Postingan

Memberi Gambar pada Kesunyian - Membaca Buku Puisi Muzammil Frasdia "Hikayat Sunyi"

A.     Sunyi yang Tak Semata Kosong Ini sepi masih kutemani, Sayang Dan terus menulis sajak tentangmu Sekalipun tubuh mau remuk Menahan dera sakit yang menyergap pinggangku (Rumah Gubuk) Petikan puisi di atas adalah karya Muzammil Frasdia yang ingin saya jadikan petunjuk untuk memasuki dunia kesunyian dalam aku lirik penyairnya melalui buku puisi yang secara terang-terangan (melalui judul bukunya, Hikayat Sunyi) akan mengajak majelis pembaca berakrab-akrab dengan (apa yang banyak dituliskan dalam buku ini) sunyi. Sunyi – selain berarti kosong, nir bebunyian, atau ketiadaan interaksi – juga berarti kebebasan, menurut kamus, sedangkan sepi selain sinonim dengan sunyi, juga menyatakan pertanyaan terhadap eksistensi, yang tidak hanya menyasar pihak lain tetapi juga menuju pada diri sendiri. Bisa diasumsikan, melalui Hikayat Sunyi ini, Muzzammil Frasdia hendak mengutarakan beragam versi ataupun sisi dari kata yang disebut “sunyi” ini. Di tangan M...

Rindu yang Membawa Ke Masa Lalu

Judul buku : Bekal Kunjungan, Sepilihan Puisi Nermi Silaban   Penulis : Nermi Silaban   Penerbit : Gambang bukubudaya Cetakan I : April 2017 Hal : vii+ 82 halaman     …   Ia pacu sejauhnya hanya ke tepian senja Batas yang membuat dirinya bertanya-tanya: Bunda, kenapa kita tidak menempuhnya Bukankah ayah telah berjanji menjaga kita?   (Kisah Menggambar)   Puisi, sebagai bagian dari seni yang merupakan superstruktur, jelas tidak dipisahkan dari struktur dan infrastuktur pembentuknya yaitu manusia dan lingkungannya. Lingkungan dalam hal ini bukan sekadar rumah dan tempat tinggalnya saja, tetapi juga relasi yang dibentuk oleh manusia itu. Ekologi, menurut teori Darwin, bukan sekadar tempat tinggal individual, tetapi sekaligus di dalamnya ada rantai hidup baik makanan maupun energi. Singkatnya, pembuatan puisi pastinya melibatkan dan mengisyaratkan adanya hubungan antar manusia, manusia dan lingkungan, pengaruh yang didapatkann...

Meraba Dinding Imajiner Dunia Perempuan Melalui Kabin Pateh

Gambar
Lewat kumpulan cerpen “Kabin Pateh” yang berarti Kawin Patih dalam bahasa Madura, Weni Suryandari tengah menjalankan beberapa hal yaitu; 1. menceritakan seluk beluk perempuan dalam artian peperangan batin sebagai mana tercermin di cerpen “Pelacur untuk Suamiku” yang seolah-olah berbicara mewakili beberapa peran para istri di dalam kehidupan berumah-tangga, 2. membawa cerita duka perempuan mulai dari mencari pasangan (tergambar dalam cerpen “Aku Bukan Bangsawan”, “Kabin Pateh”, “Juleha”, “Kawin Darah”), menjadi korban KDRT dari pasangannya (seperti dalam cerpen “Bau”, “Kematian Raja”, “Minah”), atau menjadi korban dari konflik dalam keluarganya (terceritakan dalam cerpen “Kabin Pateh”, “Juleha”, “Telapak Kaki Ibu”, “Putri dan Akuariumnya”), dan 3. menyoroti hal-hal yang “tidak normal” dalam kehidupan bermasyarakat seperti dalam cerpen “Mamak” yang mengisahkan bagaimana seorang kakak harus bertanggungjawab penuh meskipun memaksa dirinya pada kondisi yang terbatas untuk “memudahkan” k...

