Mendedah Soal Adaptasi dalam Puisi "Pelajaran Bahasa" karya Dadang Ari Murtono
Puisi “Pelajaran Bahasa” karya Dadang Ari Murtono menggambarkan pengalaman hidup yang sederhana namun penuh makna, tentang bagaimana pindah rumah tidak hanya berarti berpindah tempat fisik, tetapi juga memasuki dunia baru dengan bahasa, kebiasaan, dan budaya yang berbeda. Melalui pembacaan dekat, puisi ini menunjukkan bahwa bahasa bukan hanya alat komunikasi, tetapi juga cerminan dari cara hidup, cara berinteraksi, dan cara masyarakat di suatu tempat memahami dunia di sekitar mereka. Puisi ini secara halus menyentuh tema tentang adaptasi, perbedaan budaya, serta bagaimana manusia menyesuaikan diri dengan lingkungan baru melalui pelajaran yang sering kali tak terucap.
Bahasa Baru yang Lahir Bersama Alamat Baru
Di awal puisi, kita dihadapkan pada kenyataan bahwa "bahasa baru lahir bersama alamat baru" (larik 2). Bahasa dalam konteks ini tidak hanya merujuk pada kata-kata yang diucapkan, tetapi lebih dari itu, bahasa di sini mencakup segala aspek budaya yang melekat pada tempat baru yang mereka huni—cara berbicara, cara berinteraksi, hingga kebiasaan sehari-hari. Dengan pindah rumah, mereka tidak hanya berganti tempat tinggal tetapi juga memasuki dunia baru dengan aturan sosial yang berbeda. "Jalan dan cara berkendara baru" serta "kuliner dan sapaan baru" adalah bagian dari pengalaman hidup baru yang harus mereka pelajari dan adaptasi. Perubahan ini menggambarkan bagaimana pindah rumah berarti belajar kembali, memahami kode-kode sosial baru yang mungkin berbeda dari yang biasa mereka alami sebelumnya.
Puisi ini menyoroti bahwa setiap kali kita berpindah tempat, kita juga dihadapkan pada "bahasa" baru, dalam arti yang lebih luas. Setiap lingkungan sosial memiliki cara berkomunikasi dan berinteraksi yang berbeda, yang harus kita pelajari agar bisa diterima dan berbaur dengan komunitas tersebut. Bahasa di sini juga bisa dilihat sebagai simbol dari perubahan, bagaimana manusia harus terus belajar dan beradaptasi dalam menghadapi kehidupan baru.
Desas-desus dan Bahasa yang Bekerja Memutar
Bagian kedua puisi ini menawarkan pengamatan yang menarik tentang perbedaan dalam cara masyarakat berkomunikasi. Ada kontras antara ekspektasi yang dihadapi oleh aku lirik dan kenyataan yang dia temukan: “Dan ia bersumpah atas nama Tuhan yang Maha Kuasa / bakal menagihnya ketika mereka berjumpa. / Ia bahkan menyiapkan sejumlah kata kasar / yang terdengar wagu di kuping Surabaya kita.” (larik 8-11). Ekspektasi awalnya adalah adanya konfrontasi langsung dengan bahasa yang kasar, sesuatu yang mungkin lebih umum di lingkungan sebelumnya, yang diduga sebagai Surabaya—kota dengan budaya yang dikenal lebih blak-blakan.
Namun, yang terjadi justru sebaliknya. Di Jogja, “bahasa bekerja memutar” (larik 19), sebuah cara berkomunikasi yang lebih halus, penuh kesabaran, dan sering kali tidak langsung. Ini mengungkapkan bagaimana budaya lokal mempengaruhi cara orang berinteraksi, di mana konflik dan perbedaan diselesaikan melalui jalur-jalur yang lebih subtil dan tidak frontal. Desas-desus menjadi mekanisme sosial yang bekerja untuk menyampaikan pesan atau ketidakpuasan tanpa harus menghadapinya secara langsung. Bahasa tidak hanya menjadi sarana komunikasi, tetapi juga cara untuk menjaga harmoni dan menghindari konflik terbuka.
Puisi ini menggambarkan bahwa bahasa, sebagai bagian dari budaya, bisa sangat berbeda tergantung tempatnya. Di satu tempat, seseorang mungkin terbiasa dengan kejujuran yang lugas, sedangkan di tempat lain, hal-hal yang sama disampaikan dengan cara yang lebih halus dan penuh implikasi. Ini menunjukkan bagaimana perbedaan budaya dan kebiasaan sangat mempengaruhi cara kita memahami dan menggunakan bahasa.
