Selasa, 2009 Mei 12

Menikmati Kesempurnaan yang Tak Pernah Ada


Judul Buku : Mannequin of Dharma
Pengarang : Roro Syin
Penerbit : www.bookoopedia.com /www.bisnis2030.com
Terbit : Februari 2009
Hal : 336 hal.
Harga : Rp. 72.000,-
Sinopsis
Adalah Dharma, Nadya, Cindy, dan Kinar. Empat perempuan muda metropolitan yang gamang akan kehidupan cinta mereka. Lewat kacamata Dharma, seorang copy writer di sebuah biro iklan, sebuah persahabatan digambarkan sebagai satu bentuk penyelesaian masalah-masalah orang per orang di dalamnya. Dharma bukan perempuan muda yang ideal menurutnya, sehingga dia rela bertahun-tahun menanti kepastian cinta seorang Bismarck. Dalam kesehariannya yang sibuk, dia juga harus "membelah diri" untuk ikut mengurusi permasalahan Cindy yang dihamili oleh pacarnya yang seorang junkies, Kinar yang hendak mempertahankan hubungannya dengan seseorang yang hendak menikah karena hutang budi, dan Nadya yang bolak-balik Jakarta - Bali hanya demi orang mancanegara yang dianggapnya punya kelebihan materi dibandingkan pria Indonesia.
Spontanitas
Roro Syin menuliskan novel ini dengan ciri khas penulis muda; spontanitas. Bisa kelihatan dia selalu bisa bercerita dari A sampai Z untuk memberi penekanan pada satu hal saja. Contohnya dia menuliskan dua buah contoh perempuan yang diselingkuhi hanya untuk menegaskan betapa sakitnya perasaan Kinar yang diselingkuhi oleh pasangannya. Hal ini bisa menimbulkan bias pada pembacaan alur cerita.
Hal yang menunjukkan spontanitas penulisan nampak pada saat Dharma dan Bismarck atau Brown Sugar sedang berkencan. Banyak sekali ditemukan kata-kata bercetak miring yang menggambarkan perasaan seorang Dharma terhadap suasana saat itu. Spontanitas juga bisa disalahartikan sebagai kekurangsabaran untuk menuliskan secara wajar, sehingga pembaca bisa menikmati suasana yang dirasakan karakter-karakter dalam novel itu.
Penokohan
Roro Syin membuka novel ini dengan kisah sedih seorang Nadya. Anak pertama dari seorang pelacur yang hidup di tengah-tengah perkampungan besar bernama Jakarta. Penderitaan Nadya sangat kuat untuk bisa dieksplorasi lebih menjadi novel yang indah. Di bagian tengah, dia juga menceritakan pengalaman kekerasan seksual yang dialami oleh Cindy kecil yang diperkosa oleh pamannya sendiri, yang sering dipanggilnya Bang Rambo itu.
Sebetulnya, jika menelaah karakter-karakter Nadya dan Cindy, maka novel ini bisa jadi sangat kuat. Dengan pengalaman traumatik yang dibangun secara kuat, seharusnya kedua karakter ini akan bisa berkembang menjadi pribadi yang tangguh atau justru akhirnya menyerah kalah.
Dibandingkan dengan karakter Dharma maupun Kinar, kedua tokoh yang diceritakan di awal novel justru menarik untuk dikembangkan lebih lanjut. Dharma - yang notabene menjadi bingkai cerita - sebenarnya lebih kepada kegelisahan secara fisik. Lihat bagaimana dia punya persoalan dengan makanan, dengan - maaf - ukuran payudara, dan dengan bentuk tubuhnya yang jauh dari ideal seperti sebentuk mannequin. Kinar pun demikian. Entah kenapa Kinar tiba-tiba sepertinya susah mendapatkan pacar atau pasangan yang benar-benar single.
