Lapisan-Lapisan Absurditas Hidup dalam Puisi "Pion dan Sisifus" karya Lamuh Syamsuar
Puisi *"Pion dan Sisifus"* karya Lamuh Syamsuar menyajikan sebuah perenungan mendalam tentang kehidupan manusia yang penuh perjuangan, keterjebakan, dan kutukan yang tak terhindarkan. Melalui dua simbol besar—pion dan Sisifus—puisi ini menggambarkan bagaimana manusia sering kali terjebak dalam siklus tanpa akhir, antara perjuangan untuk bertahan hidup dan keputusasaan yang datang dari kenyataan hidup yang tak berubah. Pembacaan dekat terhadap puisi ini mengungkap lapisan-lapisan makna yang menyoroti ketidakberdayaan, ketahanan, dan absurditas kehidupan.
Pion: Simbol Keterbatasan dan Keterjebakan
Puisi ini dimulai dengan pertanyaan reflektif: "adakah pilahan lain yang lebih kejam / dari kutukan menjadi sebatang pion" (larik 1-2). Pion dalam catur adalah bidak terkecil dan sering kali dianggap sebagai simbol kelemahan, keterbatasan, dan ketidakberdayaan. Dalam konteks kehidupan, menjadi pion bisa diartikan sebagai seseorang yang tidak memiliki banyak kendali atas nasibnya, yang terus digerakkan oleh kekuatan eksternal tanpa kemampuan untuk menentukan arah hidupnya sendiri. Sebagai pion, seseorang terjebak dalam permainan yang lebih besar daripada dirinya sendiri, dan setiap langkah yang diambil dipandu oleh aturan yang ditetapkan oleh orang lain.
Penyair kemudian memperluas metafora ini dengan menggambarkan pilihan hidup yang tak kalah keras: "misalnya, sebagai pembabat pelepah talas / di tepi air atau pengoyak tegalan jagung / di antara hujan pasir hingga banjir lahar" (larik 3-5). Gambaran ini mencerminkan kerja keras dan kesulitan hidup yang dialami oleh banyak orang, khususnya mereka yang berada di lapisan bawah masyarakat. Hidup mereka ditandai oleh perjuangan fisik yang terus-menerus, seperti membabat pelepah talas atau bekerja di ladang yang dihantam oleh bencana alam. Ini adalah pilihan hidup yang keras, penuh tantangan, dan terkadang tampak seperti perjuangan yang sia-sia, mirip dengan kehidupan pion yang bergerak di papan catur tanpa banyak peluang untuk mencapai kemenangan.
Sisifus: Simbol Perjuangan yang Absurditas
Dalam mitologi Yunani, Sisifus dikutuk untuk terus-menerus mendorong batu besar ke atas bukit hanya untuk melihatnya kembali bergulir turun setiap kali hampir mencapai puncak. Sosok Sisifus dalam puisi ini berfungsi sebagai simbol dari perjuangan manusia yang tampaknya sia-sia, tetapi tetap dijalani tanpa henti. Dalam larik "aduhai, pengangkut batu. katakan / kapan kau akan menyerah pada maut" (larik 7-8), penyair mengajukan pertanyaan mendasar: kapan manusia akan menyerah pada kesia-siaan perjuangan hidup? Sisifus tidak menyerah pada maut, meskipun hidupnya dipenuhi oleh pekerjaan yang tanpa akhir. Ini menunjukkan kekuatan ketahanan manusia, tetapi juga ironi bahwa kehidupan bisa begitu penuh dengan kerja keras yang tampaknya tidak memiliki tujuan.
"Suaramu merdu sepahit madu" (larik 9) menyiratkan bahwa, meskipun perjuangan Sisifus terasa pahit, ada sesuatu yang indah atau bermakna di dalamnya. Madu, yang manis tetapi juga pahit, melambangkan dualitas kehidupan: ada rasa sakit dan keindahan dalam perjuangan. Meskipun langkah Sisifus tidak menghasilkan kebebasan dari kutukan, ada sesuatu yang "harum" dalam ketekunan dan kesetiaannya terhadap tugasnya, sebagaimana digambarkan dalam larik "langkahmu lebih harum dari permata" (larik 10). Sisifus, seperti pion, terus maju meskipun hidupnya tampaknya tidak menghasilkan hasil yang signifikan.
