Antara Bartleby Sang Penyalin Naskah dan Kesehatan Mental Kelas Pekerja
Ketika Bartleby, seorang salin-menyalin di sebuah kantor hukum Wall Street, menjawab semua permintaan atasannya dengan satu frasa berulang“I would prefer not to” ia tidak sekadar menolak tugas. Dengan kalimat singkat itu Melville menulis alegori tahunan tentang pekerja yang memilih menolak sebagai satu-satunya bahasa yang tersisa ketika struktur kerja sudah mengikis martabat dan kapasitas untuk bertahan.
Abad dua ratus kemudian, Bartleby terasa seperti potret klinis dari masalah yang kini ditulis oleh para ahli kesehatan mental: burnout kronis, depresi fungsional, kecemasan ekonomi, dan efek destruktif dari precarious employment.
Melville tidak memberi diagnosis pada tokohnya; ia memberi fenomena. Mengaitkan Bartleby dengan studi-studi kontemporer tentang kesehatan mental pekerja, khususnya pekerja kelas menengah ke bawah dan pekerja gig, dan membantu kita melihat bagaimana karya sastra menjadi kacamata untuk memahami epidemi psikologis zaman ini.
Christina Maslach, salah satu otoritas utama tentang burnout, mendefinisikannya lewat tiga dimensi: emotional exhaustion, depersonalization, dan reduced personal accomplishment. Bartleby menunjukkan gejala yang familiar: bukan ledakan kemarahan, melainkan penarikan diri yang dingin sebagai tanda kelelahan emosional yang parah. Ia tidak protes secara dramatis; ia berhenti ikut serta.
Byung-Chul Han, dalam The Burnout Society (2015), membaca modernitas sebagai masyarakat yang memaksakan produktivitas terus-menerus sehingga orang “meledak” bukan karena tekanan eksternal semata, melainkan karena obsesi menjadi subjek yang selalu berhasil.
Bartleby adalah anti-iklan Han, yang penolakan pasifnya menolak logika produktivitas itu. Untuk pekerja kelas menengah ke bawah seperti pegawai administrasi, penjaga toko, operator pabrik, dan kurir, tuntutan output konstan dan kontrol waktu kerja menciptakan kondisi persis yang dipetakan Maslach dan Han: tenaga habis, rasa mampu runtuh, lalu mundur pasif.
John Marmot dan penelitian Whitehall menunjukkan bahwa job control (kendali atas pekerjaan) adalah penentu penting kesehatan mental. Pekerja dengan tingkat kontrol rendah lebih rentan terhadap stres dan penyakit kronis.
Bartleby menempati posisi paling rendah dari segi otonomi: pekerja yang hanya menyalin instruksi, rutin kembali-rutin seperti sebuah pekerjaan repetitif tanpa makna yang bisa dimengerti sebagai sumber alienasi Marxian.
Untuk kelas menengah ke bawah modern, posisi serupa muncul dalam pekerjaan bergaji rendah dengan jadwal yang ketat, tugas berulang, dan sedikit peluang peningkatan, adalah sebuah lanskap yang, menurut Marmot, merusak kesehatan psikologis.
Guy Standing menambahkan konsep precariat yaitu kelas pekerja yang hidup dalam ketidakpastian, kontrak sementara, dan minim perlindungan sosial. Ketidakamanan pekerjaan kronis itu memicu kecemasan sistemik yang bukan hanya soal tekanan kerja, tetapi kecemasan eksistensial tentang kemampuan memenuhi kebutuhan dasar.
Bartleby tidak digambarkan sebagai penganggur. Dia tetap bergaji. Namun penolakannya adalah representasi radikal dari efek psikologis ketika pekerjaan tidak memberi keamanan atau makna.
Psikiater dan psikolog klinis menggambarkan beberapa kondisi di mana individu masih “hadir” secara fisik tetapi mundur secara psikologis sebagai depressive shutdown atau functional depression. Bartleby tidak aktif mencari pertolongan atau protes keras; ia mundur, menolak makan, lalu tetap tinggal di ruang yang sama.
