Sebuah Undangan untuk Merenungkan Kerapuhan Manusia (di) Indonesia
Telaah Singkat Kumpulan Cerita Suatu Masa di SuatuTempat karya Arie F Batubara
Suatu
Masa di Suatu Tempat
adalah kumpulan cerita pendek karya Arie F. Batubara, seorang penulis yang
telah menulis sejak 1970-an. Cerpen-cerpen dalam buku ini ditulis pada rentang
1990-an hingga 2000-an, sebuah periode ketika Indonesia berada di ambang
pergolakan sosial-politik besar: dari rezim Orde Baru menuju Reformasi. Namun,
karya-karya ini baru dibukukan pada Juni 2025, sehingga pembaca kini seakan
diajak menyusuri arsip sastra yang lama tersimpan.
Hal
unik dari buku ini adalah cara ia lahir, menurut apa yang dituliskan lewat
pengantar penulis: bukan dari seleksi naskah yang “terbaik”, melainkan dari apa
yang berhasil ditemukan penulis di arsip digital pribadinya. Cerita-cerita ini
seperti fragmen ingatan yang kemudian disatukan, membentuk mosaik tentang
manusia, waktu, dan sejarah.
Dilihat
dari tema-tema yang ada di dalam cerita-cerita yang ada dalam buku ini, agaknya
gagasan besar dari kepenulisan Arie F Batubara adalah bahwa manusia tidak
pernah hidup sendirian: ia selalu berada dalam arus sejarah, tradisi, dan
perubahan sosial yang lebih besar dari dirinya.
Spektrum
yang sangat luas itu, melalui kumpulan cerita kali ini, dibagi ke dalam
beberapa tema yang menonjol yaitu:
·
Sejarah
dan Politik,
ini ditampilkan dalam cerita berjudul Api Masih Menyala, Husin
Menyandang Karaben, dan Warisan Ayah, Angin
Perubahan, Cemas, dan tentunya, Suatu Masa di Suatu Tempat. Dalam cerita-cerita itu,
dimunculkan manusia-manusia yang terkait erat dengan peristiwa sejarah dan
politik sehingga “berkonflik” dengan manusia yang lain.
·
Budaya dan Identitas, ini tampil lewat Tarombo, Datu
Sorkam, Dongeng
Wak Katok, juga Wabah
Kesurupan. Dalam cerita-cerita ini, Arie F Batubara menunjukkan betapa
manusia Indonesia dalam realitasnya masih “dibebani” tidak hanya sejarah tapi
juga adat-istiadat, nilai-nilai keluarga, pengaruh dari pemimpin lokal, di
samping kepercayaan-kepercayaan yang sifatnya mitos dan berhubungan dengan hal supranatural.
·
Personal dan Relasional, yang ditampilkan lewat
cerita seperti Luka
Bayang, Sepotong
Cemburu dan Cinta yang Berdusta, Aku,
Rini, dan Suamiku, di mana Arie F Batubara menggali kerumitan relasi manusia
modern, yang disebabkan oleh cinta, perselingkuhan, cemburu, (yang menjadi)
dilema rumah tangga.
Meskipun hal yang personal dan relasional ini kebanyakan adalah tema cinta,
namun, cinta yang hadir dalam cerita-cerita Arie F Batubara adalah cinta yang
terkait akan kekuasaan, kehormatan, dan harga diri (Api Masih Menyala), cinta yang dalam bentuk
tidak ideal yaitu cinta yang menjadi arena tarik-menarik antara keinginan
personal dan realitas sosial (Luka
Bayang, Sepotong Cemburu dan Cinta yang Berdusta, serta Aku, Rini, dan Suamiku), dan cinta yang tidak bisa
dilepaskan dari konteks masyarakat karena tumbuh di bawah bayang-bayang sejarah
dan sosial. Cinta di tangan Arie F Batubara selalu kerentanan manusia baik dari
sisi psikologis maupun dari sisi sosiologis-historis.
Benang merah yang bisa ditarik dari tema-tema itu adalah betapa manusia Indonesia dalam realitasnya itu
selalu akan bergulat dengan sejarah, budaya, dan dirinya sendiri.
Cerita-cerita Arie F Batubara secara struktur cenderung
menggunakan alur linear klasik, yaitu pengenalan – konflik – klimaks – penyelesaian. Namun, ada beberapa teknik
lain yang menjadi kekuatannya, seperti:
·
Banyak dari cerita yang dibuka dengan adegan yang langsung memancing
ketegangan (in
medias res) misalkan Mat Giwat yang tiba-tiba datang kepada tokoh yang
disebut “Buya” dengan kedua tangannya berlumuran darah dan tubuhnya penuh
dengan percikan darah dalam cerita Api Masih Menyala.
·
Dialog menjadi motor penting penggerak cerita. Dengan bahasa
sehari-hari, Arie F Batubara membuat percakapan tampak natural sekaligus sarat
makna.
·
Beberapa cerita ditutup dengan akhir terbuka (open ending), menyisakan pertanyaan yang
seolah meminta pembaca ikut menafsirkan.