Tapi, mungkin Roro punya alasan lain dengan "menyublimkan" karakter-karakter yang kuat seperti Nadya dan Cindy pada karakter Dharma dan percintaannya dengan Bismarck. Dan bisa jadi Kinar hanya bumbu pelengkap belaka yang meramaikan kisah persahabatan mereka.
Satu lagi, salah satu karakter dari novel ini mengingatkan saya pada kisah AADC karena ada seorang yang selalu "telmi" dalam cerita-cerita antara mereka berempat. Meskipun tidak serta merta sama, karena karakter tersebut lebih cenderung untuk "cuek" dan lebih peduli pada dirinya sendiri dibanding untuk "update" pada hal-hal di luar itu.
Jika dibandingkan dengan Sex and The City, jelas karakter-karakter dalam novel ini punya permasalahan lebih pelik dibandingkan sekedar seks, seks, dan seks. Permasalahan seperti alkohol, narkoba, seks bebas, pencarian jati diri, penantian cinta sejati, dan juga aborsi jauh lebih rumit digambarkan oleh Roro.
Penceritaan
Seperti tadi sempat disinggung di atas, alur cerita sebenarnya yaitu kisah asmara Dharma dan Bismarck terjaga dari awal sampai akhir. Namun, penceritaan antar karakter seperti dari Nadya di halaman awal, Cindy di halaman-halaman setelahnya, lalu berubah ke Dharma di halaman selanjutnya kurang mulus. Akibatnya, ada keterkejutan karena seolah-olah karakternya berubah nama.
Persoalan "kantor" yang digambarkan untuk mendapatkan kesan sibuknya seorang Dharma terasa begitu ringan. Hal yang tiba-tiba ada seperti kesibukan pitching dan bagaimana membuat "copy" sebuah radio advertisement sungguh terkesan sebagai tambahan belaka. Demikian juga dengan perasaan-perasaan Dharma yang tercurah pada kalimat-kalimat puitis.
Andai saja Roro bersabar untuk mengolah hal-hal artifisial dan menempatkannya pada emosi karakternya, bisa jadi kedalaman karakter Dharma yang menjadi sentral cerita dapat dibangun dengan baik. Dengan demikian esensi pertanyaan Dharma pribadi soal apakah menjadi seorang perempuan itu harus terlihat begitu sempurna seperti boneka pajangan itu dapat ditancapkan kuat pada pembaca.
Kekuatan
Hal yang menjadi kekuatan sebenarnya dalam novel ini adalah pada gaya bahasanya yang fresh. Celetukan-celetukan spontan, dan kelucuan-kelucuan emosi antar karakter dalam novel ini rasanya cukup mengaburkan kelemahan-kelemahan karakterisasi mereka.
Roro juga cukup rajin untuk memberikan tanda-tanda yang membantu pembaca untuk bisa membedakan mana bahasa mesin (seperti "message delivered", gambar ampop, dll) dan mana bahasa percakapan. Dengan demikian, pembaca bisa beradaptasi dengan gaya penceritaan yang disuguhkan Roro ini.
Dan sekali lagi, spontanitas adalah hal yang paling menonjol dari seorang Roro Syin. Mudah-mudahan, novel ini tidak berhenti sampai ketika Dharma menerima cinta Bismarck dan sebaliknya, tetapi akan berlanjut pada cerita-cerita yang lebih kuat lagi. Sebab sebagai pembaca, saya masih penasaran akan nasib Nadya dan Cindy. Mereka adalah gambaran perempuan tangguh yang digilas jaman dan kekejaman ibukota. Karakter mereka sungguh sayang untuk dihabiskan begitu saja dalam novel ini. Dan saya percaya, dengan spontanitasnya Roro pasti akan sanggup menghidupkan karakter seperti mereka dalam novel-novelnya yang lain.
2009

