Membincang Kematian, Sejarah, dan Keberlanjutan dalam Puisi "Setelah Matinya Cilinaya" karya Ilham Rabbani
Puisi “Setelah Matinya Cilinaya” karya Ilham Rabbani menawarkan sebuah refleksi mendalam tentang kematian, kenangan, dan manipulasi sejarah. Dengan menggunakan bahasa yang simbolik dan kaya metafora, penyair membawa kita pada perjalanan perenungan tentang apa yang tersisa setelah seseorang atau sesuatu mati, dan bagaimana nama serta cerita tetap hidup, meski mungkin telah dimanipulasi oleh mereka yang menguasai narasi. Cilinaya, dalam puisi ini, mungkin merujuk pada sosok atau entitas simbolis yang menggambarkan sesuatu yang telah berlalu, tetapi tetap hidup dalam ingatan atau wacana, meski wujudnya sudah tak ada. Melalui pembacaan dekat, kita dapat menggali bagaimana puisi ini berbicara tentang keberlanjutan, kematian, dan distorsi dalam ingatan serta cerita.
Kehidupan Setelah Kematian: Nama dan Janji yang Tetap Hidup
Puisi ini dimulai dengan pernyataan yang mencerminkan ketidakhadiran fisik setelah kematian, tetapi juga keberlanjutan sesuatu yang lebih abstrak: “Yang hidup di luar peti hanyut / adalah wangi nama, janji-janji, / juga jejak pekerti.” (larik 1-5). Larik ini menunjukkan bahwa meski tubuh telah mati—terbawa oleh "peti hanyut"—nama, janji, dan moralitas (pekerti) tetap hidup. Nama, dalam hal ini, melambangkan reputasi atau warisan yang ditinggalkan seseorang. Janji-janji, meski mungkin tidak terpenuhi, tetap ada dalam ingatan, baik sebagai harapan atau kekecewaan.
Frasa "wangi nama" menggambarkan bagaimana nama seseorang masih dikenang, tetapi dalam wujud yang abstrak, serupa wangi yang tidak terlihat namun tetap terasa. Namun, jejak pekerti—yang merujuk pada perilaku dan kebajikan seseorang—menunjukkan bahwa yang tetap hidup bukan hanya nama atau simbol, tetapi juga tindakan dan moralitas yang meninggalkan bekas.
Cilinaya dan Puitika Keabadian
Bagian kedua puisi ini menyoroti sosok Cilinaya secara lebih intim. "Namamu wangi setanggi" (larik 6) menekankan simbol aroma suci atau dupa yang biasa digunakan dalam ritual atau peringatan kematian. Nama Cilinaya menjadi semacam simbol spiritual, menyeberang dari dunia fisik menuju dunia metaforis. Angin dan daun-daun ketapang yang diterpa (larik 7-11) memberikan kesan alamiah, di mana alam semesta pun turut menjadi saksi dari peralihan eksistensial yang terjadi pada Cilinaya. Ada keindahan yang lembut namun juga kesedihan yang mendalam dalam gambaran alam ini, seolah-olah alam turut merasakan kematian Cilinaya.
Penyair kemudian menghadirkan gambaran "keris setajam tanduk menjangan", yang melesap di antara keluk sungai (larik 12-16), sebuah metafora yang penuh kekuatan. Keris, sebagai simbol kekuatan dan perlindungan dalam budaya Indonesia, juga bisa merujuk pada keberanian atau kekuasaan yang perlahan lenyap bersama hilangnya sosok Cilinaya. Tubuh Cilinaya, diumpamakan sebagai lanskap sungai yang rumit, mengandung lapisan-lapisan sejarah, cerita, dan perasaan yang tidak mudah dijelaskan. Sungai-sungai ini bisa jadi mewakili arus kehidupan yang terus mengalir meski satu nyawa telah pergi.
Pertanyaan tentang Kematian dan Keabadian
Bagian ketiga puisi ini menanyakan sesuatu yang mendasar: “Tetapi apa yang kembali / selepas napas kita tuntas?” (larik 17-18). Ini adalah pertanyaan eksistensial yang mendalam, menyoal tentang apa yang tersisa setelah seseorang atau sesuatu mati. Apakah ada yang kembali, atau semuanya hilang begitu saja? Ini adalah inti dari kontemplasi tentang kehidupan setelah kematian, di mana sang penyair bertanya-tanya apakah ada yang bisa "kembali" setelah napas terakhir dihembuskan. Bagian ini mengundang pembaca untuk merenungkan makna kematian dan apakah sesuatu yang abadi masih bisa ditemukan setelah kematian fisik.
