Selasa, 2009 Mei 12
Menikmati Kesempurnaan yang Tak Pernah Ada
Jumat, 2009 April 03
PERASAAN, PERISTIWA, DAN PUISI

Kamis, 2008 Oktober 09
Mengembangkan Kemampuan Diri Demi Sebuah Darma Bakti
Judul : Tanril. Volume 1. Novel Silat – Epik Ho Wuan Siang
Penulis : Nafta S. Meika
Editor : Aries Rayaguna Prima
Penerbit : Andal Krida Nusantara, PT. (Akoer)
Cetakan 1: Agustus, 2008
Halaman : 405
Tanril yang artinya Kolam Api adalah seseorang yang bisa disebut ajaib karena ada dalam satu per sepuluh juta kelahiran! Keajaiban yang dimiliki oleh seorang “Tanril” ini adalah jumlah chi pasif yang luar biasa sehingga tenaga itu bisa meluap dan mengancam nyawanya.
Dengan keadaan seperti itu, wajar jika seorang Wander Natalez Howard sejak kecil menderita sakit yang berkepanjangan. Hanya beberapa keajaiban pula yang membuatnya mampu bertahan hidup bahkan pada akhirnya menjadi seorang pendekar dengan ilmu silat dan tenaga yang sangat hebat.
Wander yang juga disebut Wuan itu tidak pernah menyadari keajaiban yang ada pada dirinya. Dengan setting sebuah kerajaan yang diambang perpecahan, Novel ini mengambil sudut pandang orang ketiga. Pengarang betul-betul menjadi dalang dari cerita ini dari awal hingga akhir, kecuali pada bagian awal pengarang mengambil sudut pandang dari si tokoh utama. Secara keseluruhan, novel ini dibangun dengan banyak dialog antara tokoh-tokohnya yang mengingatkan pembaca pada kejayaan cerita silat di tanah air.
Tema besar dari Novel Tanril volume 1 ini beranjak dari perang saudara dan bagaimana Wander mengatasi keajaiban di dalam dirinya hingga pada akhirnya tenaga chi yang meluap itu dapat ia arahkan pada bela diri (di novel ini disebut arts, mungkin kependekan dari Martial Art) yang pada sebagian besar masa lalunya tidak pernah diajarkan siapapun kepadanya.
Di luar tema sentral itu, Nafta S. Meika sebagai pengarang nampaknya mencoba bercerita tentang darma bakti seorang anak terhadap ibundanya, seorang adik terhadap kakak, dan seseorang terhadap sahabatnya yang berulangkali menyelamatkan dirinya. Sesuatu yang sekarang ini jarang diangkat oleh penulis-penulis muda.
Hal yang cukup menganggu pembacaan novel ini adalah banyaknya istilah dan penamaan yang dibentuk dengan campur aduk kata yang mirip-mirip bahasa Cina (Wuan, Luan, Chi, Jie Bi Shinjin) ,
Di novel ini juga para pesilat (maksudnya pengamal ilmu beladiri) disebut sebagai Pengejar Mimpi. Entah kenapa dinamakan demikian oleh Pengarangnya, sebab bukankah kebanyakan orang juga mengejar mimpinya sendiri? Kerancuan bermacam istilah juga tidak dipertelakan dengan baik. Misalnya kenapa Putri Pangeran Kedua diberi julukan dengan nama-nama sungai, atau bahkan kenapa Wander Natalez Howard sering dipanggil Wuan.
Membuat istilah, penamaan orang,
Keberhasilan Wander Natalez Howard mempertahankan
Senin, 2008 Juni 09
Bertemu Monster dalam Bahasa Puisi
Judul : LanangPenulis : Yonathan Rahardjo
Penerbit : Pustaka Alvabet
Tebal :
Harga : Rp. 55.000,-
Kritikan terhadap cara berbahasa dari novel ini sudah banyak diungkap orang lain. Untuk itu, rasanya dari awal pembahasan ini perlu diingatkan calon pembaca mengenai hal yang satu itu.