Jumat, 2009 April 03

PERASAAN, PERISTIWA, DAN PUISI


Semacam Komentar Panjang Setelah Membaca Kumpulan Sajak
Gunawan Maryanto; Perasaan-Perasaan yang Menyusun Sendiri
Petualangannya.

====================================================
Judul Buku : Perasaan-Perasaan yang Menyusun Sendiri Petualangannya
Pengarang : Gunawan Maryanto
Penerbit : omahsore (http://www.omahsore.web.id/)
Cetakan : Pertama, Desember 2008
Halaman : x+67 hlm, 12,2 x 18 cm
No. ISBN : 978791904704
====================================================


Pertama kali selesai membaca sajak-sajak Gunawan Maryanto yang akrab
dipanggil Cindhil ini, yang terpikirkan oleh saya adalah betapa pandai
dia menarik ulur perasaannya terhadap setiap peristiwa. Peristiwa atau
kenyataan hidup sehari-hari, dalam ranah semangat puitika, menurut Saku
-taro adalah hal-hal yang harus berada di bawah puisi itu sendiri – dalam
esensi puisi romantis – atau dikritisi oleh puisi itu – dalam esensi pe-
dagogis. Namun yang saya amati dalam puisi-puisi Gunawan Maryanto ini,
ada semacam sifat untuk menerima kenyataan tetapi juga tidak begitu saja
prosesnya sekaligus tidak juga menafikannya.

kita telah melintasinya
mereka telah melintasi kita
tak ada beda : mereka telah tak ada
cinta jadi sia-sia

(Kolam Ikan dan Beranda Kosong)

Tapi benarkah segala yang terjadi itu sia-sia? Bukankah dalam semangat pui-
tika ada juga hal-hal yang bisa dibangun oleh puisi? Seperti esensi metafi-
sis puisi yang mengangankan dunia yang transcendental, esensi estetis puisi
yang meninggikan sebuah keindahan, atau bahkan esensial jiwa dari puisi yang
mementingkan kebangunan jiwa yang tertinggi sebagaimana ditulis oleh Sakutaro
itu.

Bisa jadi yang membuat Gunawan Maryanto menuliskan puisinya adalah hanya
cara dia memandang kenyataan itu semua dengan cara dia – cara yang hanya dia
yang bisa menjelaskan.

dan seperti musim-musim sebelumnya
aku melihatnya dari jendela – dengan cara yang sama

(Lelaki yang Melintas di Sela Hujan)

Tentunya sebagai pembaca, saya sangat terganggu dengan statemen seperti itu.
Statemen yang terkesan menyembunyikan cara pandang seorang penyair terhadap
peristiwa-peristiwa yang terjadi. Tapi mungkin seorang Gunawan Maryanto lewat
bukunya ini memang seperti seorang teman yang mengajak duduk di beranda rumah
pada suatu saat hanya untuk melihat orang lalu-lalang, mobil yang bergesa, pohon yang diguncang musim dedaunannya, dan lain-lain.

buat apa menduga jika terbaca
buat apa mencari jika tak ada lagi

(Perempuan Berambut Jerami)

Lalu ada apa di sana? Apa yang sebenarnya ingin ditawarkan oleh Gunawan Maryanto?
Kita sendiri yang harus bisa mengambilnya. Harus bisa menentukan apa keinginan kita. Mengapa? Karena Gunawan Maryanto memang tidak sedang menginginkan ada semacam usikan terhadap apa yang disebutnya sebagai peristiwa atau kenyataan.

Kuputuskan menjauh
Kauputuskan menjauh
Supaya tak ada yang celaka
tak ada yang terluka

Dan seluruh peristiwa
baik-baik saja – sepertinya

(Perkara Lama)

Apakah benar begitu? Gunawan Maryanto menghadirkan buku ini bukan untuk
menghadirkan cara pandangnya melainkan menginginkan pembacanya kemudian
punya cara pandang sendiri terhadap peristiwanya sendiri, terhadap kenyataannya
sendiri. Tampaknya memang begitu.

ada yang ingin terus berlanjut
seperti luka di kepalamu
yang selalu hadir
dengan garukan tanganmu
seperti jalan setapak
yang membelah kepalamu
dengan putus asa

(Perasaan-Perasaan yang Menyusun Sendiri Petualangannya)

Tapi ternyata itu tidak seluruhnya benar, karena ternyata peristiwa – sebagaimana
pun dia memberi jarak – masih tetap sebagai latar belakang tertulisnya satu puisi
bagi penyairnya. Gunawan Maryanto tidak mencoba berkelit, tidak juga hendak
menutupinya.