Ini paralel dengan deskripsi depresi berat yang sering ditemukan pada mereka yang berada di kelas menengah ke bawah tanpa akses layanan kesehatan mental memadai: mereka tetap “masuk kerja” secara ritual, tetapi kapasitas afektif mereka terkikis.
WHO dan ILO telah menekankan bahwa beban gangguan mental lebih berat pada populasi yang mengalami ketidakamanan ekonomi dan akses layanan minim. Di banyak negara, pekerja berpendapatan rendah menghadapi hambatan biaya dan stigma ketika mencoba mencari perawatan yang membuat pola Bartleby (penarikan dan keheningan) menjadi jalan ketiga yang tragis antara protes dan kontrol diri.
Arlie Hochschild memperkenalkan konsep emotional labor yaitu kewajiban menampilkan emosi yang “tepat” sebagai bagian pekerjaan (pramuniaga yang harus tersenyum, perawat yang harus tetap tenang). Bartleby tidak bermain drama afektif itu lagi. Di kantor hukum yang dingin, di mana narator mengeluh tentang efisiensi dan sopan santun, Bartleby “memilih tidak” menunjukkan.
Untuk pekerja kelas menengah ke bawah yang dituntut menanggung beban emosi di depan pelanggan atau bos, ketidakmampuan untuk terus memerankan “wajah kerja” bisa mengakibatkan alienasi akut dan fenomena penarikan diri seperti Bartleby.
Narator dalam cerita Melville berulang kali bingung dan canggung menghadapi Bartleby, ia tidak punya kebijakan, tidak punya layanan kesehatan internal, tidak tahu bagaimana menavigasi kasus karyawan yang sakit jiwa atau putus asa.
Di dunia nyata, ini adalah cerita yang sama di mana ada Human Resource yang tidak memadai, perlindungan kerja yang rapuh, dan budaya kerja yang menstigmatisasi masalah mental.
Organisasi modern yang efektif mengadopsi Employee Assistance Programs (EAP), screening psikososial, dan kebijakan cuti mental. Tetapi banyak perusahaan, terutama yang mempekerjakan kelompok kelas menengah ke bawah, gagal menyediakan akses semacam itu. Implikasi bagi kesehatan masyarakat jelas: tanpa jaringan dukungan, Bartleby-bartleby lain akan lahir kembali.
Para ahli kesehatan mental menekankan tiga hal penting untuk populasi pekerja rentan:
-
Akses layanan. WHO mendesak pembiayaan kesehatan mental sebagai bagian dari layanan primer; tanpa itu, pekerja bergaji rendah tidak mendapat perawatan.
-
Perbaikan kondisi kerja. Penelitian menunjukkan bahwa peningkatan job control, pengurangan jam kerja berlebih, dan kepastian kontrak signifikan menurunkan beban psikologis (Marmot; ILO).
-
Budaya organisasi yang suportif. Pelatihan manajer, EAP, dan pengurangan stigma menurut American Psychological Association memperbaiki outcome kesehatan mental.
Bartleby, dalam konteks ini, adalah tanda kegagalan semua tiga. Ia bukan saat yang perlu “dihukum” atau “dikosmetikkan” tapi ia membutuhkan perubahan struktur.
Melville menulis sebuah tokoh yang berkata “I would prefer not to” dan, dalam keheningan, membuka ruang bagi pembacaan kontemporer: kalimat itu adalah teriak lunak dari mereka yang tidak lagi bisa memenuhi tuntutan. Para ahli menyebutnya burnout, depresi fungsional, atau efek precarious work, yang berbeda tetapi intinya sama yaitu sistem kerja yang menuntut tanpa memberi kontrol, keamanan, atau dukungan akan memproduksi Bartleby dalam jumlah yang mengkhawatirkan.
Bagi pembuat kebijakan dan pengusaha, pelajaran ini jelas, bahwa mengurangi jam kerja berlebihan, memberi perlindungan kontraktual, memperluas akses kesehatan mental, dan membangun budaya kerja yang manusiawi bukan sekadar biaya dan itu merupakan investasi kesehatan publik.
Bagi pembaca dan kolega, Bartleby mengajarkan empati bahwa ketika seorang rekan memilih “I would prefer not to,” mungkin itu bukan kemalasan melainkan alarm.**

Komentar