Emosi tentang Kehilangan dalam Puisi "Ratapan Hantu Nipah" karya Royyan Julian
Puisi “Ratapan Hantu Nipah” karya Royyan Julian mengangkat tema kesedihan, kehilangan, dan ketidakadilan yang dialami oleh suatu kelompok masyarakat, dengan latar belakang sejarah atau peristiwa kekerasan di Sampang, Madura. Melalui penggunaan citra yang kuat dan bahasa yang puitis, puisi ini menggambarkan ratapan mereka yang telah mati—hantu-hantu yang menangis di tepi tanggul Nipah, meratapi nasib tanah dan bangsanya. Melalui pembacaan dekat, kita bisa merasakan emosi yang mendalam tentang kehilangan yang dialami, sekaligus mengkritik kekerasan yang terus berulang dan ketidakmampuan manusia untuk sepenuhnya memahami atau mengatasi penderitaan ini.
Hantu dan Ratapan: Suara dari Dunia Kematian
Puisi ini dimulai dengan suasana yang kelam dan emosional: “Di tepi tanggul Nipah / kami duduk dan menangis / saat terkenang pada Sampang, / Sampangku yang berdarah” (larik 1-4). Tanggul Nipah menjadi tempat simbolis, di mana roh-roh atau hantu-hantu berkumpul untuk meratapi apa yang terjadi di Sampang, sebuah tempat yang penuh dengan kenangan berdarah. Sampang, dalam puisi ini, tidak hanya sekadar tempat fisik tetapi juga simbol dari kekerasan, trauma, dan penderitaan kolektif yang mendalam.
Hantu-hantu ini menangis bukan hanya untuk diri mereka sendiri, tetapi juga untuk sejarah panjang kekerasan yang telah menimpa tanah mereka. Ratapan mereka bukan sekadar ekspresi kesedihan pribadi, melainkan bentuk peringatan terhadap ketidakadilan yang terus menimpa Sampang. Dengan duduk dan menangis, para hantu ini tidak memiliki kekuatan lagi untuk mengubah keadaan—mereka hanya bisa meratapi apa yang telah hilang. Ini menggambarkan betapa besarnya penderitaan yang dialami sehingga bahkan setelah kematian, mereka tidak bisa tenang.
Harum Fatiha dan Doa untuk Ketenangan
Larik “sebab di sanalah kami hanyutkan / harum Fatiha kepada pitarah” (larik 5-6) menunjukkan bagaimana mereka yang sudah mati mencoba mencari ketenangan di alam barzakh (kehidupan setelah kematian). Fatiha, doa yang sering dibaca dalam tradisi Islam untuk mengirimkan berkah kepada orang-orang yang telah meninggal, di sini menjadi simbol dari harapan akan kedamaian di akhirat. Namun, “pitarah” (yang dapat diartikan sebagai keluarga atau leluhur) mengisyaratkan bahwa mereka yang meninggal juga masih terhubung dengan sejarah dan keluarga mereka yang tersisa di dunia.
Larik “Wiridkanlah bagi kami / restu untuk barzakh!” (larik 7-8) adalah permintaan mendalam dari para arwah, memohon doa agar mereka bisa mendapatkan ketenangan di alam barzakh. Ini adalah pengakuan bahwa meskipun mereka sudah meninggal, mereka belum bisa benar-benar tenang karena warisan kekerasan dan ketidakadilan yang masih menyelimuti tanah mereka. Permohonan ini mencerminkan kebutuhan manusia, bahkan setelah kematian, akan pengampunan, restu, dan kedamaian, yang sayangnya sulit diraih karena trauma yang belum selesai.
Ketidakmungkinan Berkah dari Lidah yang Mati
Larik “Tetapi bagaimana mungkin / kami madahkan berkah / dari lidah arwah Nipah?” (larik 9-11) mencerminkan ketidakmungkinan mereka yang sudah mati untuk mengucapkan doa atau berkah. Lidah arwah, yang sudah tidak lagi hidup, tidak bisa memadahkan doa atau memberikan berkah. Ini menggambarkan keterbatasan manusia setelah kematian—bahwa mereka yang mati tidak bisa lagi terlibat secara langsung dalam dunia yang mereka tinggalkan. Kehidupan mereka di alam barzakh terpisah dari dunia fisik, tetapi penderitaan mereka tetap ada.
Dalam konteks ini, lidah arwah juga melambangkan hilangnya suara mereka yang menjadi korban kekerasan. Mereka tidak bisa lagi berbicara untuk diri mereka sendiri atau memperjuangkan hak mereka. Lidah arwah Nipah adalah simbol dari ketidakberdayaan mereka yang telah mati, sebuah pengingat bahwa dalam kematian, mereka hanya bisa menjadi saksi bisu atas apa yang terjadi.