Lewat puisi-puisinya, dia ingin mengenali setiap peristiwa secara lebih.
Bahkan sampai hal-hal terpahit yang dia rasakan.

Biarkan aku mengabadikan tubuhmu
dengan kedua telapak tanganku
Biarkan aku mengenal kegelapanmu terlebih dahulu

(Gandari Memasuki Kegelapan)

Dan pada akhirnya, lewat perasaan terhadap peristiwa itulah
puisi-puisi Gunawan Maryanto berpetualang.

Dedy Tri Riyadi
Jakarta, 03 April 2009

Kamis, 2008 Oktober 09

Mengembangkan Kemampuan Diri Demi Sebuah Darma Bakti


Judul : Tanril. Volume 1. Novel Silat – Epik Ho Wuan Siang

Penulis : Nafta S. Meika

Editor : Aries Rayaguna Prima

Penerbit : Andal Krida Nusantara, PT. (Akoer)

Cetakan 1: Agustus, 2008

Halaman : 405


Tanril yang artinya Kolam Api adalah seseorang yang bisa disebut ajaib karena ada dalam satu per sepuluh juta kelahiran! Keajaiban yang dimiliki oleh seorang “Tanril” ini adalah jumlah chi pasif yang luar biasa sehingga tenaga itu bisa meluap dan mengancam nyawanya.


Dengan keadaan seperti itu, wajar jika seorang Wander Natalez Howard sejak kecil menderita sakit yang berkepanjangan. Hanya beberapa keajaiban pula yang membuatnya mampu bertahan hidup bahkan pada akhirnya menjadi seorang pendekar dengan ilmu silat dan tenaga yang sangat hebat.


Wander yang juga disebut Wuan itu tidak pernah menyadari keajaiban yang ada pada dirinya. Dengan setting sebuah kerajaan yang diambang perpecahan, Novel ini mengambil sudut pandang orang ketiga. Pengarang betul-betul menjadi dalang dari cerita ini dari awal hingga akhir, kecuali pada bagian awal pengarang mengambil sudut pandang dari si tokoh utama. Secara keseluruhan, novel ini dibangun dengan banyak dialog antara tokoh-tokohnya yang mengingatkan pembaca pada kejayaan cerita silat di tanah air.


Tema besar dari Novel Tanril volume 1 ini beranjak dari perang saudara dan bagaimana Wander mengatasi keajaiban di dalam dirinya hingga pada akhirnya tenaga chi yang meluap itu dapat ia arahkan pada bela diri (di novel ini disebut arts, mungkin kependekan dari Martial Art) yang pada sebagian besar masa lalunya tidak pernah diajarkan siapapun kepadanya.


Di luar tema sentral itu, Nafta S. Meika sebagai pengarang nampaknya mencoba bercerita tentang darma bakti seorang anak terhadap ibundanya, seorang adik terhadap kakak, dan seseorang terhadap sahabatnya yang berulangkali menyelamatkan dirinya. Sesuatu yang sekarang ini jarang diangkat oleh penulis-penulis muda.


Hal yang cukup menganggu pembacaan novel ini adalah banyaknya istilah dan penamaan yang dibentuk dengan campur aduk kata yang mirip-mirip bahasa Cina (Wuan, Luan, Chi, Jie Bi Shinjin) , India (Divara, Moharan, Sulran, Manjare), dan Inggris / Barat (Kurt, Wander, Howard, Landross, Rinveal), juga ada sedikit pengaruh Jepang (Fyure, Kokru, dll.). Ilustrasi cincin Naga di sampul depan dan petikan adegan yang sangat kental warna Cina-nya tidak bisa membantu pembaca untuk mengira-ngira di manakah kisah ini terjadi.