Terlepas dari kerumitan bahasa dan vulgarisme yang dianut oleh penulis, ada ide baru yang hendak digugat olehnya. Kecenderungan sastra yang menonjolkan feminimisme (gugatan isi hati perempuan terhadap dominasi lelaki) ingin ditentang oleh penulis sebagaimana termaksud dengan judul "Lanang" ini.
Lanang selain sebagai nama tokoh utama juga menggambarkan hal yang ingin dicapai oleh tokoh utama tersebut dalam kehidupannya. Bermain-main di ranah seksual dengan berbagai jenis wanita bahkan binatang menjadi salah satu cara baginya untuk mendapatkan predikat "jantan" itu.
Salah satu cara untuk bisa menikmati novel ini juga adalah dengan melupakan seekor monster berbentuk burung babi hutan yang pastinya akan menimbulkan tanda tanya besar. Bagaimana caranya menciptakan monster itu? Atau lebih lanjut : Apakah kegunaan sebenarnya dengan percobaan dokter Dewi dan perusahaan itu menciptakan burung babi hutan? Karena memang tak perlu hal itu ditanyakan di sini.
Adalah Stephen King yang menanamkan cara menjalarkan ketakutan ke benak pembaca dengan baik dengan alien-alien yang oleh pembaca jarang ditebak di bagian awal seperti apa bentuknya. Mungkin kengerian inilah yang hendak dibangun oleh Yonathan Rahardjo dengan monster burung babi hutannya. Pesan moral yang ingin ditunjukkan jelas : Hati-hati dengan rekayasa genetika!
Dengan isu itulah saya kira, Lanang menjadi catatan tersendiri. Karena novel Indonesia yang membahas isu transgenik bisa dikatakan belum ada. Saya membandingkan novel ini dengan novel yang dulu pernah saya baca "Almost Adam." Temanya hampir serupa tentang lingkungan mahluk hidup dan evolusi. Bedanya jika "Almost Adam" berpihak pada missing link, Lanang memberontak pada evolusi ke depan : rekayasa genetika. Meskipun demikian, hal-hal erotik dalam kedua novel ini sangat bertentangan. "Almost Adam" menggarap sisi persetubuhan dengan kata-kata yang filosofis dan ilmiah, sedangkan "Lanang" tampak kedodoran di sisi yang sama.
Ada pendapat untuk "Lanang" ini dikategorikan sebagai novel puisi. Atau setidaknya novel dengan bahasa yang puitis. Pendapat saya sebagai pembaca, puitis atau tidak tergantung dari pemilihan kata yang dilakukan oleh penulis. Beberapa karya yang pernah saya baca nampak puitis karena rima yang dijaga dan penggambaran suasananya yang halus. Salah satu bagian dari "Mahasati" karya Qaris Tajudin salah satunya.
Dedy Tri Riyadi
Selasa, 2008 April 22
Kisah yang Mempertanyakan Kesetiaan Seorang Lelaki
Judul : MahasatiPenulis : Qaris Tajudin
Penerbit : Penerbit Akoer
Terbit : Mei 2007
Tebal : 392 halaman
Harga : 59.400
Kisah ini dimulakan dengan kematian Yoyok yang merupakan salah satu dari "tiga serangkai" sahabat dari masa kecil yang di dalam kesehariannya terselip pula kisah cinta. Pertemuan kembali Andi - Larasati, sepasang kekasih dari masa kecil yang sudah lama tidak bertemu, membangkitkan kembali cinta itu (yang sesungguhnya tidak pernah "mati" dalam diri Andi). Kondisi Larasati yang labil akibat proses "perceraian"nya membuat mereka pun tenggelam dalam kisah cinta yang membara. Akan tetapi karena kelabilannya dalam menghadapi masalah itu mengakibatkan Larasati melakukan ujicoba bunuh diri yang pada akhirnya membuat dirinya pun harus meninggal karena lemah jantung.
