<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-9117554917202738035</id><updated>2011-12-28T23:25:16.040-08:00</updated><category term='resensi buku'/><title type='text'>Bacalah dan Bergembiralah</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://tamanbacaanku.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9117554917202738035/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tamanbacaanku.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Dedy Tri Riyadi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05323918027714983959</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>14</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9117554917202738035.post-4125198459321861539</id><published>2011-12-28T23:21:00.000-08:00</published><updated>2011-12-28T23:25:16.054-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='resensi buku'/><title type='text'>Memotret Banyuwangi  dengan Puisi Pendek</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="https://fbcdn-photos-a.akamaihd.net/hphotos-ak-ash4/391897_10150459927102099_573332098_8979368_47191014_a.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 180px; height: 135px;" src="https://fbcdn-photos-a.akamaihd.net/hphotos-ak-ash4/391897_10150459927102099_573332098_8979368_47191014_a.jpg" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Memotret Banyuwangi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;dengan Puisi Pendek&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;strong&gt;Judul Buku : Haiku Sunrise of Java – Buku Puisi Samsudin Adlawi&lt;br /&gt;Penulis           : Samsudin Adlawi&lt;br /&gt;Penerbit        : PT. JePe Press Media Utama&lt;br /&gt;Cetakan         : I, Desember 2011&lt;br /&gt;Tebal               : xxx +110 hal.&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sampai  saat ini, masih banyak orang jika bertemu dengan kata ”haiku” maka akan  mengaitkannya dengan Matsuo Basho atau Matsuo Kinsaku atau pada  akhirnya digelari Matsuo Chuemon Munafusa (1644 – November 28, 1694).  Karena memang beliau lah yang dianggap sebagai penemu Haiku. Kaitan  dengan Basho, berarti mengaitkan dengan pola yang dijaga ketat oleh  haiku itu sendiri. Dalam pengantarnya, Adlawi mengemukakan bahwa haiku  yang digubah olehnya adalah kreasi dari haiku ala Basho yang artinya  tidak akan tepat seperti haiku Basho.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Hal yang sama telah  diungkapkan oleh Jack Kerouac ketika menuliskan American Haiku, bahwa  Haiku Amerika bukanlah Haiku Jepang yang terikat dengan aturan 17 suku  kata. Bahkan menurut Kerouac, untuk disebut sebagai haiku – puisi itu  haruslah sederhana dan terbebas dari apa yang disebutnya sebagai ”tipu  daya puitis” dan mencipta gambar kecil dan juga terasa lapang juga  anggun seperti Pastorella Vivaldi.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Jorge Luis Borges pun  sama seperti Kerouac menulis haiku dengan caranya sendiri, tidak terikat  dengan aturan haiku Jepang itu. Dan jika membaca haiku Borges, maka  pendapat Kerouac ada benarnya bahwa di dalam sebuah haiku yang harus  tetap ada itu sebuah gambaran.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Dan ketika Adlawi  mengatakan bahwa haiku-haiku dalam buku ini bertujuan untuk  menggambarkan Banyuwangi dengan daya pukaunya yang menawan, tampaknya  tujuan itu sangatlah berjodoh dengan identitas haiku itu sendiri yang  mengandung sebuah citra/gambar.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Puisi-puisi dalam buku ini  dibagi dalam 6 bagian yaitu Pukau Alam yang mencerminkan keindahan  daerah-daerah di Banyuwangi, Pukau Budaya yang menceritakan adat  istiadat masyarakat Banyuwangi, Pukau Seni yang mengangkat kesenian  daerah di Banyuwangi, Pukau Ritual yang kental dengan upacara adat di  masyarakat Banyuwangi, Pukau Pendekar yang menggambarkan kepahlawanan  beberapa tokoh di Banyuwangi, Pukau Watak yang menggambarkan kondisi  psikososio masyarakat Banyuwangi, dan Pukau Kuliner yang tentu saja  menceritakan betapa lezat dan nikmat masakan-masakan khas di sana.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Baiklah kita nikmati beberapa haiku ala Adlawi untuk membuktikan betapa Banyuwangi sangat elok;&lt;/p&gt;&lt;p style="font-weight: bold;"&gt;Plengkung&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;em&gt;Ombak bergulung&lt;br /&gt;Diam mematung&lt;br /&gt;Remuk badan tak urung&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;em&gt;Ombak berkejaran&lt;br /&gt;Berebut bibir pantai&lt;br /&gt;Pahat keindahan Tuhan&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Haiku  – seperti dalam pendapat Kerouac atau Borges tadi – seolah-olah potret  yang disajikan dengan anggun, ada pun perasaan (yang biasanya sering  timbul dalam puisi biasa) dibiarkan tersembunyi dan biarlah pembaca yang  menemukannya. Namun Adlawi mengemukakan perasaannya dengan jelas dalam  kalimat ”&lt;em&gt;remuk badan tak urung.&lt;/em&gt;”&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Mari bandingkan dengan milik Borges yang menggambarkan seseorang yang terbaring dalam peti mati berikut:&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;em&gt;The man's dead.&lt;br /&gt;His beard and nails grow.&lt;br /&gt;They don't know.&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Obyek  dalam puisi digambarkan detail – janggut dan kukunya tetap tumbuh  meskipun orang itu sudah mati. Dan penekanan yang menjelaskan perasaan  di dapat dalam kalimat “mereka tidak tahu.” Mereka tidak tahu bahwa  orang itu sudah mati sehingga mereka tetap tumbuh. Pembaca bisa  menemukan perasaan bahwa kematian seseorang bisa saja dilupakan atau  dikesampingkan.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Atau bandingkan dengan haiku ala Kerouac berikut:&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;em&gt;No telegram today&lt;br /&gt;only more leaves&lt;br /&gt;fell.&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Ada perasaan kerinduan pada seseorang yang digambarkan dengan kalimat &lt;em&gt;“Tidak ada telegram hari ini”&lt;/em&gt; lalu obyek lain seolah mewakili dan menggenapi kerinduan itu dengan perlambang musim atau kepasrahan &lt;em&gt;”hanya ada dedaunan yang lebih sering gugur.”&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Begitulah  perasaan disembunyikan oleh kedua penyair itu dengan memakai hal-hal  yang diinderanya (lewat mata). Hal ini bukan semata-mata kreasi dari  Kerouac atau Borges melainkan inherent dari apa yang telah dipelopori  oleh Basho dalam haiku-nya:&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;em&gt;furu ike ya&lt;br /&gt;kawazu tobikomu&lt;br /&gt;mizu no oto&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Yang saya terjemahkan bebas menjadi : &lt;em&gt;”sebuah telaga tua/ seekor katak mencebur /bercipratan air.”&lt;/em&gt;  Tak ada perasaan yang jelas dituliskan di sana. Semuanya yang diindera  dijelaskan dengan apa adanya tanpa dipadupadankan dengan perasaan yang  bersaksi. Pembaca lah yang kemudian bisa menarik semacam kesimpulan apa  yang sesungguhnya terjadi di dalam gambar itu.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Dalam haiku  ”Plengkung” di atas, justru bait kedua yang masuk ke dalam definisi  yang didapatkan oleh Basho, Kerouac, atau Borges. Pembaca bisa merasa  kagum dan terbebas dari ”remuk badan” ketika melihat &lt;em&gt;”Ombak berkejaran/merebut bibir pantai/(dan) pahat keindahan Tuhan.”&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Tetapi,  barangkali, inilah yang disebut oleh Adlawi sebagai kreasi dari kreasi  haiku Basho. Haiku dengan perasaan yang terlihat dan tertulis jelas.  Karena bila kita lihat seperti pada &lt;em&gt;”Seblang”&lt;/em&gt; justru perasaan dari penulis yang mengemuka di bait pertama: &lt;em&gt;Untuk apa / menari ketika / tak sadar diri.&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Demikian juga pada &lt;em&gt;”Bingkak”&lt;/em&gt; yang mengatakan: &lt;em&gt;Tak peduli / siapa kau / kita sama saja &lt;/em&gt;atau pada &lt;em&gt;”Rujak Soto 1”&lt;/em&gt; yang memuat: &lt;em&gt;Bukan di logika / tapi lidah tempat / dia bertahta.&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Bisa  jadi, Adlawi memang belum tuntas untuk mengkreasikan apa yang  menurutnya sebagai haiku ala dirinya, karena pada banyak judul dia  justru tunduk pada definisi yang diamini Kerouac dan Borges itu.  Lihatlah pada ”Angklung” yang berisi: &lt;em&gt;Di tangan wiyaga / bambu mati / menjelma bunyi&lt;/em&gt;, atau pada ”Gedhogan” berikut: &lt;em&gt;Alu cumbui lesung / meramu irama merdu / menelanjangi tubuh padi.&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Meskipun  demikian, sebagai gambaran yang kuat atas apa dan bagaimana Banyuwangi,  puisi-puisi pendek ini sudah menjadi semacam ensiklopedia bagi mereka  yang belum pernah bertandang ke sebuah tempat di ujung timur Pulau Jawa.