Di novel ini juga para pesilat (maksudnya pengamal ilmu beladiri) disebut sebagai Pengejar Mimpi. Entah kenapa dinamakan demikian oleh Pengarangnya, sebab bukankah kebanyakan orang juga mengejar mimpinya sendiri? Kerancuan bermacam istilah juga tidak dipertelakan dengan baik. Misalnya kenapa Putri Pangeran Kedua diberi julukan dengan nama-nama sungai, atau bahkan kenapa Wander Natalez Howard sering dipanggil Wuan.


Membuat istilah, penamaan orang, kota, dan daerah serta mempertelakan dengan baik hal-hal itu nampaknya masih menjadi kendala bagi penulis-penulis fiksi di tanah air. Mungkin dengan mengembangkan dasar pengetahuan mitologi, sejarah lokal, dan lain-lain akan dapat memperbaiki permasalahan ini.


Keberhasilan Wander Natalez Howard mempertahankan kota kelahirannya dari serbuan pasukan Jenderal Moharan, belum berhasil menceritakan evolusi tenaga chi dengan apik, padahal Tanril sebagai judul tentunya menjadi hal yang paling esensial dalam novel ini. Dan sangat disayangkan jika pengarang memutuskan untuk membongkar rahasia Tanril itu lewat surat yang isinya sangat panjang itu.

Senin, 2008 Juni 09

Bertemu Monster dalam Bahasa Puisi

Judul : Lanang
Penulis : Yonathan Rahardjo
Penerbit : Pustaka Alvabet
Tebal :
Harga : Rp. 55.000,-

Lupakanlah logika bahasa dan menalar segala bentuk moral juga kebenaran dalam cerita ini. Bahasanya yang entah karena emosi dibuat rumit seperti puisi menjadi semacam tembok dalam labirin yang coba dibangun oleh pengarangnya.

Kritikan terhadap cara berbahasa dari novel ini sudah banyak diungkap orang lain. Untuk itu, rasanya dari awal pembahasan ini perlu diingatkan calon pembaca mengenai hal yang satu itu.

Terlepas dari kerumitan bahasa dan vulgarisme yang dianut oleh penulis, ada ide baru yang hendak digugat olehnya. Kecenderungan sastra yang menonjolkan feminimisme (gugatan isi hati perempuan terhadap dominasi lelaki) ingin ditentang oleh penulis sebagaimana termaksud dengan judul "Lanang" ini.

Lanang selain sebagai nama tokoh utama juga menggambarkan hal yang ingin dicapai oleh tokoh utama tersebut dalam kehidupannya. Bermain-main di ranah seksual dengan berbagai jenis wanita bahkan binatang menjadi salah satu cara baginya untuk mendapatkan predikat "jantan" itu.

Salah satu cara untuk bisa menikmati novel ini juga adalah dengan melupakan seekor monster berbentuk burung babi hutan yang pastinya akan menimbulkan tanda tanya besar. Bagaimana caranya menciptakan monster itu? Atau lebih lanjut : Apakah kegunaan sebenarnya dengan percobaan dokter Dewi dan perusahaan itu menciptakan burung babi hutan? Karena memang tak perlu hal itu ditanyakan di sini.

Adalah Stephen King yang menanamkan cara menjalarkan ketakutan ke benak pembaca dengan baik dengan alien-alien yang oleh pembaca jarang ditebak di bagian awal seperti apa bentuknya. Mungkin kengerian inilah yang hendak dibangun oleh Yonathan Rahardjo dengan monster burung babi hutannya. Pesan moral yang ingin ditunjukkan jelas : Hati-hati dengan rekayasa genetika!

Dengan isu itulah saya kira, Lanang menjadi catatan tersendiri. Karena novel Indonesia yang membahas isu transgenik bisa dikatakan belum ada. Saya membandingkan novel ini dengan novel yang dulu pernah saya baca "Almost Adam." Temanya hampir serupa tentang lingkungan mahluk hidup dan evolusi. Bedanya jika "Almost Adam" berpihak pada missing link, Lanang memberontak pada evolusi ke depan : rekayasa genetika. Meskipun demikian, hal-hal erotik dalam kedua novel ini sangat bertentangan. "Almost Adam" menggarap sisi persetubuhan dengan kata-kata yang filosofis dan ilmiah, sedangkan "Lanang" tampak kedodoran di sisi yang sama.