Distorsi Sejarah dan Manipulasi Kenangan
Bagian keempat memperkenalkan dimensi baru dalam puisi ini: bagaimana cerita dan ingatan dimanipulasi oleh mereka yang berkuasa. "Pada lancip lidah para pengisah: / beringin tumbuh di atas sebutir pasir" (larik 19-20) menunjukkan bagaimana para pencerita—baik sejarawan, penguasa, atau masyarakat—dapat membentuk kembali realitas sesuai keinginan mereka. Beringin, yang biasanya melambangkan kekuatan dan stabilitas, tidak mungkin tumbuh di atas pasir yang rapuh. Namun, dalam dunia cerita, segala sesuatu mungkin terjadi, dan kebenaran dapat dengan mudah dibengkokkan atau dilebih-lebihkan.
Larik "rotasi bumi berbalik arah; / matahari redup, padam / tak pernah menyala kembali" (larik 21-23) menggambarkan bagaimana dunia yang kita kenal bisa terbalik melalui narasi yang salah atau dimanipulasi. Sejarah dan ingatan manusia bisa dibuat-buat oleh mereka yang memiliki kuasa atas kata-kata, yang kemudian "membuat raga dari lempung kata-kata" (larik 24-25). Ini adalah gambaran bagaimana manusia dibentuk oleh cerita dan kata-kata yang disampaikan oleh orang lain. Ada unsur tragis di sini, bahwa mereka yang telah moksa, atau mencapai pelepasan spiritual, mungkin saja ditarik kembali ke dunia fisik hanya melalui narasi yang dibentuk oleh orang-orang yang masih hidup.
Cilinaya sebagai Simbol Sejarah yang Dimanipulasi
Di bagian kelima, aku lirik memberikan nama kepada sosok ini: "Aku menamaimu Cilinaya" (larik 26). Cilinaya disebut sebagai sesuatu yang "lampau sekaligus asing", yang menunjukkan bahwa meski ia berasal dari masa lalu, ada jarak antara bagaimana kita mengingatnya dan realitas sebenarnya. Penyair juga mengakui bahwa kebajikan yang dilakukan oleh Cilinaya telah disulap oleh mereka yang berkuasa—mereka yang *nampang di tinggi pelang-pelang* (larik 33-34). Nama dan kisah Cilinaya, meski mungkin awalnya murni, kini telah terdistorsi oleh narasi-narasi yang dibuat oleh orang-orang yang memiliki agenda.
Kehidupan yang Terus Berlanjut dan Manipulasi yang Tak Berhenti
Bagian terakhir puisi ini mengulang kembali tema dari bagian pertama, tetapi dengan tambahan nuansa manipulasi: "Yang tetap hidup setelah peti hanyut / adalah wangi nama, manipulasi, / juga janji-janji yang pura-pura" (larik 35-37). Ini adalah refleksi pahit bahwa meski nama dan ingatan tetap ada, mereka tidak lagi asli atau murni. Ingatan kita tentang seseorang atau sesuatu telah dicampur dengan manipulasi dan janji-janji palsu, yang kita "pura-pura tak pernah ingat lagi" (larik 38). Ini adalah kritik terhadap bagaimana sejarah dan ingatan sering kali diubah atau dilupakan, baik oleh mereka yang berkuasa maupun oleh masyarakat secara umum.
Kesimpulan: Kematian, Kenangan, dan Distorsi
“Setelah Matinya Cilinaya” adalah puisi yang menggambarkan keterkaitan antara kematian, kenangan, dan manipulasi sejarah. Melalui pembacaan dekat, kita bisa melihat bagaimana Ilham Rabbani mengangkat tema tentang apa yang tersisa setelah seseorang meninggal—nama, pekerti, dan janji—serta bagaimana narasi tentang sosok tersebut sering kali dimanipulasi oleh mereka yang berkuasa. Puisi ini menjadi refleksi mendalam tentang bagaimana sejarah dan ingatan dibentuk, diubah, atau bahkan dilupakan, sementara kehidupan terus berlanjut dengan janji-janji yang tak terpenuhi.
Pada akhirnya, "Cilinaya" adalah simbol dari sejarah dan kisah yang terus-menerus dirombak oleh tangan-tangan yang memegang kuasa atas kata-kata, sementara yang tersisa hanyalah wangi nama dan manipulasi yang pura-pura kita lupakan.
Komentar