&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Jakarta, 29 Desember 2011&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9117554917202738035-4125198459321861539?l=tamanbacaanku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tamanbacaanku.blogspot.com/feeds/4125198459321861539/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9117554917202738035&amp;postID=4125198459321861539' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9117554917202738035/posts/default/4125198459321861539'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9117554917202738035/posts/default/4125198459321861539'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tamanbacaanku.blogspot.com/2011/12/memotret-banyuwangi-dengan-puisi-pendek.html' title='Memotret Banyuwangi  dengan Puisi Pendek'/><author><name>Dedy Tri Riyadi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05323918027714983959</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9117554917202738035.post-7186229388379654352</id><published>2011-12-28T23:17:00.000-08:00</published><updated>2011-12-28T23:20:47.076-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='resensi buku'/><title type='text'>Mengolah Rasa Gelisah dan Menularkan Kesadaran</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="https://fbcdn-sphotos-a.akamaihd.net/hphotos-ak-ash4/s320x320/396224_10150462241637099_573332098_8989734_1058027302_n.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="https://fbcdn-sphotos-a.akamaihd.net/hphotos-ak-ash4/s320x320/396224_10150462241637099_573332098_8989734_1058027302_n.jpg" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Mengolah Rasa Gelisah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;dan Menularkan Kesadaran&lt;/span&gt;&lt;strong style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;pada Generasi Selanjutnya&lt;/strong&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Judul Buku : Mata Jaman – sekumpulan sajak&lt;br /&gt;Penulis : Budhi Setyawan, Jumari HS, Sosiawan Leak&lt;br /&gt;Penerbit : Penerbit Eraqu&lt;br /&gt;Cetakan : I, tahun 2011&lt;br /&gt;Tebal : 136 hal.&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Dalam  teori perkembangan kepribadian Erickson, para penyair yang  dilahirkan  sebelum tahun 1970 ini sudah pasti berada pada fase ke-7 yaitu fase  mereka menumbuhkan upaya-upaya kreatif dan produktif untuk mengarahkan  generasi selanjutnya. Dan ini dikarenakan mereka merasa langkah seperti  ini sangatlah penting.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Kesadaran semacam ini tentulah  tidak timbul baru-baru ini saja, melainkan melalui perjalanan yang  panjang, suatu kecemasan atau kegelisahan yang terus menerus. Dan pada  akhirnya terbangun semacam kesadaran yang ekstrovert, kesadaran yang  mengarah ke luar pribadi masing-masing para penyair ini.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Dan  barangkali, ketiga penyair ini juga sudah berhasil memahami apa yang  menurut Carl Gustav Jung sebagai ”jiwa” sehingga meskipun mereka berada  pada lingkungan yang berbeda-beda, dengan pergumulan yang beragam,  tetapi produk keluaran mereka di dalam buku ini seperti ”satu entitas”  yang tidak bisa diceraikan yaitu kegelisahan dan keinginan untuk sesuatu  yang lebih baik. Baik bagi diri mereka sendiri, lingkungan, bahkan  negara ini.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Budhi Setyawan sangat sadar bahwa ”&lt;em&gt;kemasan manis dunia terlalu banyak menipu&lt;/em&gt;” (Sajak ”Di Luar Wilayah”) dan merasa &lt;em&gt;”bukan masanya lagi/kami berdiri di situ”&lt;/em&gt; dan baginya &lt;em&gt;”kini saatnya (kami) di sini/belajar meraih peran sadar”&lt;/em&gt;  (Sajak Kami Pulang Ketika Mereka Datang). Itulah kegelisahan pertama  yang ditampilkan dalam buku ini. Kegelisahan seorang penyair yang  mengalami &lt;em&gt;”pemberontakan di belukar hati” &lt;/em&gt;yang &lt;em&gt;”terjadi berantai sepanjang hari”&lt;/em&gt; (Sajak Terkunci di Dalam).&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Dengan membebani diri dengan kegelisahan itu, pada akhirnya Budhi Setyawan bisa melihat bahwa &lt;em&gt;”yang mengepung kota/adalah gunung gunung ambisi/yang datang berpakaian rapi sering berdasi/sikat sana sini”&lt;/em&gt; (Sajak Yang Mengepung Kota). Meskipun demikian, dia – mungkin karena sehari-hari berada di lingkungan birokrasi – merasa &lt;em&gt;”membeku/dalam keterasingan yang endemis” &lt;/em&gt;(Sajak Hampa Endemis).&lt;/p&gt;&lt;p&gt;”Kepasrahan”  – meski bukan bermaksud menyerah pada keadaan – itu pada akhirnya  menimbulkan kesadaran dalam kadar yang tentu berbeda dengan kedua  penyair dalam antologi ini, bahwa dia ingin sekedar di&lt;em&gt;”kembalikan (aku) jadi daun/agar puas menatap matahari/melukis sejarah asal usul/(yang) tergambar di dahan ranting”&lt;/em&gt; (Sajak Kembalikan Aku Jadi Daun).&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Mengamini  kenyataan bahwa pada usianya yang menginjak kepala 4 ini sudah pada  tahap mengarahkan generasi selanjutnya, Budhi pun melakukan titip pesan  dalam sajak ”Untuk Anak Anakku” agar generasi mendatang agar &lt;em&gt;”terus(lah) ketuk kamar hati mereka.”&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Kepasrahan Jumari HS yang merupakan kesadaran batinnya segera dapat tertangkap pada sajak Tasawuf Tembakau I yang menyatakan &lt;em&gt;”Di sini, hanya kepasrahan yang melipat airmata.”&lt;/em&gt; Sekaligus di sana dia sungguh sadar bahwa tak ada kekuatan atau gerakan yang dapat dilakukannya, selain &lt;em&gt;”mengalirkan kata-kata dalam puisi.”&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Maka  kemudian yang terjadi selanjutnya adalah mulailah Jumari HS mengalirkan  kata-kata dengan lugas. Seperti bisa dibaca pada sajak ”Jakarta”,  ”Kemana Mesti Berlindung”, ”Sajak Buah Kuldi”, ”Negeri Preman”, dan  ”Negeri Setan.”&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Agaknya, Jumari HS juga punya kesadaran  bahwa kelugasan itu bukan satu-satunya cara membahasakan kegelisahan.  Ada juga bahasa yang lebih melankolik atau romantis. Dia sadar betul hal  itu sehingga merasa ”&lt;em&gt;dalam gelisah/ wajah berwarna sendu/aku rindui diri sendiri&lt;/em&gt;” (Sajak Dalam Gelisah).&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Kegelisahan itu pun menemu takdirnya dan selanjutnya menjadi pesan bahwa yang perlu dilakukan adalah &lt;em&gt;”(lalu) mengajari cinta/ yang semakin berdenyar di hatiku”&lt;/em&gt; dan jika hal itu dilakukan maka &lt;em&gt;”tiba-tiba aku temukan diriku/berenang dalam ayat-ayat-Nya”&lt;/em&gt;  (Sajak Tasawuf Cinta). Pesan tentang cinta itulah yang pada akhirnya  membuat suatu kepasrahan seperti yang dikandung dalam sajak ”Reinkarnasi  Rumput” bahwa tingkat tertinggi kesadaran adalah kepasrahan kepada  Tuhan sehingga Jumari HS menyatakan &lt;em&gt;”Tuhan, jangan biarkan aku sendiri/Engkaulah hidup dan matiku!”&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sosiawan Leak membuka kesadaran pembaca dengan sebuah pertanyaan &lt;em&gt;“hidup kami, milik siapa?”&lt;/em&gt; Dan ini suatu pertanyaan yang tentunya akan bisa dijawab oleh kita yang sudah sadar betul &lt;em&gt;”siapa aku.”&lt;/em&gt; Sebab &lt;em&gt;self-knowing&lt;/em&gt; adalah bagian kesadaran &lt;em&gt;autonoetic&lt;/em&gt; untuk mencapai kesadaran selanjutnya (&lt;em&gt;noetic&lt;/em&gt; dan &lt;em&gt;anoetic&lt;/em&gt;) menurut Tulving.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Dan seperti di dalam teori kesadaran, selanjutnya, Leak mulai mengemukakan beberapa fakta lingkungan seperti &lt;em&gt;”Di Sukolilo”&lt;/em&gt;, &lt;em&gt;”Kabar dari Sukolilo”&lt;/em&gt; agar pembaca beroleh kesadaran noetic yang berkaitan erat dengan lingkungan, hubungan, peristiwa.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Simak saja beberapa peristiwa nyata yang diangkat Leak seperti &lt;em&gt;”gayus, monarkhi, bencana, dan sepakbola”&lt;/em&gt; (Sajak Jangan Ganggu Tikus), &lt;em&gt;”video porno, hp model terbaru, cuaca pancaroba”&lt;/em&gt; (Sajak Anak Anak Batu), &lt;em&gt;”buah-buahan import”&lt;/em&gt; (Sajak Pertempuran Bapak Ibu),&lt;em&gt;”geng sma (yang) memukuli siswa baru”&lt;/em&gt; (Sajak Lari dari Kekerasan), dan masih banyak lagi.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Kesadaran  Anoetic pun diperkenalkan oleh Leak dengan memperlihatkan hal-hal yang  tidak semestinya terjadi atau terjadi tetapi tidak sesuai dengan harapan  seperti ”menyebar huru hara sambil berdoa” (Sajak Tentara Langit), ”sms  yang tak sampai (Sajak ”Sorry, Sebagian Teks Hilang...”), &lt;em&gt;”sempurna bohongnya”&lt;/em&gt;  (Sajak Negri Sempurna), atau ironi yang dikandung dalam sajak ”Pakdhe  Dalijo Mencuri Pot Bunga” karena Pakdhe Dalijo adalah penjaga rumah  ibadah, tapi kok mencuri?