Harapan akan Bahagia dalam Puisi "Doa Awal Tahun" karya Yohan Fikri

Puisi “Doa Awal Tahun” karya Yohan Fikri adalah sebuah refleksi yang puitis dan penuh perenungan tentang pergantian tahun, kesedihan, kebahagiaan, dan harapan untuk masa depan. Melalui doa yang menyentuh, puisi ini menyuarakan harapan agar manusia mampu menghadapi segala tantangan dan perubahan dengan kelapangan hati, sambil juga mengingatkan bahwa waktu berlalu membawa janji-janji yang sering kali tidak terpenuhi dan mimpi-mimpi yang tertunda. Melalui pembacaan dekat, kita dapat menangkap makna yang lebih dalam tentang kehidupan yang selalu bergerak maju, namun tetap meninggalkan jejak kesedihan dan ketidakpastian.

Kelapangan Dada: Simbol Penerimaan

Puisi ini dimulai dengan sebuah doa yang penuh dengan harapan: “Semoga dada ini masihlah langit beserta kelapangannya, menerima segala kilatan dan denturan, mendekap seluruh gelak, teriak, dan tangisan” (larik 1-3). Dada, yang sering kali menjadi simbol dari perasaan dan emosi manusia, disamakan dengan langit yang luas dan lapang. Harapan yang diungkapkan di sini adalah agar dada tetap mampu menerima segala hal—baik itu kebahagiaan maupun kesedihan, tawa maupun tangisan—dengan kelapangan hati. Langit, yang tak terbatas, menjadi simbol dari kemampuan manusia untuk menerima segala bentuk emosi tanpa tenggelam di dalamnya.

Kelapangan dada ini juga menyinggung kemampuan untuk menampung segala kilatan—baik itu kilat fisik atau metaforis, seperti peristiwa-peristiwa besar yang mungkin datang tanpa terduga dan kadang menyakitkan. Dalam kehidupan, kita dihadapkan pada berbagai macam kejutan dan guncangan, namun doa ini menginginkan agar kita tetap mampu menerimanya dengan ketenangan dan kelapangan.

Resolusi dan Kenyataan: Ketegangan antara Harapan dan Realitas

Bagian selanjutnya dari puisi ini mencerminkan ironi yang sering kali kita temui saat memasuki tahun baru: “resolusi yang itu-itu saja: seputar asmara dan mata uang—yang, padahal, kerap membikin dada jadi berlubang” (larik 5-6). Setiap awal tahun, banyak dari kita membuat resolusi yang serupa, sering kali berfokus pada hal-hal yang materialistik atau emosional seperti asmara dan keuangan. Namun, di balik resolusi ini, ada perasaan hampa yang sering kali muncul. Resolusi tersebut, meskipun diharapkan dapat membawa kebahagiaan, justru kerap menjadi sumber kekhawatiran dan tekanan, membuat dada terasa kosong atau “berlubang.”

Puisi ini menyentuh ketegangan antara harapan yang diutarakan pada awal tahun dan realitas yang dihadapi sepanjang tahun. Resolusi yang diulang-ulang mencerminkan keinginan manusia untuk memperbaiki atau memperbaharui hidup mereka, namun kenyataan menunjukkan bahwa harapan-harapan ini tidak selalu membuahkan hasil yang diinginkan. Dalam hal ini, puisi ini menggambarkan kerapuhan manusia dalam menghadapi pergantian waktu dan tekanan dari keinginan yang mungkin tidak selalu realistis.

Waktu yang Berlalu: Kenangan yang Menghantui

Larik “Almanak telah mengelupaskan angka-angka, hanyut di keruh sungai waktu” (larik 7) menggambarkan berlalunya waktu dengan citra almanak yang angka-angkanya terkelupas, menunjukkan bahwa waktu terus berlalu, tak terbendung. Sungai waktu, yang keruh, melambangkan bahwa perjalanan waktu tidak selalu bersih atau jelas—ada banyak hal yang tersembunyi dan tidak dapat dipahami. Masa lalu yang tersisa penuh dengan "igau", janji-janji yang tidak terpenuhi, dan mimpi-mimpi yang belum selesai, menggambarkan perasaan kekecewaan dan ketidakpastian yang sering kali mengikuti manusia saat mereka menengok ke belakang.

Ada kesan melankolis yang kuat dalam bagian ini, di mana puisi mengungkapkan bagaimana waktu berlalu tanpa menyelesaikan apa yang diharapkan atau diimpikan. Janji-janji yang tidak terpenuhi dan mimpi-mimpi yang tertunda adalah cerminan dari ketidakpuasan hidup, di mana harapan yang dibangun di masa lalu sering kali tidak terwujud. Ini adalah pengingat akan keterbatasan manusia dalam menghadapi waktu, di mana banyak hal yang diinginkan tidak pernah terwujud sepenuhnya.