Andi yang merasa sangat kehilangan Larasati pun limbung. Maka ditempuhlah perjalanan ke Tunisia, Ragusa, hingga Afghanistan untuk "menguji" kesetiaan dirinya pada pujaan hatinya itu. Hingga ketika dia menikah dengan Nafas, janda suku Kuchi di dataran tinggi Hindu Kush, Andi masih meragukan keyakinannya tentang cinta.
Sebetulnya, novel ini ditulis dengan pendekatan dua orang tokoh yaitu perwira berpangkat Letnan keturunan Cina yang kebetulan berjenis kelamin wanita dengan tokoh Andi itu sendiri. Namun sayang sekali, ketika pada bagian Letnan itu cerita pun terasa sangat tergesa-gesa dan hambar. Berbeda sekali dengan ketika Andi yang bercerita. Meskipun novel ini disusun dengan kalimat yang "taktis" pendek-pendek untuk bercerita. Kemudian meskipun banyak sekali "kebetulan" yang ada di dalam novel ini, masih terasa asyik untuk dibaca karena alurnya tidak tiba-tiba.
Secara keseluruhan, membaca novel ini sedikit banyak mengingatkan pembaca pada sebuah film dengan tokoh utama Ralph Fiennes yakni The English Patient. Sedikit banyak ada kemiripan antara film tersebut dengan novel ini seperti pada kisah cintanya dan pertempuran yang dilakukan oleh tokoh utama, juga cerita yang mengalir dari percakapan dua orang yaitu tokoh utama itu sendiri dan seorang tokoh pendamping wanita (hanya saja di English Patient, tokoh pendamping wanita itu berperan sebagai seorang perawat), dan terakhirnya tokoh utama itu meninggal dunia karena sakitnya.
Dedy Tri Riyadi
Jumat, 2008 April 11
Premanisme dan Tehnologi
Resensi Buku : DigitariumJudul Buku : Digitarium
Penulis : Baron Leonard
Penerbit : Akoer
Tebal : 567 hal.
Harga : Rp 68.000
Novel ini, memang tidak serta merta terseret dalam imajinasi The Matrix. Malah pertikaian di dalamnya mengingatkan saya pada dongeng-dongeng mafioso Asia seperti Triad ataupun Yakuza. Pun dengan tokoh-tokoh wanita yang diceritakan mirip dengan tokoh heroine (pendekar wanita) pujaan gamers beberapa waktu lalu ; Lara Croft, yang fasih berbicara soal ilmu-ilmu beladiri kuno ala China, makin mantaplah keyakinan bahwa novel Digitarium ini memang tidak mau berlarut-larut dalam pengadeganan ala The Matrix itu.
Disebutkan ada dua macam kelompok yang berebut pengaruh kekuasaan kejahatan di kota Jakarta ini beberapa tahun mendatang yakni Alpha & Omega dan Legion. Peperangan antar keduanya tidaklah frontal melainkan melalui beberapa aksi pembunuhan tokoh-tokoh pentingnya. Dalam kasusnya, tokoh yang dibunuh adalah tokoh yang dicurigai hendak berpindah dari Legion ke Alpha & Omega. Juga sebaliknya. Pembunuhan mereka, dilakukan dengan menyewa "assassin" yang sangat menguasai tehnologi dan ilmu bela diri yakni dari kelompok DiverS. Kelompok ini bisa ditemui dari pergaulan di dunia maya.
Alur maju mundur yang digunakan oleh penulis sedikit membuat pembaca merasa terjebak dalam labirin, hingga akhirnya (seperti kata sagangan dari Kafi Kurnia di sampul belakang) harus menuntaskan pembacaan untuk bisa memahami apa sebenarnya yang terjadi di sana. Rahasia para DiverS itu sendiri yang pada akhirnya menarik untuk dicermati dalam kisah ini.