&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Seperti menyampaikan kesimpulan sementara, Leak menyatakan bahwa segala sesuatu itu berkecamuk &lt;em&gt;”hanya dalam pikiran(nya!)”&lt;/em&gt;  (Sajak Bu Tante; Mapan di Pikiran), dan meskipun begitu, itu juga  adalah suatu perlawanan (terhadap nasib) yang dihargai oleh Leak seperti  dalam sajaknya, dia mengatakan, &lt;em&gt;”kalian;/yang bertahan hidup sia-sia/ketimbang mati tanpa perlawanan/kuakui;/kalian saudaraku”&lt;/em&gt; (Sajak Para Maling Saudaraku).&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Beberapa  pesan moral yang biasa diucap dan diperdengarkan, oleh Leak diolah  dengan beragam metafora. Katakanlah pameo ”Hidup itu pilihan”  dibahasakan menjadi &lt;em&gt;”masuk bilik/dan cobloslah sasaran, semau sampeyan!”&lt;/em&gt; (Sajak Partai Kolor Ijo), Peribahasa ”buah jatuh tak jauh dari pohonnya” menjadi &lt;em&gt;”bapakku raja selingkuh/ dan aku, putra mahkotanya!”&lt;/em&gt; (Sajak Bapakku Raja Selingkuh).&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Dan Leak pada akhirnya pun mengakui adanya suatu kepasrahan setelah proses kesadaran yang dibangun dari awal, bahwa &lt;em&gt;”para tai kembali berbakti kepada majikannya/ tuan dan nyonya manusia / sebagai air kehidupan!”&lt;/em&gt;  (Sajak Negri Tai). Artinya, memang perlu ada kesinambungan antara  kesadaran, kepasrahan, dan kesadaran pada generasi selanjutnya. Ini  semacam pesan yang dirangkai dan diramu dengan cara yang berbeda oleh  ketiga penyair dalam buku ini.&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Jakarta, 29 Desember 2011.&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9117554917202738035-7186229388379654352?l=tamanbacaanku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tamanbacaanku.blogspot.com/feeds/7186229388379654352/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9117554917202738035&amp;postID=7186229388379654352' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9117554917202738035/posts/default/7186229388379654352'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9117554917202738035/posts/default/7186229388379654352'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tamanbacaanku.blogspot.com/2011/12/mengolah-rasa-gelisah-dan-menularkan.html' title='Mengolah Rasa Gelisah dan Menularkan Kesadaran'/><author><name>Dedy Tri Riyadi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05323918027714983959</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9117554917202738035.post-1192294693288422377</id><published>2009-05-12T20:53:00.000-07:00</published><updated>2009-05-12T21:50:37.049-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='resensi buku'/><title type='text'>Menikmati Kesempurnaan yang Tak Pernah Ada</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;a href="http://www.bookoopedia.com/images/products/883-09-27652_t.jpg"&gt;&lt;img style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 84px; CURSOR: hand; HEIGHT: 140px" alt="" src="http://www.bookoopedia.com/images/products/883-09-27652_t.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;strong&gt;Judul Buku : Mannequin of Dharma&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;strong&gt;Pengarang : Roro Syin&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;strong&gt;Penerbit : &lt;/strong&gt;&lt;a href="http://www.bookoopedia.com/"&gt;&lt;strong&gt;www.bookoopedia.com&lt;/strong&gt;&lt;/a&gt;&lt;strong&gt;  /www.bisnis2030.com&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;strong&gt;Terbit : Februari 2009&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;strong&gt;Hal      : 336 hal.&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;strong&gt;Harga : Rp. 72.000,-&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;strong&gt;Sinopsis&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Adalah Dharma, Nadya, Cindy, dan Kinar. Empat perempuan muda metropolitan yang gamang akan kehidupan cinta mereka. Lewat kacamata Dharma, seorang copy writer di sebuah biro iklan, sebuah persahabatan digambarkan sebagai satu bentuk penyelesaian masalah-masalah orang per orang di dalamnya. Dharma bukan perempuan muda yang ideal menurutnya, sehingga dia rela bertahun-tahun menanti kepastian cinta seorang Bismarck. Dalam kesehariannya yang sibuk, dia juga harus "membelah diri" untuk ikut mengurusi permasalahan Cindy yang dihamili oleh pacarnya yang seorang junkies, Kinar yang hendak mempertahankan hubungannya dengan seseorang yang hendak menikah karena hutang budi, dan Nadya yang bolak-balik Jakarta - Bali hanya demi orang mancanegara yang dianggapnya punya kelebihan materi dibandingkan pria Indonesia.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;strong&gt;Spontanitas&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Roro Syin menuliskan novel ini dengan ciri khas penulis muda; spontanitas. Bisa kelihatan dia selalu bisa bercerita dari A sampai Z untuk memberi penekanan pada satu hal saja. Contohnya dia menuliskan dua buah contoh perempuan yang diselingkuhi hanya untuk menegaskan betapa sakitnya perasaan Kinar yang diselingkuhi oleh pasangannya. Hal ini bisa menimbulkan bias pada pembacaan alur cerita.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Hal yang menunjukkan spontanitas penulisan nampak pada saat Dharma dan Bismarck atau Brown Sugar sedang berkencan. Banyak sekali ditemukan kata-kata bercetak miring yang menggambarkan perasaan seorang Dharma terhadap suasana saat itu. Spontanitas juga bisa disalahartikan sebagai kekurangsabaran untuk menuliskan secara wajar, sehingga pembaca bisa menikmati suasana yang dirasakan karakter-karakter dalam novel itu.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;strong&gt;Penokohan&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Roro Syin membuka novel ini dengan kisah sedih seorang Nadya. Anak pertama dari seorang pelacur yang hidup di tengah-tengah perkampungan besar bernama Jakarta. Penderitaan Nadya sangat kuat untuk bisa dieksplorasi lebih menjadi novel yang indah. Di bagian tengah, dia juga menceritakan pengalaman kekerasan seksual yang dialami oleh Cindy kecil yang diperkosa oleh pamannya sendiri, yang sering dipanggilnya Bang Rambo itu.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Sebetulnya, jika menelaah karakter-karakter Nadya dan Cindy, maka novel ini bisa jadi sangat kuat. Dengan pengalaman traumatik yang dibangun secara kuat, seharusnya kedua karakter ini akan bisa berkembang menjadi pribadi yang tangguh atau justru akhirnya menyerah kalah.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Dibandingkan dengan karakter Dharma maupun Kinar, kedua tokoh yang diceritakan di awal novel justru menarik untuk dikembangkan lebih lanjut. Dharma - yang notabene menjadi bingkai cerita - sebenarnya lebih kepada kegelisahan secara fisik. Lihat bagaimana dia punya persoalan dengan makanan, dengan - maaf - ukuran payudara, dan dengan bentuk tubuhnya yang jauh dari ideal seperti sebentuk mannequin. Kinar pun demikian. Entah kenapa Kinar tiba-tiba sepertinya susah mendapatkan pacar atau pasangan yang benar-benar single.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Tapi, mungkin Roro punya alasan lain dengan "menyublimkan" karakter-karakter yang kuat seperti Nadya dan Cindy pada karakter Dharma dan percintaannya dengan Bismarck. Dan bisa jadi Kinar hanya bumbu pelengkap belaka yang meramaikan kisah persahabatan mereka.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Satu lagi, salah satu karakter dari novel ini mengingatkan saya pada kisah AADC karena ada seorang yang selalu "telmi" dalam cerita-cerita antara mereka berempat. Meskipun tidak serta merta sama, karena karakter tersebut lebih cenderung untuk "cuek" dan lebih peduli pada dirinya sendiri dibanding untuk "update" pada hal-hal di luar itu.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Jika dibandingkan dengan Sex and The City, jelas karakter-karakter dalam novel ini punya permasalahan lebih pelik dibandingkan sekedar seks, seks, dan seks. Permasalahan seperti alkohol, narkoba, seks bebas, pencarian jati diri, penantian cinta sejati, dan juga aborsi jauh lebih rumit digambarkan oleh Roro.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;strong&gt;Penceritaan&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Seperti tadi sempat disinggung di atas, alur cerita sebenarnya yaitu kisah asmara Dharma dan Bismarck terjaga dari awal sampai akhir. Namun, penceritaan antar karakter seperti dari Nadya di halaman awal, Cindy di halaman-halaman setelahnya, lalu berubah ke Dharma di halaman selanjutnya kurang mulus. Akibatnya, ada keterkejutan karena seolah-olah karakternya berubah nama.