Ada pendapat untuk "Lanang" ini dikategorikan sebagai novel puisi. Atau setidaknya novel dengan bahasa yang puitis. Pendapat saya sebagai pembaca, puitis atau tidak tergantung dari pemilihan kata yang dilakukan oleh penulis. Beberapa karya yang pernah saya baca nampak puitis karena rima yang dijaga dan penggambaran suasananya yang halus. Salah satu bagian dari "Mahasati" karya Qaris Tajudin salah satunya.

Dedy Tri Riyadi

Selasa, 2008 April 22

Kisah yang Mempertanyakan Kesetiaan Seorang Lelaki

Judul : Mahasati
Penulis : Qaris Tajudin
Penerbit : Penerbit Akoer
Terbit : Mei 2007
Tebal : 392 halaman
Harga : 59.400

Mahasati diambil dari tradisi hindu kuno tentang kesetiaan seorang istri untuk ikut membakar diri ketika mayat suaminya dibakar. Istilah inilah yang menjadi benang merah dari kisah perjalanan hidup seorang Andi. Andi kecil dibesarkan di sekolah agama berasrama. Tetapi Larasati, agaknya, telah melonggar- kan pengertian Andi tentang cinta sesungguhnya.

Kisah ini dimulakan dengan kematian Yoyok yang merupakan salah satu dari "tiga serangkai" sahabat dari masa kecil yang di dalam kesehariannya terselip pula kisah cinta. Pertemuan kembali Andi - Larasati, sepasang kekasih dari masa kecil yang sudah lama tidak bertemu, membangkitkan kembali cinta itu (yang sesungguhnya tidak pernah "mati" dalam diri Andi). Kondisi Larasati yang labil akibat proses "perceraian"nya membuat mereka pun tenggelam dalam kisah cinta yang membara. Akan tetapi karena kelabilannya dalam menghadapi masalah itu mengakibatkan Larasati melakukan ujicoba bunuh diri yang pada akhirnya membuat dirinya pun harus meninggal karena lemah jantung.

Andi yang merasa sangat kehilangan Larasati pun limbung. Maka ditempuhlah perjalanan ke Tunisia, Ragusa, hingga Afghanistan untuk "menguji" kesetiaan dirinya pada pujaan hatinya itu. Hingga ketika dia menikah dengan Nafas, janda suku Kuchi di dataran tinggi Hindu Kush, Andi masih meragukan keyakinannya tentang cinta.

Sebetulnya, novel ini ditulis dengan pendekatan dua orang tokoh yaitu perwira berpangkat Letnan keturunan Cina yang kebetulan berjenis kelamin wanita dengan tokoh Andi itu sendiri. Namun sayang sekali, ketika pada bagian Letnan itu cerita pun terasa sangat tergesa-gesa dan hambar. Berbeda sekali dengan ketika Andi yang bercerita. Meskipun novel ini disusun dengan kalimat yang "taktis" pendek-pendek untuk bercerita. Kemudian meskipun banyak sekali "kebetulan" yang ada di dalam novel ini, masih terasa asyik untuk dibaca karena alurnya tidak tiba-tiba.

Secara keseluruhan, membaca novel ini sedikit banyak mengingatkan pembaca pada sebuah film dengan tokoh utama Ralph Fiennes yakni The English Patient. Sedikit banyak ada kemiripan antara film tersebut dengan novel ini seperti pada kisah cintanya dan pertempuran yang dilakukan oleh tokoh utama, juga cerita yang mengalir dari percakapan dua orang yaitu tokoh utama itu sendiri dan seorang tokoh pendamping wanita (hanya saja di English Patient, tokoh pendamping wanita itu berperan sebagai seorang perawat), dan terakhirnya tokoh utama itu meninggal dunia karena sakitnya.