Bahasa sebagai Cermin Budaya
Dalam dialog antara aku lirik dan istrinya, serta dengan tetangganya, kita melihat bagaimana bahasa menjadi jendela untuk memahami budaya lokal. Ketika aku lirik berinteraksi dengan tetangga baru di pos ronda, dia tidak menemukan konfrontasi seperti yang diantisipasinya, melainkan candaan dan sapaan ramah yang penuh senyum. Hal ini menunjukkan bahwa bahasa yang digunakan di lingkungan baru lebih mengutamakan keharmonisan dan perasaan positif, meskipun mungkin ada masalah atau ketidakpuasan yang disembunyikan di baliknya.
Puisi ini juga menyoroti bahwa kita tidak hanya mempelajari kata-kata ketika pindah ke lingkungan baru, tetapi juga mempelajari nilai-nilai, norma, dan cara hidup yang berbeda. Bahasa di sini mencerminkan budaya, bagaimana orang-orang di tempat baru tersebut menghindari konfrontasi langsung, dan bagaimana ketidakpuasan sering kali disampaikan melalui jalur yang lebih tidak langsung, seperti desas-desus. Ini memberikan gambaran yang mendalam tentang bagaimana masyarakat berfungsi dan bagaimana bahasa digunakan sebagai alat untuk menjaga keseimbangan sosial.
Adaptasi dan Pembelajaran: Pengalaman Kolektif
Pada akhirnya, puisi ini menggarisbawahi bahwa pindah rumah bukan hanya tentang adaptasi fisik, tetapi juga tentang adaptasi sosial dan kultural. Setiap kali pindah rumah, kita tidak hanya membawa barang-barang kita ke alamat baru, tetapi juga harus membuka diri untuk belajar dan memahami cara hidup baru di lingkungan tersebut. “Setiap kali pindah rumah kita belajar bahasa-bahasa baru.” (larik 21). Ini adalah proses pembelajaran yang terus berlangsung, di mana kita harus memahami kebiasaan, norma, dan cara berkomunikasi di tempat baru agar bisa hidup harmonis dengan tetangga dan komunitas sekitar.
Bahasa, dalam konteks ini, mencakup lebih dari sekadar alat komunikasi verbal. Bahasa juga mencakup segala sesuatu yang mencerminkan budaya dan cara hidup masyarakat setempat. Dalam pengalaman kolektif manusia, proses adaptasi dan pembelajaran ini tidak pernah berhenti. Kita terus-menerus belajar bahasa baru ketika menghadapi situasi baru, baik itu dalam konteks geografis maupun sosial.
Kesimpulan: Bahasa sebagai Jembatan antara Dunia Lama dan Dunia Baru
Puisi “Pelajaran Bahasa” oleh Dadang Ari Murtono menyoroti bagaimana manusia, ketika pindah ke lingkungan baru, harus belajar lebih dari sekadar kata-kata. Bahasa dalam puisi ini melambangkan keseluruhan pengalaman budaya dan sosial yang perlu dipahami dan diadaptasi. Setiap tempat memiliki "bahasa" tersendiri—cara berkomunikasi, cara menyelesaikan konflik, bahkan cara menciptakan harmoni dalam kehidupan sehari-hari. Bahasa tidak hanya menjadi alat komunikasi, tetapi juga cerminan dari bagaimana masyarakat tertentu hidup dan berinteraksi.
Melalui puisi ini, kita diajak untuk merenungkan bagaimana perbedaan budaya dan kebiasaan dapat membentuk cara kita memahami dunia dan sesama. Dengan mempelajari bahasa-bahasa baru setiap kali kita berpindah tempat, kita tidak hanya belajar berkomunikasi, tetapi juga memahami lebih dalam tentang kemanusiaan, tentang bagaimana orang di tempat baru menjalani hidup, dan tentang bagaimana kita bisa beradaptasi dan menjadi bagian dari komunitas tersebut. Ini adalah pengingat bahwa bahasa, dalam segala bentuknya, adalah jembatan yang menghubungkan kita dengan orang lain dan dunia baru yang kita masuki.
Komentar