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Persoalan "kantor" yang digambarkan untuk mendapatkan kesan sibuknya seorang Dharma terasa begitu ringan. Hal yang tiba-tiba ada seperti kesibukan pitching dan bagaimana membuat "copy" sebuah radio advertisement sungguh terkesan sebagai tambahan belaka. Demikian juga dengan perasaan-perasaan Dharma yang tercurah pada kalimat-kalimat puitis.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Andai saja Roro bersabar untuk mengolah hal-hal artifisial dan menempatkannya pada emosi karakternya, bisa jadi kedalaman karakter Dharma yang menjadi  sentral cerita dapat dibangun dengan baik. Dengan demikian esensi pertanyaan Dharma pribadi soal apakah menjadi seorang perempuan itu harus terlihat begitu sempurna seperti boneka pajangan itu dapat ditancapkan kuat pada pembaca.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;strong&gt;Kekuatan&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Hal yang menjadi kekuatan sebenarnya dalam novel ini adalah pada gaya bahasanya yang fresh. Celetukan-celetukan spontan, dan kelucuan-kelucuan emosi antar karakter dalam novel ini rasanya cukup mengaburkan kelemahan-kelemahan karakterisasi mereka.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Roro juga cukup rajin untuk memberikan tanda-tanda yang membantu pembaca untuk bisa membedakan mana bahasa mesin (seperti "message delivered", gambar ampop, dll) dan mana bahasa percakapan. Dengan demikian, pembaca bisa beradaptasi dengan gaya penceritaan yang disuguhkan Roro ini.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Dan sekali lagi, spontanitas adalah hal yang paling menonjol dari seorang Roro Syin. Mudah-mudahan, novel ini tidak berhenti sampai ketika Dharma menerima cinta Bismarck dan sebaliknya, tetapi akan berlanjut pada cerita-cerita yang lebih kuat lagi. Sebab sebagai pembaca, saya masih penasaran akan nasib Nadya dan Cindy. Mereka adalah gambaran perempuan tangguh yang digilas jaman dan kekejaman ibukota. Karakter mereka sungguh sayang untuk dihabiskan begitu saja dalam novel ini. Dan saya percaya, dengan spontanitasnya Roro pasti akan sanggup menghidupkan karakter seperti mereka dalam novel-novelnya yang lain.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;2009&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9117554917202738035-1192294693288422377?l=tamanbacaanku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tamanbacaanku.blogspot.com/feeds/1192294693288422377/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9117554917202738035&amp;postID=1192294693288422377' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9117554917202738035/posts/default/1192294693288422377'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9117554917202738035/posts/default/1192294693288422377'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tamanbacaanku.blogspot.com/2009/05/menikmati-kesempurnaan-yang-tak-pernah.html' title='Menikmati Kesempurnaan yang Tak Pernah Ada'/><author><name>Dedy Tri Riyadi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05323918027714983959</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9117554917202738035.post-7636997399486708266</id><published>2009-04-03T01:33:00.000-07:00</published><updated>2009-04-03T02:07:33.352-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='resensi buku'/><title type='text'>PERASAAN, PERISTIWA, DAN PUISI</title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_DRcqDLsXKc0/SW4n_OvpzUI/AAAAAAAAAFg/aIa4MFeZexU/s400/cindhildepan.jpg"&gt;&lt;img style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 273px; CURSOR: hand; HEIGHT: 400px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_DRcqDLsXKc0/SW4n_OvpzUI/AAAAAAAAAFg/aIa4MFeZexU/s400/cindhildepan.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;strong&gt;Semacam Komentar Panjang Setelah Membaca Kumpulan Sajak&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;strong&gt;Gunawan Maryanto; Perasaan-Perasaan yang Menyusun Sendiri&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;strong&gt;Petualangannya.&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;====================================================&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Judul Buku : Perasaan-Perasaan yang Menyusun Sendiri Petualangannya&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Pengarang : Gunawan Maryanto&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Penerbit : omahsore (&lt;a href="http://www.omahsore.web.id/"&gt;http://www.omahsore.web.id/&lt;/a&gt;)&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Cetakan : Pertama, Desember 2008&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Halaman : x+67 hlm, 12,2 x 18 cm&lt;/div&gt;&lt;div&gt;No. ISBN : 978791904704&lt;/div&gt;&lt;div&gt;====================================================&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Pertama kali selesai membaca sajak-sajak Gunawan Maryanto yang akrab&lt;/div&gt;&lt;div&gt;dipanggil Cindhil ini, yang terpikirkan oleh saya adalah betapa pandai&lt;/div&gt;&lt;div&gt;dia menarik ulur perasaannya terhadap setiap peristiwa. Peristiwa atau&lt;/div&gt;&lt;div&gt;kenyataan hidup sehari-hari, dalam ranah semangat puitika, menurut Saku&lt;/div&gt;&lt;div&gt;-taro adalah hal-hal yang harus berada di bawah puisi itu sendiri – dalam&lt;/div&gt;&lt;div&gt;esensi puisi romantis – atau dikritisi oleh puisi itu – dalam esensi pe-&lt;/div&gt;&lt;div&gt;dagogis. Namun yang saya amati dalam puisi-puisi Gunawan Maryanto ini,&lt;/div&gt;&lt;div&gt;ada semacam sifat untuk menerima kenyataan tetapi juga tidak begitu saja&lt;/div&gt;&lt;div&gt;prosesnya sekaligus tidak juga menafikannya.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;em&gt;kita telah melintasinya&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;em&gt;mereka telah melintasi kita&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;em&gt;tak ada beda : mereka telah tak ada&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;em&gt;cinta jadi sia-sia&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;(Kolam Ikan dan Beranda Kosong)&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Tapi benarkah segala yang terjadi itu sia-sia? Bukankah dalam semangat pui-&lt;/div&gt;&lt;div&gt;tika ada juga hal-hal yang bisa dibangun oleh puisi? Seperti esensi metafi-&lt;/div&gt;&lt;div&gt;sis puisi yang mengangankan dunia yang transcendental, esensi estetis puisi&lt;/div&gt;&lt;div&gt;yang meninggikan sebuah keindahan, atau bahkan esensial jiwa dari puisi yang&lt;/div&gt;&lt;div&gt;mementingkan kebangunan jiwa yang tertinggi sebagaimana ditulis oleh Sakutaro&lt;/div&gt;&lt;div&gt;itu.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Bisa jadi yang membuat Gunawan Maryanto menuliskan puisinya adalah hanya&lt;/div&gt;&lt;div&gt;cara dia memandang kenyataan itu semua dengan cara dia – cara yang hanya dia&lt;/div&gt;&lt;div&gt;yang bisa menjelaskan.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;em&gt;dan seperti musim-musim sebelumnya&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;em&gt;aku melihatnya dari jendela – dengan cara yang sama&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;(Lelaki yang Melintas di Sela Hujan)&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Tentunya sebagai pembaca, saya sangat terganggu dengan statemen seperti itu.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Statemen yang terkesan menyembunyikan cara pandang seorang penyair terhadap&lt;/div&gt;&lt;div&gt;peristiwa-peristiwa yang terjadi. Tapi mungkin seorang Gunawan Maryanto lewat&lt;/div&gt;&lt;div&gt;bukunya ini memang seperti seorang teman yang mengajak duduk di beranda rumah&lt;/div&gt;&lt;div&gt;pada suatu saat hanya untuk melihat orang lalu-lalang, mobil yang bergesa, pohon yang diguncang musim dedaunannya, dan lain-lain.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;em&gt;buat apa menduga jika terbaca&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;em&gt;buat apa mencari jika tak ada lagi&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;(Perempuan Berambut Jerami)&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Lalu ada apa di sana? Apa yang sebenarnya ingin ditawarkan oleh Gunawan Maryanto?&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Kita sendiri yang harus bisa mengambilnya. Harus bisa menentukan apa keinginan kita. Mengapa? Karena Gunawan Maryanto memang tidak sedang menginginkan ada semacam usikan terhadap apa yang disebutnya sebagai peristiwa atau kenyataan.