Doa yang Menjadi Dedalu: Kegagalan dan Harapan yang Hancur
Larik “Maka katakan kepada Bani Alawy: / ‘Doamu menjadi dedalu / yang kan gugur satu tumbuh seribu.’” (larik 12-14) membawa kritik terhadap doa yang hanya menjadi simbol, tanpa tindakan nyata. Dedalu, jenis tanaman yang kerap dianggap sebagai tanaman parasit, di sini menjadi metafora untuk doa-doa yang tampaknya tidak efektif. Doa tersebut mungkin tumbuh banyak, tetapi tidak memberikan hasil yang diharapkan. Seperti dedalu yang gugur, doa-doa ini tidak memiliki kekuatan untuk mengubah keadaan atau memberikan keadilan bagi mereka yang sudah mati.
Larik ini menyiratkan bahwa meskipun doa adalah bagian penting dari tradisi keagamaan, doa saja tidak cukup untuk mengatasi penderitaan atau kekerasan yang sistemik. Diperlukan tindakan nyata untuk menghentikan kekerasan dan memberikan keadilan. Dedalu yang tumbuh satu gugur seribu menggambarkan bahwa meskipun ada upaya spiritual, hasilnya tidak efektif dalam menghadapi kekerasan yang berulang.
Seruan dan Kejatuhan: Kesedihan yang Berulang
Bagian terakhir dari puisi ini memperlihatkan ketidakberdayaan dan kerapuhan dalam menghadapi kekerasan yang terus terjadi: “Dan berbahagialah / putra-putri bangsaku yang berseru: / ‘Robohkan! Robohkan!’” (larik 15-17). Seruan untuk merobohkan sesuatu menunjukkan semangat destruktif yang tumbuh di tengah masyarakat. Ini bisa dilihat sebagai seruan untuk meruntuhkan kekuasaan yang menindas, tetapi juga bisa dipahami sebagai bentuk perlawanan yang penuh kekerasan. Seruan ini mungkin berasal dari putus asa, di mana satu-satunya solusi yang dilihat adalah dengan merobohkan segala sesuatu yang ada, baik itu struktur kekuasaan atau bahkan nilai-nilai kemanusiaan.
Namun, ada ironi di balik seruan ini. "Berbahagialah" yang diungkapkan dalam puisi ini tidak menunjukkan kebahagiaan yang sebenarnya, melainkan sebuah kepahitan. Mereka yang berseru untuk merobohkan tidak benar-benar bahagia, karena di balik seruan tersebut tersembunyi penderitaan dan keputusasaan yang mendalam.
Kesedihan Kolektif: Ratapan yang Abadi
Puisi ini kembali berulang dengan larik yang sama di akhir: “Di tepi tanggul Nipah ini, Gusti, / kami duduk dan menangis / saat terkenang pada Sampang, / Sampangku yang berdarah” (larik 18-21). Pengulangan ini menekankan bahwa kesedihan dan ratapan ini bukanlah sesuatu yang bisa diselesaikan dengan cepat. Kesedihan ini bersifat kolektif, menyelimuti mereka yang hidup dan yang mati, menandakan bahwa trauma kekerasan terus membayangi kehidupan orang-orang di Sampang.
Referensi kepada "Gusti" (Tuhan) menunjukkan bahwa ratapan ini tidak hanya ditujukan kepada manusia, tetapi juga kepada yang ilahi. Ada harapan agar Tuhan bisa memberikan jalan keluar dari penderitaan ini, namun pada saat yang sama, ada kesadaran bahwa ratapan ini mungkin tidak akan segera berakhir. Puisi ini menggambarkan bagaimana kesedihan, kehilangan, dan ketidakadilan menjadi bagian yang sulit dipisahkan dari kehidupan masyarakat yang pernah mengalami kekerasan.
Kesimpulan: Ratapan, Kematian, dan Pencarian Keadilan
“Ratapan Hantu Nipah” adalah sebuah puisi yang penuh dengan kesedihan mendalam, menggambarkan ratapan dari dunia kematian atas kekerasan dan ketidakadilan yang terjadi di Sampang. Melalui gambar-gambar hantu, lidah yang bisu, dan doa yang tidak efektif, Royyan Julian menciptakan suasana penuh kesedihan dan kehilangan, sekaligus menyentil harapan-harapan yang tidak terpenuhi.
Puisi ini mengajak kita untuk merenungkan tentang korban-korban kekerasan yang suaranya telah hilang, dan tentang bagaimana doa dan ritual saja tidak cukup untuk memberikan keadilan bagi mereka yang sudah meninggal. Perlu ada tindakan nyata untuk menghentikan kekerasan dan mengatasi penderitaan yang terus berulang. Ratapan ini tidak hanya milik mereka yang telah mati, tetapi juga milik mereka yang masih hidup, merasakan dampak dari trauma kekerasan yang belum terselesaikan.
Komentar