Pada awalnya ada kesulitan tersendiri untuk mengungkapkan apa sebenarnya yang dituliskan dalam perintah dan pesan yang dilakukan oleh para DiverS. Tetapi berbekal pengalaman mengikuti beberapa kali kontes di sebuah forum teka-teki ternama di dunia maya, saya sarankan kepada pembaca untuk menyanding telepon genggam ketika menemukan rentetan angka yang diketikkan para DiverS di komputer atau PDA mereka. Walaupun memang masih membingungkan. Tapi inilah intermezzo dari penulis untuk semakin menegangkan otak pembaca.
Sayangnya, penulis belum bisa menterjemahkan alasan paling mendasar kenapa Alpha & Omega sangat menginginkan Legion hancur juga sebaliknya. Justru dia terjebak untuk sangat berhati-hati menyembunyikan identitas para DiverS hingga akhir cerita. Padahal untuk konflik sepelik ini, sangat dirasakan perlu mengungkap (misalnya) betapa jahatnya pekerjaan orang-orang di Legion itu atau betapa agungnya nilai-nilai yang ingin diterapkan oleh Alpha & Omega di kota Jakarta tercinta ini. Seandainya begitu pun, mengapa mereka tidak memberikan bukti-bukti kejahatan pihak lawan kepada pihak berwajib? Bahkan seorang kapten (setahu saya sudah tidak ada bahasa jabatan kapten ini di kepolisian, jadi Inspektur ya?) Polwan harus menemukan ajalnya gara-gara pembocoran identitas seorang Legion oleh seorang DiverS.
Dedy Tri Riyadi
Senin, 2008 April 07
Mempersoalkan Karunia Tuhan
Resensi Buku : Big SizeJudul : Big Size ; sebuah novel tentang Keperkasaan Lelaki
Penerbit : Akoer
Penulis : Wibi AR
Tebal : 164 hal
Harga : 49.500
Tapi maaf, bukan bermaksud mendiskreditkan generasi muda, tetapi di buku ini pun banyak pernyataan yang bernada merendahkan pengetahuan anak muda bahkan cenderung rasial. Lihatlah ejekan mengenai "muka Jawa" pada Lasimin si tokoh utama. Kemudian pernyataan yang cukup ngasal mengenai kehidupan seksual remaja di Jakarta yang menyebutkan banyak gadis yang tidak perawan, pemuda yang sudah mengenal gaya pacaran yang sudah sedemikian bebas. Lebih baik jika penulis sedikit mengambil data dari sebuah laporan kesehatan reproduksi remaja misalnya sebagai dukungan terhadap pernyataan seperti itu.
Lebih lagi sebagai sebuah fiksi, nampak jelas sekali bahwa penulis terkesan bermain-main dengan alur ceritanya. Di pertengahan buku dikemukakan Lasimin yang akhirnya memutuskan berhenti mengurut alat vitalnya karena kecewa tidak ada perubahan selama 7 bulan itu, demikian juga dengan Elis yang tiga bulan diurut Lasimin tidak ada tanda-tanda perubahan di tubuhnya. Tiba-tiba di ending cerita, Lasimin berbahagia melihat Elis yang berteriak soal ukuran alat vitalnya yang sebesar burung Garuda!
Ada kemungkinan, buku ini memang diniatkan untuk mengisi celah buku novel humor yang sedang diminati. Maklumlah banyak dari kita yang terancam stress di perkotaan gara-gara pekerjaan di kantor, usaha yang menurun, lalulintas yang padat, hingga perlu hal-hal ringan yang bisa jadi tidak perlu masuk akal. Di luar dari itu, ada sisi positif dari buku ini yang bisa diambil ; 1. Kehidupan seksual remaja kita yang patut diperhatikan, 2. Olahraga bisa mengalihkan hal-hal yang demikian, dan 3. bagaimanapun wujud fisik kita, sudah selayaknya kita nikmati dan syukuri sebab itu karunia Tuhan. Dan 4. Bagaimana pun lingkungan tempat kita tinggal, sudah sepatutnya kita bertahan dengan cara pandang kita sendiri.
Persoalannya, dengan isi buku ini apakah nilai-nilai tersebut dapat ditangkap pembaca?
Dedy Tri Riyadi