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;em&gt;Kuputuskan menjauh&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;em&gt;Kauputuskan menjauh&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;em&gt;Supaya tak ada yang celaka&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;em&gt;tak ada yang terluka&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;em&gt;Dan seluruh peristiwa&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;em&gt;baik-baik saja – sepertinya&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;(Perkara Lama)&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Apakah benar begitu? Gunawan Maryanto menghadirkan buku ini bukan untuk&lt;/div&gt;&lt;div&gt;menghadirkan cara pandangnya melainkan menginginkan pembacanya kemudian&lt;/div&gt;&lt;div&gt;punya cara pandang sendiri terhadap peristiwanya sendiri, terhadap kenyataannya&lt;/div&gt;&lt;div&gt;sendiri. Tampaknya memang begitu.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;em&gt;ada yang ingin terus berlanjut&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;em&gt;seperti luka di kepalamu&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;em&gt;yang selalu hadir&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;em&gt;dengan garukan tanganmu&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;em&gt;seperti jalan setapak&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;em&gt;yang membelah kepalamu&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;em&gt;dengan putus asa&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;(Perasaan-Perasaan yang Menyusun Sendiri Petualangannya)&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Tapi ternyata itu tidak seluruhnya benar, karena ternyata peristiwa – sebagaimana&lt;/div&gt;&lt;div&gt;pun dia memberi jarak – masih tetap sebagai latar belakang tertulisnya satu puisi&lt;/div&gt;&lt;div&gt;bagi penyairnya. Gunawan Maryanto tidak mencoba berkelit, tidak juga hendak&lt;/div&gt;&lt;div&gt;menutupinya.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Lewat puisi-puisinya, dia ingin mengenali setiap peristiwa secara lebih.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Bahkan sampai hal-hal terpahit yang dia rasakan.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;em&gt;Biarkan aku mengabadikan tubuhmu&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;em&gt;                                    dengan kedua telapak tanganku&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;em&gt;Biarkan aku mengenal kegelapanmu terlebih dahulu&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;(Gandari Memasuki Kegelapan)&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Dan pada akhirnya, lewat perasaan terhadap peristiwa itulah&lt;/div&gt;&lt;div&gt;puisi-puisi Gunawan Maryanto berpetualang.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Dedy Tri Riyadi&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Jakarta, 03 April 2009&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9117554917202738035-7636997399486708266?l=tamanbacaanku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tamanbacaanku.blogspot.com/feeds/7636997399486708266/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9117554917202738035&amp;postID=7636997399486708266' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9117554917202738035/posts/default/7636997399486708266'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9117554917202738035/posts/default/7636997399486708266'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tamanbacaanku.blogspot.com/2009/04/perasaan-peristiwa-dan-puisi.html' title='PERASAAN, PERISTIWA, DAN PUISI'/><author><name>Dedy Tri Riyadi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05323918027714983959</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_DRcqDLsXKc0/SW4n_OvpzUI/AAAAAAAAAFg/aIa4MFeZexU/s72-c/cindhildepan.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9117554917202738035.post-6755831192880256837</id><published>2008-10-09T05:23:00.000-07:00</published><updated>2008-10-09T05:29:53.588-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='resensi buku'/><title type='text'>Mengembangkan Kemampuan Diri Demi Sebuah Darma Bakti</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://images.pengumpulbuku.multiply.com/image/17/photos/58/500x500/1/S7300226.JPG?et=vxLggxtz7ohNt3BO3Oegyw&amp;amp;nmid=113760218"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 320px;" src="http://images.pengumpulbuku.multiply.com/image/17/photos/58/500x500/1/S7300226.JPG?et=vxLggxtz7ohNt3BO3Oegyw&amp;amp;nmid=113760218" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;style&gt;&lt;/style&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"&gt;Judul&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;:  &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Tanril. Volume 1.&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Novel Silat – Epik Ho Wuan Siang&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"&gt;Penulis &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;:&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Nafta S. Meika&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"&gt;Editor&lt;span style=""&gt;    &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;:&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;Aries Rayaguna Prima&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"&gt;Penerbit  &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;:&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;Andal Krida Nusantara, PT. (Akoer)&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"&gt;Cetakan 1:  Agustus, 2008&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"&gt;Halaman  &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;: 405&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"&gt;Tanril yang  artinya Kolam Api adalah seseorang yang bisa disebut ajaib karena ada dalam satu  per sepuluh juta kelahiran! Keajaiban yang dimiliki oleh seorang “Tanril” ini  adalah jumlah chi pasif yang luar biasa sehingga tenaga itu bisa meluap dan  mengancam nyawanya.&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"&gt;Dengan  keadaan seperti itu, wajar jika seorang Wander Natalez Howard sejak kecil  menderita sakit yang berkepanjangan. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Hanya beberapa keajaiban pula yang membuatnya  mampu bertahan hidup bahkan pada akhirnya menjadi seorang pendekar dengan ilmu  silat dan tenaga yang sangat hebat.&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"&gt;Wander yang  juga disebut Wuan itu tidak pernah menyadari keajaiban yang ada pada dirinya.  Dengan setting sebuah kerajaan yang diambang perpecahan, Novel ini mengambil  sudut pandang orang ketiga. Pengarang betul-betul menjadi dalang dari cerita ini  dari awal hingga akhir, kecuali pada bagian awal pengarang mengambil sudut  pandang dari si tokoh utama. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Secara  keseluruhan, novel ini dibangun dengan banyak dialog antara tokoh-tokohnya yang  mengingatkan pembaca pada kejayaan cerita silat di tanah air.&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"&gt;Tema besar  dari Novel Tanril volume 1 ini beranjak dari perang saudara dan bagaimana Wander  mengatasi keajaiban di dalam dirinya hingga pada akhirnya tenaga chi yang meluap  itu dapat ia arahkan pada bela diri (di novel ini disebut arts, mungkin  kependekan dari Martial Art) yang pada sebagian besar masa lalunya tidak pernah  diajarkan siapapun kepadanya.&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"&gt;Di luar tema  sentral itu, Nafta S. Meika sebagai pengarang nampaknya mencoba bercerita  tentang darma bakti seorang anak terhadap ibundanya, seorang adik terhadap  kakak, dan seseorang terhadap sahabatnya yang berulangkali menyelamatkan  dirinya. Sesuatu yang sekarang ini jarang diangkat oleh penulis-penulis  muda.&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"&gt;Hal yang  cukup menganggu pembacaan novel ini adalah banyaknya istilah dan penamaan yang  dibentuk dengan campur aduk kata yang mirip-mirip bahasa Cina (Wuan, Luan, Chi,  Jie Bi Shinjin) , &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;India&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt; (Divara, Moharan, Sulran,  Manjare), dan Inggris / Barat (Kurt, Wander, Howard, Landross, Rinveal), juga  ada sedikit pengaruh Jepang (Fyure, Kokru, dll.). Ilustrasi cincin Naga di  sampul depan dan petikan adegan yang sangat kental warna Cina-nya tidak bisa  membantu pembaca untuk mengira-ngira di manakah kisah ini terjadi.&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"&gt;Di novel ini  juga para pesilat (maksudnya pengamal ilmu beladiri) disebut sebagai Pengejar  Mimpi. Entah kenapa dinamakan demikian oleh Pengarangnya, sebab bukankah  kebanyakan orang juga mengejar mimpinya sendiri? Kerancuan bermacam istilah juga  tidak dipertelakan dengan baik. Misalnya kenapa Putri Pangeran Kedua diberi  julukan dengan nama-nama sungai, atau bahkan kenapa Wander Natalez Howard sering  dipanggil Wuan.