·
Dari segi bahasa, Arie F Batubara menggunakan gaya yang
sederhana, komunikatif, tanpa pretensi eksperimental, tetapi mampu menghadirkan
suasana dramatik maupun puitis.
·
Ia juga memanfaatkan simbol (api, tarombo, angin) untuk menambah lapisan
makna.
Dengan apa yang dilakukannya, Arie F Batubara seolah ingin
menegaskan bahwa dirinya adalah seorang cerpenis realis yang lebih menekankan
kekuatan naratif dan kedalaman gagasan, alih-alih permainan bahasa avant-garde.
Bisa jadi, pengolahan seperti itu disengaja oleh Arie F Batubara
sebagai strategi artistik sekaligus posisi ideologis bahwa ia ingin memotret
realitas masyarakat Indonesia apa adanya, yaitu persoalan-persoalan kehidupan
yang terjadi pada manusia Indonesia memang tidak direkayasa secara estetika
(apa adanya).
Bisa juga, pengolahan bahasa non-avantgarde ini untuk mendekatkan
karakter-karakter yang ada dalam cerita, yang adalah orang biasa: petani, guru
mengaji, pemuda kampung, sahabat, ibu rumah tangga, kepada para pembaca.
Meskipun karakter-karakter ini adalah orang-orang biasa, tetapi kehadiran
mereka dalam setiap cerita berada dalam situasi yang luar biasa: perang
saudara, konflik politik, kerusuhan, atau krisis rumah tangga.
Karakter-karakter dalam cerita-cerita Arie F Batubara
sebagian besar adalah mereka yang rapuh (untuk tidak ditulis
“bermasalah”), baik dalam konteks sosial-politik, sejarah, kebudayaan, maupun
dalam konteks hubungan antarmanusia. Dengan begitu, karakter-karakter ini bukan
sekadar individu-individu yang fiktif, melainkan sudah bisa menjadi cermin
masyarakat Indonesia yang terus berhadapan dengan luka sejarah, tarik-menarik
budaya, dan kerumitan relasi personal.
Untuk dianggap sebagai cermin, tentu akan dilihat relevansi
dengan kondisi saat ini juga. Dilihat dari karakter, masih ada Mat Gawi atau
Rini yang lain saat ini. Mereka, masyarakat di Indonesia yang pada hari ini
masih sering menjadi “korban” dari situasi besar di luar diri mereka, baik itu krisis
politik, bencana sosial, atau konflik identitas.
Dari peristiwa yang telah terjadi di masa lalu di dalam
cerita-cerita di buku ini juga masih dirasakan efeknya atau masih terjadi
bentuk-bentuk baru dari persoalan yang sudah lama terjadi, seperti krisis
pembangunan di pusat dan di daerah, representasi kelompok masyarakat yang tidak
merata, serta ketidakadilan lainnya yang dirasakan oleh masyarakat di Indonesia.
Demikian juga dengan harapan dan kekecewaan akan iklim
demokrasi yang ada, yang belum bisa memberikan kesejahteraan kepada bangsa.
Bahkan, masih bermunculan isu intoleransi, polarisasi agama, ujaran kebencian
di media sosial.
Kecemasan-kecemasan dalam manusia Indonesia modern
sebenarnya tidak berkurang, bahkan bertambah. Dalam cerita-cerita Arie F
Batubara ini, ada beberapa kecemasan yang sudah dituliskan seperti takut atau cemas
tidak memiliki masa depan, takut dicap sebagai orang “berbahaya,” cemas dengan
kehadiran aparat, cemas dan takut dengan potensi timbulnya kekerasan. Di masa
kini, terdapat kecemasan-kecemasan lain, seperti menghadapi krisis ekologis,
ekonomi, digitalisasi, dan situasi geopolitik yang selalu memanas.
Sebagai penutup, bisa dikatakan bahwa Suatu Masa di Suatu Tempat bisa dibaca sebagai sastra
ingatan, di mana ia mengarsipkan pengalaman manusia biasa dalam arus sejarah
besar, sambil tetap menyorot hal-hal intim dalam hubungan manusia.
Cerita-cerita dalam Suatu Masa di Suatu Tempat seperti sebuah undangan bagi pembaca untuk
merenung: bagaimana sejarah dan kebudayaan membentuk kita, dan bagaimana
manusia, dengan segala keterbatasannya, terus berusaha berdamai dengan masa
lalu.
Melalui Suatu Masa di Suatu Tempat, Arie F. Batubara menunjukkan kelihaian dalam menyeimbangkan kisah personal dan kolektif, realitas lokal dan nasional, dan penggunaan bahasa sederhana yang justru menguatkan hubungan antara cerita-cerita itu dengan para pembaca dan juga dengan zamannya.
Ditulis oleh Dedy Tri Riyadi untuk Semaan Puisi 04 Oktober 2025
Note:
Sayangnya, dalam penggarapan buku ini, masih ada beberapa typo yang terjadi, dan ada cerita (berjudul "Wak Katok") yang terpenggal begitu saja setelah adanya typo. Dengan taraf yang lebih ringan, cerita "Pelajaran Jadi-jadian" pun mengalami typo yang cukup parah.
Komentar