Kesedihan dan Harapan: Riuh yang Sepintas Lalu

Bagian selanjutnya dari puisi ini menawarkan doa agar kesedihan tidak menjadi sesuatu yang menetap: “Semoga kesedihan hanyalah keriuhan sepintas lalu” (larik 10). Kesedihan, dalam pandangan penyair, adalah bagian dari kehidupan, tetapi harapannya adalah agar kesedihan itu hanya sementara, seperti keriuhan yang datang dan pergi. Puisi ini mengakui bahwa kesedihan memang tidak bisa dihindari, tetapi juga menginginkan agar kesedihan itu tidak menjadi sesuatu yang menetap di hati kita. Ini adalah doa agar kesedihan tidak menguasai hidup, melainkan lewat seperti dentang jam atau kembang api tahun baru yang hanya sebentar memenuhi langit sebelum menghilang.

Di sisi lain, harapan yang diutarakan adalah agar "kebaikan demi kebaikan" tetap bertahan lebih lama: “Semoga kebaikan demi kebaikan akan tinggal dalam jangka yang lama” (larik 12). Ada kerinduan akan keabadian dari hal-hal yang baik, berbeda dengan kesedihan yang diharapkan cepat berlalu. Kebaikan digambarkan sebagai sesuatu yang lebih bernilai dan diinginkan agar bisa bertahan dalam hidup kita. Ini menggambarkan keseimbangan antara dua aspek kehidupan—kesedihan dan kebahagiaan—di mana manusia berharap agar kebahagiaan dan kebaikan tetap tinggal lebih lama dibandingkan kesedihan yang hanya sementara.

Kritik terhadap Kehidupan yang Sementara

Puisi ini juga menggambarkan kehidupan modern dengan kritik halus: “Tak serupa kamar-kamar hotel, bilik-bilik vila, yang sejenak sesak oleh reservasi dan kecut-peluh berahi, lalu dibekukan oleh sunyi” (larik 13-15). Hotel dan vila menjadi simbol dari tempat sementara, di mana orang datang dan pergi, membawa keinginan-keinginan sesaat. Kehidupan modern, yang sering kali dikejar oleh nafsu, uang, dan kenikmatan sementara, dikritik sebagai sesuatu yang tidak bertahan lama dan akhirnya hanya dibekukan oleh kesunyian.

Larik “Semoga nasib bukanlah buih-buih yang sebentar meluap, kemudian menyusut” (larik 16) adalah doa agar kehidupan dan nasib kita tidak hanya seperti buih yang datang dan pergi, muncul dan menghilang tanpa makna yang bertahan. Ada keinginan yang mendalam agar hidup lebih dari sekadar pengalaman sementara atau kebahagiaan sesaat yang kemudian lenyap tanpa meninggalkan jejak. Ini adalah refleksi yang mendalam tentang bagaimana kita ingin hidup kita memiliki dampak yang lebih abadi, di luar kenikmatan sesaat yang sering kali justru memperburuk kesepian.

Kesimpulan: Harapan dan Keseimbangan dalam Kehidupan

Puisi “Doa Awal Tahun” karya Yohan Fikri adalah sebuah doa dan refleksi yang mencerminkan harapan manusia untuk menemukan makna dan kebahagiaan di tengah pergantian waktu yang penuh ketidakpastian. Melalui simbol-simbol waktu, almanak, resolusi, dan kesedihan, puisi ini mengungkapkan kerentanan manusia dalam menghadapi hidup, namun juga memperlihatkan dorongan untuk terus berharap dan mencari kebahagiaan yang lebih abadi.

Doa dalam puisi ini adalah harapan agar dada manusia tetap lapang untuk menerima segala bentuk pengalaman hidup, baik itu yang menyenangkan maupun yang menyakitkan. Di balik setiap kesedihan, ada harapan bahwa kebaikan akan bertahan lebih lama. Ini adalah pengingat bahwa kehidupan tidak hanya tentang merayakan momen-momen bahagia, tetapi juga tentang bagaimana kita menerima dan bertahan di tengah kesulitan, dengan keyakinan bahwa kebaikan akan tetap hadir dan memberi makna.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cerpen "To Build a Fire" dan Sastra Ekologi Saat Ini

Laut, Ibu, dan Kehidupan dalam Puisi "Menebalkan Ibu di Kerongkongan" karya Titan Sadewo

Bagaimana "The Tell-Tale Heart” Karya Edgar Allan Poe Dapat Digunakan untuk Meneroka Over-Awareness di Era Hiper-Modern