Dedy Tri Riyadi

Jumat, 2008 April 11

Premanisme dan Tehnologi

Resensi Buku : Digitarium

Judul Buku : Digitarium
Penulis : Baron Leonard
Penerbit : Akoer
Tebal : 567 hal.
Harga : Rp 68.000

Menyebut tehnologi dan fiksi, tak ayal pikiran kita melayang pada film trilogi The Matrix di mana dikatakan ada dunia lain yang bersinergi dengan dunia nyata. Dunia lain itu yang konon disebut Matrix. Dan kita bisa keluar masuk ke dalamnya melalui jaringan internet atau peralatan komunikasi canggih lainnya. Di dunia itu, virus yang diciptakan para penjahat bisa menyerang logika pikir manusia normal hingga akhirnya merubah jalan hidup (jika tidak mau dikatakan sebagai sejarah) umat manusia secara keseluruhan.

Novel ini, memang tidak serta merta terseret dalam imajinasi The Matrix. Malah pertikaian di dalamnya mengingatkan saya pada dongeng-dongeng mafioso Asia seperti Triad ataupun Yakuza. Pun dengan tokoh-tokoh wanita yang diceritakan mirip dengan tokoh heroine (pendekar wanita) pujaan gamers beberapa waktu lalu ; Lara Croft, yang fasih berbicara soal ilmu-ilmu beladiri kuno ala China, makin mantaplah keyakinan bahwa novel Digitarium ini memang tidak mau berlarut-larut dalam pengadeganan ala The Matrix itu.


Disebutkan ada dua macam kelompok yang berebut pengaruh kekuasaan kejahatan di kota Jakarta ini beberapa tahun mendatang yakni Alpha & Omega dan Legion. Peperangan antar keduanya tidaklah frontal melainkan melalui beberapa aksi pembunuhan tokoh-tokoh pentingnya. Dalam kasusnya, tokoh yang dibunuh adalah tokoh yang dicurigai hendak berpindah dari Legion ke Alpha & Omega. Juga sebaliknya. Pembunuhan mereka, dilakukan dengan menyewa "assassin" yang sangat menguasai tehnologi dan ilmu bela diri yakni dari kelompok DiverS. Kelompok ini bisa ditemui dari pergaulan di dunia maya.

Alur maju mundur yang digunakan oleh penulis sedikit membuat pembaca merasa terjebak dalam labirin, hingga akhirnya (seperti kata sagangan dari Kafi Kurnia di sampul belakang) harus menuntaskan pembacaan untuk bisa memahami apa sebenarnya yang terjadi di sana. Rahasia para DiverS itu sendiri yang pada akhirnya menarik untuk dicermati dalam kisah ini.

Pada awalnya ada kesulitan tersendiri untuk mengungkapkan apa sebenarnya yang dituliskan dalam perintah dan pesan yang dilakukan oleh para DiverS. Tetapi berbekal pengalaman mengikuti beberapa kali kontes di sebuah forum teka-teki ternama di dunia maya, saya sarankan kepada pembaca untuk menyanding telepon genggam ketika menemukan rentetan angka yang diketikkan para DiverS di komputer atau PDA mereka. Walaupun memang masih membingungkan. Tapi inilah intermezzo dari penulis untuk semakin menegangkan otak pembaca.

Sayangnya, penulis belum bisa menterjemahkan alasan paling mendasar kenapa Alpha & Omega sangat menginginkan Legion hancur juga sebaliknya. Justru dia terjebak untuk sangat berhati-hati menyembunyikan identitas para DiverS hingga akhir cerita. Padahal untuk konflik sepelik ini, sangat dirasakan perlu mengungkap (misalnya) betapa jahatnya pekerjaan orang-orang di Legion itu atau betapa agungnya nilai-nilai yang ingin diterapkan oleh Alpha & Omega di kota Jakarta tercinta ini. Seandainya begitu pun, mengapa mereka tidak memberikan bukti-bukti kejahatan pihak lawan kepada pihak berwajib? Bahkan seorang kapten (setahu saya sudah tidak ada bahasa jabatan kapten ini di kepolisian, jadi Inspektur ya?) Polwan harus menemukan ajalnya gara-gara pembocoran identitas seorang Legion oleh seorang DiverS.