&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"&gt;Membuat  istilah, penamaan orang, &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;kota&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;, dan daerah serta mempertelakan dengan  baik hal-hal itu nampaknya masih menjadi kendala bagi penulis-penulis fiksi di  tanah air. Mungkin dengan mengembangkan dasar pengetahuan mitologi, sejarah  lokal, dan lain-lain akan dapat memperbaiki permasalahan ini.&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"&gt;Keberhasilan  Wander Natalez Howard mempertahankan &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;kota&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; kelahirannya dari serbuan pasukan Jenderal  Moharan, belum berhasil menceritakan evolusi tenaga chi dengan apik, padahal  Tanril sebagai judul tentunya menjadi hal yang paling esensial dalam novel ini.  Dan sangat disayangkan jika pengarang memutuskan untuk membongkar rahasia Tanril  itu lewat &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;surat&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt;  yang isinya sangat panjang itu.&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9117554917202738035-6755831192880256837?l=tamanbacaanku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tamanbacaanku.blogspot.com/feeds/6755831192880256837/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9117554917202738035&amp;postID=6755831192880256837' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9117554917202738035/posts/default/6755831192880256837'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9117554917202738035/posts/default/6755831192880256837'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tamanbacaanku.blogspot.com/2008/10/mengembangkan-kemampuan-diri-demi.html' title='Mengembangkan Kemampuan Diri Demi Sebuah Darma Bakti'/><author><name>Dedy Tri Riyadi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05323918027714983959</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9117554917202738035.post-2740257681670364982</id><published>2008-06-09T03:48:00.000-07:00</published><updated>2008-12-10T21:07:07.956-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='resensi buku'/><title type='text'>Bertemu Monster dalam Bahasa Puisi</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_f9aea3oKfg4/SB_atZZBrRI/AAAAAAAAAU8/68H4KaliLHE/S1600-R/Cover+LANANG.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 320px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_f9aea3oKfg4/SB_atZZBrRI/AAAAAAAAAU8/68H4KaliLHE/S1600-R/Cover+LANANG.jpg" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Judul : Lanang&lt;br /&gt;Penulis : Yonathan Rahardjo&lt;br /&gt;Penerbit : Pustaka Alvabet&lt;br /&gt;Tebal :&lt;br /&gt;Harga : Rp. 55.000,-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Lupakanlah logika bahasa dan menalar segala bentuk moral juga kebenaran dalam cerita ini. Bahasanya yang entah karena emosi dibuat rumit seperti puisi menjadi semacam tembok dalam labirin yang coba dibangun oleh pengarangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kritikan terhadap cara berbahasa dari novel ini sudah banyak diungkap orang lain. Untuk itu, rasanya dari awal pembahasan ini perlu diingatkan calon pembaca mengenai hal yang satu itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terlepas dari kerumitan bahasa dan vulgarisme yang dianut oleh penulis, ada ide baru yang hendak digugat olehnya. Kecenderungan sastra yang menonjolkan feminimisme (gugatan isi hati perempuan terhadap dominasi lelaki) ingin ditentang oleh penulis sebagaimana termaksud dengan judul "Lanang" ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lanang selain sebagai nama tokoh utama juga menggambarkan hal yang ingin dicapai oleh tokoh utama tersebut dalam kehidupannya. Bermain-main di ranah seksual dengan berbagai jenis wanita bahkan binatang menjadi salah satu cara baginya untuk mendapatkan predikat "jantan" itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu cara untuk bisa menikmati novel ini juga adalah dengan melupakan seekor monster berbentuk burung babi hutan yang pastinya akan menimbulkan tanda tanya besar. Bagaimana caranya menciptakan monster itu? Atau lebih lanjut : Apakah kegunaan sebenarnya dengan percobaan dokter Dewi dan perusahaan itu menciptakan burung babi hutan? Karena memang tak perlu hal itu ditanyakan di sini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adalah Stephen King yang menanamkan cara menjalarkan ketakutan ke benak pembaca dengan baik dengan alien-alien yang oleh pembaca jarang ditebak di bagian awal seperti apa bentuknya. Mungkin kengerian inilah yang hendak dibangun oleh Yonathan Rahardjo dengan monster burung babi hutannya. Pesan moral yang ingin ditunjukkan jelas : Hati-hati dengan rekayasa genetika!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan isu itulah saya kira, Lanang menjadi catatan tersendiri. Karena novel Indonesia yang membahas isu transgenik bisa dikatakan belum ada. Saya membandingkan novel ini dengan novel yang dulu pernah saya baca "Almost Adam." Temanya hampir serupa tentang lingkungan mahluk hidup dan evolusi. Bedanya jika "Almost Adam" berpihak pada missing link, Lanang memberontak pada evolusi ke depan : rekayasa genetika. Meskipun demikian, hal-hal erotik dalam kedua novel ini sangat bertentangan. "Almost Adam" menggarap sisi persetubuhan dengan kata-kata yang filosofis dan ilmiah, sedangkan "Lanang" tampak kedodoran di sisi yang sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada pendapat untuk "Lanang" ini dikategorikan sebagai novel puisi. Atau setidaknya novel dengan bahasa yang puitis. Pendapat saya sebagai pembaca, puitis atau tidak tergantung dari pemilihan kata yang dilakukan oleh penulis. Beberapa karya yang pernah saya baca nampak puitis karena rima yang dijaga dan penggambaran suasananya yang halus. Salah satu bagian dari "Mahasati" karya Qaris Tajudin salah satunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dedy Tri Riyadi&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9117554917202738035-2740257681670364982?l=tamanbacaanku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tamanbacaanku.blogspot.com/feeds/2740257681670364982/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9117554917202738035&amp;postID=2740257681670364982' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9117554917202738035/posts/default/2740257681670364982'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9117554917202738035/posts/default/2740257681670364982'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tamanbacaanku.blogspot.com/2008/06/bertemu-monster-dalam-bahasa-puisi.html' title='Bertemu Monster dalam Bahasa Puisi'/><author><name>Dedy Tri Riyadi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05323918027714983959</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_f9aea3oKfg4/SB_atZZBrRI/AAAAAAAAAU8/68H4KaliLHE/s72-Rc/Cover+LANANG.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9117554917202738035.post-7256901452957987967</id><published>2008-04-22T18:25:00.000-07:00</published><updated>2008-12-10T21:07:08.238-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='resensi buku'/><title type='text'>Kisah yang Mempertanyakan Kesetiaan Seorang Lelaki</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_IkrPSDNbczI/RriGg5LIfLI/AAAAAAAAAGI/Tpx8OKO-45I/s200/Mahasati.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 221px; height: 343px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_IkrPSDNbczI/RriGg5LIfLI/AAAAAAAAAGI/Tpx8OKO-45I/s200/Mahasati.jpg" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Judul           : Mahasati&lt;br /&gt;Penulis         : Qaris Tajudin&lt;br /&gt;Penerbit    : Penerbit Akoer&lt;br /&gt;Terbit          : Mei 2007&lt;br /&gt;Tebal           : 392 halaman&lt;br /&gt;Harga : 59.400&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Mahasati diambil dari tradisi hindu kuno tentang kesetiaan seorang istri untuk ikut membakar diri ketika mayat suaminya dibakar. Istilah inilah yang menjadi benang merah dari kisah perjalanan hidup seorang Andi. Andi kecil dibesarkan di sekolah agama berasrama. Tetapi Larasati, agaknya, telah melonggar- kan pengertian Andi tentang cinta sesungguhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kisah ini dimulakan dengan kematian Yoyok yang merupakan salah satu dari "tiga serangkai" sahabat dari masa kecil yang di dalam kesehariannya terselip pula kisah cinta. Pertemuan kembali Andi - Larasati, sepasang kekasih dari masa kecil yang sudah lama tidak bertemu, membangkitkan kembali cinta itu (yang sesungguhnya tidak pernah "mati" dalam diri Andi).  