita pun sama paham: harapan, kehilangan, / dan penantian adalah kutukan bagi yang hidup" (larik 13-14). Harapan, yang sering kali dianggap sebagai sesuatu yang positif, dalam puisi ini dipandang sebagai kutukan. Harapan tidak selalu membawa kebahagiaan—ia juga membawa ketidakpastian, kecemasan, dan kekecewaan. Demikian pula dengan kehilangan dan penantian, dua perasaan yang membuat manusia selalu berada dalam keadaan tidak puas dan gelisah.

Ketiganya—harapan, kehilangan, dan penantian—adalah bagian dari kehidupan yang tidak bisa dihindari, dan mereka menjadi kutukan karena membuat manusia terus-menerus merasa tidak lengkap. Manusia hidup dalam ketegangan antara harapan dan kenyataan, antara kehilangan dan keinginan untuk mendapatkan kembali apa yang hilang, dan penantian untuk sesuatu yang mungkin tidak pernah datang. Inilah yang menjadi kutukan bagi yang hidup, yaitu perasaan-perasaan yang terus menghantui kita sepanjang hidup.

Pelukan Sepi dan Deru Ombak sebagai Suara Cinta

Puisi ini diakhiri dengan larik yang penuh perasaan: "Kau memeluk seluruh sepi di dadaku / dan suaramu menjelma deru ombak itu" (larik 15-16). Pelukan sepi ini menggambarkan kedekatan emosional yang sangat intim, di mana sang aku lirik merasakan kehadiran yang dalam dari orang yang ia cintai. Sepi yang dipeluk bukanlah kesepian yang biasa, melainkan kesepian yang dalam dan eksistensial, yang mencakup seluruh perasaan kehilangan, penantian, dan harapan yang tak terwujud. Dengan pelukan ini, ada upaya untuk meredakan kesedihan dan memberikan kenyamanan meskipun perasaan-perasaan tersebut tetap ada.

Suara orang yang dicintai berubah menjadi deru ombak, yang sejak awal puisi telah digambarkan sebagai suara yang menenangkan. Ini menunjukkan bahwa cinta, meskipun tidak mampu menghilangkan semua penderitaan dan kesedihan, dapat memberikan rasa tenang dan kedamaian dalam hidup. Deru ombak yang terus datang dan pergi menggambarkan ketenangan yang berulang, seolah-olah cinta adalah sesuatu yang bisa membuat kesedihan dan kesepian menjadi lebih mudah ditanggung.

Kesimpulan: Kehidupan dan Kutukan Emosional

Puisi “Kutukan Bagi yang Hidup” adalah sebuah karya yang menyentuh tentang kedalaman perasaan manusia, khususnya tentang kesedihan, harapan, kehilangan, dan penantian. Dengan menggunakan simbolisme laut, ombak, dan senja, Jemi Batin Tikal menggambarkan betapa besarnya beban emosional yang harus ditanggung oleh manusia. Kesedihan tidak bisa ditampung bahkan oleh laut yang luas, dan harapan serta penantian menjadi kutukan bagi mereka yang hidup.

Namun, di balik semua itu, puisi ini juga menyiratkan bahwa ada cara untuk menghadapi kutukan ini, yaitu melalui kehadiran orang lain yang memberikan ketenangan, meskipun tidak menghapus sepenuhnya penderitaan. Cinta dan kedekatan, digambarkan dalam pelukan dan suara yang menjelma deru ombak, memberikan rasa tenang yang memungkinkan kita untuk terus menjalani hidup, meski kesedihan dan ketidakpastian tetap ada.

Puisi ini mengajak kita untuk menerima bahwa kesedihan dan harapan adalah bagian dari kehidupan yang tidak bisa dihindari, tetapi kita bisa menemukan ketenangan dalam hubungan dengan orang lain, dalam kehadiran dan pelukan yang membuat beban emosional tersebut sedikit lebih ringan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cerpen "To Build a Fire" dan Sastra Ekologi Saat Ini

Laut, Ibu, dan Kehidupan dalam Puisi "Menebalkan Ibu di Kerongkongan" karya Titan Sadewo

Bagaimana "The Tell-Tale Heart” Karya Edgar Allan Poe Dapat Digunakan untuk Meneroka Over-Awareness di Era Hiper-Modern