Dedy Tri Riyadi

Senin, 2008 April 07

Mempersoalkan Karunia Tuhan

Resensi Buku : Big Size

Judul : Big Size ; sebuah novel tentang Keperkasaan Lelaki
Penerbit : Akoer
Penulis : Wibi AR
Tebal : 164 hal
Harga : 49.500

Hal apakah yang bisa membuat seorang lelaki merasa rendah diri? Salah satunya yang diangkat oleh penulis dalam menjawab pertanyaan tersebut adalah ukuran alat vital. Tapi apakah benar begitu? Di dalam buku ini, ukuran alat vital seorang remaja berusia 19-an tahun (mahasiswa) tiba-tiba menjadi isu yang sangat sentral dan tanpa malu-malu dikemukakan oleh penulis. Kehidupan remaja yang terkesan liar dan terbuka soal hubungan seksual antar jenis pun diceritakan dengan gamblang. Bagaimana Dodi dan Lasimin "ngerjain" Lasimin di sebuah cafe remang-remang contohnya. Bodohnya, entah yang ditulis ini generasi anak muda golongan mana, mereka rupanya belum mengenal kondom. Padahal generasi MTV saat ini sangat gencar mendapat isu soal AIDS dan kesehatan reproduksi sehingga tak jarang di dompet mereka "nyelip" sebungkus dua bungkus kondom. 'Gak percaya? Geledah saja mereka.

Tapi maaf, bukan bermaksud mendiskreditkan generasi muda, tetapi di buku ini pun banyak pernyataan yang bernada merendahkan pengetahuan anak muda bahkan cenderung rasial. Lihatlah ejekan mengenai "muka Jawa" pada Lasimin si tokoh utama. Kemudian pernyataan yang cukup ngasal mengenai kehidupan seksual remaja di Jakarta yang menyebutkan banyak gadis yang tidak perawan, pemuda yang sudah mengenal gaya pacaran yang sudah sedemikian bebas. Lebih baik jika penulis sedikit mengambil data dari sebuah laporan kesehatan reproduksi remaja misalnya sebagai dukungan terhadap pernyataan seperti itu.

Lebih lagi sebagai sebuah fiksi, nampak jelas sekali bahwa penulis terkesan bermain-main dengan alur ceritanya. Di pertengahan buku dikemukakan Lasimin yang akhirnya memutuskan berhenti mengurut alat vitalnya karena kecewa tidak ada perubahan selama 7 bulan itu, demikian juga dengan Elis yang tiga bulan diurut Lasimin tidak ada tanda-tanda perubahan di tubuhnya. Tiba-tiba di ending cerita, Lasimin berbahagia melihat Elis yang berteriak soal ukuran alat vitalnya yang sebesar burung Garuda!

Ada kemungkinan, buku ini memang diniatkan untuk mengisi celah buku novel humor yang sedang diminati. Maklumlah banyak dari kita yang terancam stress di perkotaan gara-gara pekerjaan di kantor, usaha yang menurun, lalulintas yang padat, hingga perlu hal-hal ringan yang bisa jadi tidak perlu masuk akal. Di luar dari itu, ada sisi positif dari buku ini yang bisa diambil ; 1. Kehidupan seksual remaja kita yang patut diperhatikan, 2. Olahraga bisa mengalihkan hal-hal yang demikian, dan 3. bagaimanapun wujud fisik kita, sudah selayaknya kita nikmati dan syukuri sebab itu karunia Tuhan. Dan 4. Bagaimana pun lingkungan tempat kita tinggal, sudah sepatutnya kita bertahan dengan cara pandang kita sendiri.

Persoalannya, dengan isi buku ini apakah nilai-nilai tersebut dapat ditangkap pembaca?


Dedy Tri Riyadi