Kondisi Larasati yang labil akibat proses "perceraian"nya membuat mereka pun tenggelam dalam kisah cinta yang membara. Akan tetapi karena kelabilannya dalam menghadapi masalah itu mengakibatkan Larasati melakukan ujicoba bunuh diri yang pada akhirnya membuat dirinya pun harus meninggal karena lemah jantung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Andi yang merasa sangat kehilangan Larasati pun limbung. Maka ditempuhlah perjalanan ke Tunisia, Ragusa, hingga Afghanistan untuk "menguji" kesetiaan dirinya pada pujaan hatinya itu. Hingga ketika dia menikah dengan Nafas, janda suku Kuchi di dataran tinggi Hindu Kush, Andi masih meragukan keyakinannya tentang cinta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebetulnya, novel ini ditulis dengan pendekatan dua orang tokoh yaitu perwira berpangkat Letnan keturunan Cina yang kebetulan berjenis kelamin wanita dengan tokoh Andi itu sendiri. Namun sayang sekali, ketika pada bagian Letnan itu cerita pun terasa sangat tergesa-gesa dan hambar. Berbeda sekali dengan ketika Andi yang bercerita. Meskipun novel ini disusun dengan kalimat yang "taktis" pendek-pendek untuk bercerita. Kemudian meskipun banyak sekali "kebetulan" yang ada di dalam novel ini, masih terasa asyik untuk dibaca karena alurnya tidak tiba-tiba.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara keseluruhan, membaca novel ini sedikit banyak mengingatkan pembaca pada sebuah film dengan tokoh utama Ralph Fiennes yakni The English Patient. Sedikit banyak ada kemiripan antara film tersebut dengan novel ini seperti pada kisah cintanya dan pertempuran yang dilakukan oleh tokoh utama, juga cerita yang mengalir dari percakapan dua orang yaitu tokoh utama itu sendiri dan seorang tokoh pendamping wanita (hanya saja di English Patient, tokoh pendamping wanita itu berperan sebagai seorang perawat), dan terakhirnya tokoh utama itu meninggal dunia karena sakitnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dedy Tri Riyadi&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9117554917202738035-7256901452957987967?l=tamanbacaanku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tamanbacaanku.blogspot.com/feeds/7256901452957987967/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9117554917202738035&amp;postID=7256901452957987967' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9117554917202738035/posts/default/7256901452957987967'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9117554917202738035/posts/default/7256901452957987967'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tamanbacaanku.blogspot.com/2008/04/kisah-yang-mempertanyakan-kesetiaan.html' title='Kisah yang Mempertanyakan Kesetiaan Seorang Lelaki'/><author><name>Dedy Tri Riyadi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05323918027714983959</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_IkrPSDNbczI/RriGg5LIfLI/AAAAAAAAAGI/Tpx8OKO-45I/s72-c/Mahasati.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9117554917202738035.post-2332214840531779530</id><published>2008-04-11T00:50:00.000-07:00</published><updated>2008-12-10T21:07:08.244-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='resensi buku'/><title type='text'>Premanisme dan Tehnologi</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://tbn0.google.com/images?q=tbn:0ozDP1v4xliNEM:http://1.bp.blogspot.com/_IkrPSDNbczI/Rrh7FpLIfFI/AAAAAAAAAFY/Z_7mTSn1W3A/s200/Digitarium.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 151px; height: 235px;" src="http://tbn0.google.com/images?q=tbn:0ozDP1v4xliNEM:http://1.bp.blogspot.com/_IkrPSDNbczI/Rrh7FpLIfFI/AAAAAAAAAFY/Z_7mTSn1W3A/s200/Digitarium.jpg" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Resensi Buku : Digitarium&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Judul Buku : Digitarium&lt;br /&gt;Penulis : Baron Leonard&lt;br /&gt;Penerbit : Akoer&lt;br /&gt;Tebal : 567 hal.&lt;br /&gt;Harga : Rp 68.000&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Menyebut tehnologi dan fiksi, tak ayal pikiran kita melayang pada film trilogi The Matrix di mana dikatakan ada dunia lain yang bersinergi dengan dunia nyata. Dunia lain itu yang konon disebut Matrix. Dan kita bisa keluar masuk ke dalamnya melalui jaringan internet atau peralatan komunikasi canggih lainnya. Di dunia itu, virus yang diciptakan para penjahat bisa menyerang logika pikir manusia normal hingga akhirnya merubah jalan hidup (jika tidak mau dikatakan sebagai sejarah) umat manusia secara keseluruhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Novel ini, memang tidak serta merta terseret dalam imajinasi The Matrix. Malah pertikaian di dalamnya mengingatkan saya pada dongeng-dongeng mafioso Asia seperti Triad ataupun Yakuza. Pun dengan tokoh-tokoh wanita yang diceritakan mirip dengan tokoh heroine (pendekar wanita) pujaan gamers beberapa waktu lalu ; Lara Croft, yang fasih berbicara soal ilmu-ilmu beladiri kuno ala China, makin mantaplah keyakinan bahwa novel Digitarium ini memang tidak mau berlarut-larut dalam pengadeganan ala The Matrix itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disebutkan ada dua macam kelompok yang berebut pengaruh kekuasaan kejahatan di kota Jakarta ini beberapa tahun mendatang yakni Alpha &amp;amp; Omega dan Legion. Peperangan antar keduanya tidaklah frontal melainkan melalui beberapa aksi pembunuhan tokoh-tokoh pentingnya. Dalam kasusnya, tokoh yang dibunuh adalah tokoh yang dicurigai hendak berpindah dari Legion ke Alpha &amp;amp; Omega. Juga sebaliknya. Pembunuhan mereka, dilakukan dengan menyewa "assassin"  yang sangat menguasai tehnologi dan ilmu bela diri yakni dari kelompok DiverS. Kelompok ini bisa ditemui dari pergaulan di dunia maya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alur maju mundur yang digunakan oleh penulis sedikit membuat pembaca merasa terjebak dalam labirin, hingga akhirnya (seperti kata sagangan dari Kafi Kurnia di sampul belakang) harus menuntaskan pembacaan untuk bisa memahami apa sebenarnya yang terjadi di sana. Rahasia para DiverS itu sendiri yang pada akhirnya menarik untuk dicermati dalam kisah ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada awalnya ada kesulitan tersendiri untuk mengungkapkan apa sebenarnya yang dituliskan dalam perintah dan pesan yang dilakukan oleh para DiverS. Tetapi berbekal pengalaman mengikuti beberapa kali kontes di sebuah forum teka-teki ternama di dunia maya, saya sarankan kepada pembaca untuk menyanding telepon genggam ketika menemukan rentetan angka yang diketikkan para DiverS di komputer atau PDA mereka. Walaupun memang masih membingungkan. Tapi inilah intermezzo dari penulis untuk semakin menegangkan otak pembaca.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayangnya, penulis belum bisa menterjemahkan alasan paling mendasar kenapa Alpha &amp;amp; Omega sangat menginginkan Legion hancur juga sebaliknya. Justru dia terjebak untuk sangat berhati-hati menyembunyikan identitas para DiverS hingga akhir cerita. Padahal untuk konflik sepelik ini, sangat dirasakan perlu mengungkap (misalnya) betapa jahatnya pekerjaan orang-orang di Legion itu atau betapa agungnya nilai-nilai yang ingin diterapkan oleh Alpha &amp;amp; Omega di kota Jakarta tercinta ini. Seandainya begitu pun, mengapa mereka tidak memberikan bukti-bukti kejahatan pihak lawan kepada pihak berwajib? Bahkan seorang kapten (setahu saya sudah tidak ada bahasa jabatan kapten ini di kepolisian, jadi Inspektur ya?) Polwan harus menemukan ajalnya gara-gara pembocoran identitas seorang Legion oleh seorang DiverS.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dedy Tri Riyadi&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9117554917202738035-2332214840531779530?l=tamanbacaanku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tamanbacaanku.blogspot.com/feeds/2332214840531779530/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9117554917202738035&amp;postID=2332214840531779530' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9117554917202738035/posts/default/2332214840531779530'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9117554917202738035/posts/default/2332214840531779530'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tamanbacaanku.blogspot.com/2008/04/premanisme-dan-tehnologi.html' title='Premanisme dan Tehnologi'/><author><name>Dedy Tri Riyadi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05323918027714983959</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9117554917202738035.post-546535595073564122</id><published>2008-04-07T01:33:00.000-07:00</published><updated>2008-12-10T21:07:08.551-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='resensi buku'/><title type='text'>Mempersoalkan Karunia Tuhan</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_IkrPSDNbczI/RriCZ5LIfJI/AAAAAAAAAF4/5MMtCvbV-KE/s200/BigSize.