Memotret Banyuwangi dengan Puisi Pendek

Gambar
Memotret Banyuwangi dengan Puisi Pendek Judul Buku : Haiku Sunrise of Java – Buku Puisi Samsudin Adlawi Penulis : Samsudin Adlawi Penerbit : PT. JePe Press Media Utama Cetakan : I, Desember 2011 Tebal : xxx +110 hal. Sampai saat ini, masih banyak orang jika bertemu dengan kata ”haiku” maka akan mengaitkannya dengan Matsuo Basho atau Matsuo Kinsaku atau pada akhirnya digelari Matsuo Chuemon Munafusa (1644 – November 28, 1694). Karena memang beliau lah yang dianggap sebagai penemu Haiku. Kaitan dengan Basho, berarti mengaitkan dengan pola yang dijaga ketat oleh haiku itu sendiri. Dalam pengantarnya, Adlawi mengemukakan bahwa haiku yang digubah olehnya adalah kreasi dari haiku ala Basho yang artinya tidak akan tepat seperti haiku Basho. Hal yang sama telah diungkapkan oleh Jack Kerouac ketika menuliskan American Haiku, bahwa Haiku Amerika bukanlah Haiku Jepang yang terikat dengan aturan 17 suku kata. Bahkan menurut Kerouac, untuk disebut s...

Mengolah Rasa Gelisah dan Menularkan Kesadaran

Gambar
Mengolah Rasa Gelisah dan Menularkan Kesadaran pada Generasi Selanjutnya Judul Buku : Mata Jaman – sekumpulan sajak Penulis : Budhi Setyawan, Jumari HS, Sosiawan Leak Penerbit : Penerbit Eraqu Cetakan : I, tahun 2011 Tebal : 136 hal. Dalam teori perkembangan kepribadian Erickson, para penyair yang dilahirkan sebelum tahun 1970 ini sudah pasti berada pada fase ke-7 yaitu fase mereka menumbuhkan upaya-upaya kreatif dan produktif untuk mengarahkan generasi selanjutnya. Dan ini dikarenakan mereka merasa langkah seperti ini sangatlah penting. Kesadaran semacam ini tentulah tidak timbul baru-baru ini saja, melainkan melalui perjalanan yang panjang, suatu kecemasan atau kegelisahan yang terus menerus. Dan pada akhirnya terbangun semacam kesadaran yang ekstrovert, kesadaran yang mengarah ke luar pribadi masing-masing para penyair ini. Dan barangkali, ketiga penyair ini juga sudah berhasil memahami apa yang menurut Carl Gustav Jung sebagai ”jiwa” sehingga meskipun mereka berada pa...

Menikmati Kesempurnaan yang Tak Pernah Ada

Gambar
Judul Buku : Mannequin of Dharma Pengarang : Roro Syin Penerbit : www.bookoopedia.com /www.bisnis2030.com Terbit : Februari 2009 Hal : 336 hal. Harga : Rp. 72.000,- Sinopsis Adalah Dharma, Nadya, Cindy, dan Kinar. Empat perempuan muda metropolitan yang gamang akan kehidupan cinta mereka. Lewat kacamata Dharma, seorang copy writer di sebuah biro iklan, sebuah persahabatan digambarkan sebagai satu bentuk penyelesaian masalah-masalah orang per orang di dalamnya. Dharma bukan perempuan muda yang ideal menurutnya, sehingga dia rela bertahun-tahun menanti kepastian cinta seorang Bismarck. Dalam kesehariannya yang sibuk, dia juga harus "membelah diri" untuk ikut mengurusi permasalahan Cindy yang dihamili oleh pacarnya yang seorang junkies, Kinar yang hendak mempertahankan hubungannya dengan seseorang yang hendak menikah karena hutang budi, dan Nadya yang bolak-balik Jakarta - Bali hanya demi orang mancanegara yang dianggapnya punya kelebihan materi dibandingkan pria Indone...

PERASAAN, PERISTIWA, DAN PUISI

Gambar
Semacam Komentar Panjang Setelah Membaca Kumpulan Sajak Gunawan Maryanto; Perasaan-Perasaan yang Menyusun Sendiri Petualangannya. ==================================================== Judul Buku : Perasaan-Perasaan yang Menyusun Sendiri Petualangannya Pengarang : Gunawan Maryanto Penerbit : omahsore ( http://www.omahsore.web.id/ ) Cetakan : Pertama, Desember 2008 Halaman : x+67 hlm, 12,2 x 18 cm No. ISBN : 978791904704 ==================================================== Pertama kali selesai membaca sajak-sajak Gunawan Maryanto yang akrab dipanggil Cindhil ini, yang terpikirkan oleh saya adalah betapa pandai dia menarik ulur perasaannya terhadap setiap peristiwa. Peristiwa atau kenyataan hidup sehari-hari, dalam ranah semangat puitika, menurut Saku -taro adalah hal-hal yang harus berada di bawah puisi itu sendiri – dalam esensi puisi romantis – atau dikritisi oleh puisi itu – dalam esensi pe- dagogis. Namun yang saya amati dalam puisi-puisi Gunawan Maryanto ini, ada semacam sifat untuk ...