Perjuangan yang Tak Berakhir
Bagian selanjutnya dari puisi ini menggambarkan absurditas kehidupan yang berputar tanpa akhir: "teruslah diam seperti baling-baling berputar" (larik 11). Baling-baling yang terus berputar tanpa henti menjadi metafora dari siklus kehidupan yang tampaknya berulang dan tak pernah berhenti. Dalam kehidupan yang penuh dengan rutinitas dan pekerjaan yang seolah-olah tanpa akhir, manusia terus berjuang meskipun hasilnya sering kali tidak berbeda jauh dari hari ke hari.
Larik "sebutir peluh di keningmu luruh" (larik 12) menggambarkan kelelahan fisik yang dialami dalam perjuangan hidup. Peluh yang jatuh dari kening menggambarkan ketegangan fisik dan mental yang dialami manusia dalam menjalani kehidupan yang berat. Namun, kelelahan ini bukan alasan untuk berhenti—sebaliknya, ini adalah bagian dari perjalanan hidup yang tak bisa dihindari. Ada sesuatu yang heroik dalam keteguhan ini, meskipun juga diselimuti absurditas.
Dalam larik "bagaimana rasa hatimu / tersungkur dalam bingkai papan catur" (larik 13-14), penyair menggambarkan bagaimana pion, dan manusia pada umumnya, tersungkur di papan catur kehidupan. Pion adalah bagian dari permainan yang lebih besar, dan sering kali tersungkur atau jatuh karena kekuatan yang lebih besar daripada dirinya. Kehidupan diibaratkan sebagai permainan catur, di mana setiap langkah memiliki risiko, dan terkadang kita tidak punya pilihan selain maju menuju bahaya atau mundur menuju ketidakpastian.
Keterjebakan dalam Pilihan Hidup
Larik "maju tampak dada. mundur tampak pungkur" (larik 15) adalah sebuah ungkapan yang menggambarkan dilema klasik dalam kehidupan. Maju berarti menghadapi bahaya secara langsung, sementara mundur berarti melarikan diri tetapi tetap menghadapi konsekuensi. Ini adalah pilihan yang sulit, di mana setiap tindakan membawa risiko dan ketidakpastian. Seperti pion yang hanya bisa maju satu langkah setiap kali, manusia sering kali dihadapkan pada pilihan yang terbatas dan sulit dalam kehidupan.
Kesimpulan: Kehidupan sebagai Perjuangan Absurditas
Puisi "Pion dan Sisifus" karya Lamuh Syamsuar adalah sebuah refleksi mendalam tentang kehidupan manusia yang penuh dengan perjuangan, keterjebakan, dan absurditas. Melalui simbol pion dan Sisifus, penyair menggambarkan bagaimana manusia sering kali terjebak dalam siklus kerja keras yang tampaknya sia-sia, tetapi tetap dilanjutkan karena tidak ada pilihan lain. Kehidupan diibaratkan sebagai permainan catur dan sebagai kutukan yang harus dijalani, meskipun hasil akhirnya mungkin tidak jelas atau memuaskan.
Namun, di balik absurditas ini, ada juga ketahanan dan kekuatan dalam perjuangan. Seperti Sisifus yang terus mendorong batu, dan seperti pion yang terus melangkah di papan catur, manusia tetap melanjutkan hidup meskipun tahu bahwa kehidupan penuh dengan risiko dan ketidakpastian. Puisi ini, dengan caranya yang melankolis dan reflektif, mengajak pembaca untuk merenungkan makna dari perjuangan hidup yang terus-menerus, dan menerima bahwa dalam keterbatasan dan ketidakpastian itulah manusia menemukan kekuatannya.
Komentar