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 139px; height: 216px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_IkrPSDNbczI/RriCZ5LIfJI/AAAAAAAAAF4/5MMtCvbV-KE/s200/BigSize.jpg" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Resensi Buku : Big Size&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Judul : Big Size ; sebuah novel tentang Keperkasaan Lelaki&lt;br /&gt;Penerbit : Akoer&lt;br /&gt;Penulis : Wibi AR&lt;br /&gt;Tebal : 164 hal&lt;br /&gt;Harga : 49.500&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Hal apakah yang bisa membuat seorang lelaki merasa rendah diri? Salah satunya yang diangkat oleh penulis dalam menjawab pertanyaan tersebut adalah ukuran alat vital. Tapi apakah benar begitu? Di dalam buku ini, ukuran alat vital seorang remaja berusia 19-an tahun (mahasiswa) tiba-tiba menjadi isu yang sangat sentral dan tanpa malu-malu dikemukakan oleh penulis. Kehidupan remaja yang terkesan liar dan terbuka soal hubungan seksual antar jenis pun diceritakan dengan gamblang. Bagaimana Dodi dan Lasimin "ngerjain" Lasimin di sebuah cafe remang-remang contohnya. Bodohnya, entah yang ditulis ini generasi anak muda golongan mana, mereka rupanya belum mengenal kondom. Padahal generasi MTV saat ini sangat gencar mendapat isu soal AIDS dan kesehatan reproduksi sehingga tak jarang di dompet mereka "nyelip" sebungkus dua bungkus kondom. 'Gak percaya? Geledah saja mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi maaf, bukan bermaksud mendiskreditkan generasi muda, tetapi di buku ini pun banyak pernyataan yang bernada merendahkan pengetahuan anak muda bahkan cenderung rasial. Lihatlah ejekan mengenai "muka Jawa" pada Lasimin si tokoh utama. Kemudian pernyataan yang cukup ngasal mengenai kehidupan seksual remaja di Jakarta yang menyebutkan banyak gadis yang tidak perawan, pemuda yang sudah mengenal gaya pacaran yang sudah sedemikian bebas. Lebih baik jika penulis sedikit mengambil data dari sebuah laporan kesehatan reproduksi remaja misalnya sebagai dukungan terhadap pernyataan seperti itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih lagi sebagai sebuah fiksi, nampak jelas sekali bahwa penulis terkesan bermain-main dengan alur ceritanya. Di pertengahan buku dikemukakan Lasimin yang akhirnya memutuskan berhenti mengurut alat vitalnya karena kecewa tidak ada perubahan selama 7 bulan itu, demikian juga dengan Elis yang tiga bulan diurut Lasimin tidak ada tanda-tanda perubahan di tubuhnya. Tiba-tiba di ending cerita, Lasimin berbahagia melihat Elis yang berteriak soal ukuran alat vitalnya yang sebesar burung Garuda!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada kemungkinan, buku ini memang diniatkan untuk mengisi celah buku novel humor yang sedang diminati. Maklumlah banyak dari kita yang terancam stress di perkotaan gara-gara pekerjaan di kantor, usaha yang menurun, lalulintas yang padat, hingga perlu hal-hal ringan yang bisa jadi tidak perlu masuk akal. Di luar dari itu, ada sisi positif dari buku ini yang bisa diambil ; 1. Kehidupan seksual remaja kita yang patut diperhatikan, 2. Olahraga bisa mengalihkan hal-hal yang demikian, dan 3. bagaimanapun wujud fisik kita, sudah selayaknya kita nikmati dan syukuri sebab itu karunia Tuhan. Dan 4. Bagaimana pun lingkungan tempat kita tinggal, sudah sepatutnya kita bertahan dengan cara pandang kita sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Persoalannya, dengan isi buku ini apakah nilai-nilai tersebut dapat ditangkap pembaca?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dedy Tri Riyadi&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9117554917202738035-546535595073564122?l=tamanbacaanku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tamanbacaanku.blogspot.com/feeds/546535595073564122/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9117554917202738035&amp;postID=546535595073564122' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9117554917202738035/posts/default/546535595073564122'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9117554917202738035/posts/default/546535595073564122'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tamanbacaanku.blogspot.com/2008/04/mempersoalkan-karunia-tuhan.html' title='Mempersoalkan Karunia Tuhan'/><author><name>Dedy Tri Riyadi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05323918027714983959</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_IkrPSDNbczI/RriCZ5LIfJI/AAAAAAAAAF4/5MMtCvbV-KE/s72-c/BigSize.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9117554917202738035.post-5999859341375883819</id><published>2008-04-07T00:25:00.000-07:00</published><updated>2008-04-07T00:33:39.856-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='resensi buku'/><title type='text'>Satire Negeri Ini dalam Kacamata Tokoh Fantasi</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://evolia.files.wordpress.com/2007/05/nagabonar-small1.jpg"&gt;Resensi Buku : Nagabonar Jadi 2&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://evolia.files.wordpress.com/2007/05/nagabonar-small1.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 144px; height: 232px;" src="http://evolia.files.wordpress.com/2007/05/nagabonar-small1.jpg" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Judul Buku : Nagabonar Jadi 2&lt;br /&gt;Penerbit : Akoer&lt;br /&gt;Penulis : Akmal Nasery Basral&lt;br /&gt;Tebal : 241 hal&lt;br /&gt;Harga : Rp. 49.500&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis dalam kata pengantarnya memang dengan sengaja (dengan beberapa alasan) menjadikan tokoh Nagabonar (tokoh fantasi) yang melegenda ini, sebagai "jalan masuk" bagi pembaca untuk memahami apa yang ingin di-ucap-kan lewat sebuah peristiwa sederhana yang sangat sering terjadi di negeri ini : kapitalisasi sebuah lahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kali ini, menurut tokoh kita ini, lahan tersebut bukan sembarang lahan. Tetapi areal kebun kelapa sawit yang menghidupinya selama ini, bahkan bisa menyekolahkan anak semata wayangnya Bonaga hingga kelar menyelesaikan pendidikan S2 di negeri Inggris. Tidak hanya itu, di lahan itu bermakam pula tiga orang yang dikasihi dan dicintainya : Mak (Ibunya), Kirana (Istrinya) dan Bujang (teman seperjuangan yang sangat dipercayainya).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagaimana sebuah satire, Nagabonar dalam buku ini sangat fasih memparodikan persoalan-persoalan moral bangsa ini dengan tingkah laku dan ucapannya. Kebebasan penulis untuk mengungkap bermacam hal mulai dari isi siaran televisi, kesemrawutan transportasi, kekurangpedulian generasi muda pada sejarah bangsa diungkapkan dengan sangat leluasa.  Yang kurang diperhatikan sebenarnya adalah kondisi fisik Nagabonar itu sendiri yang sudah menginjak kurang lebih 80 tahunan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah bagaimana caranya, iklan pun dapat terselip di dalam pikiran dan ucapan Nagabonar di dalam buku ini. Bagaimana dia mengendorse sebuah provider telefon selular juga penyebutan merk mobil mewah terasa janggal dengan kepribadian Nagabonar yang konon sudah bertahun-tahun hidup jauh dari peradaban kota ditambah dengan kondisi buta huruf.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara umum, buku ini menarik sekali untuk dibaca karena dibalik kenaifan sikap Nagabonar, ditemukan banyak sekali sisi humanis dan kritis yang tidak bisa dilihat dari film-nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dedy Tri Riyadi&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9117554917202738035-5999859341375883819?l=tamanbacaanku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tamanbacaanku.blogspot.com/feeds/5999859341375883819/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9117554917202738035&amp;postID=5999859341375883819' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9117554917202738035/posts/default/5999859341375883819'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9117554917202738035/posts/default/5999859341375883819'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tamanbacaanku.blogspot.com/2008/04/satire-negeri-ini-dalam-kacamata-tokoh.html' title='Satire Negeri Ini dalam Kacamata Tokoh Fantasi'/><author><name>Dedy Tri Riyadi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05323918027714983959</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9117554917202738035.post-1902539795012608086</id><published>2008-04-01T22:17:00.000-07:00</published><updated>2008-12-10T21:07:08.841-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='resensi buku'/><title type='text'>Jika Pendekar Transfer Tenaga Dalam</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_yK8ayfe3RxY/RxXtEd4jiuI/AAAAAAAAAEg/BxBbCvkKMhg/S254/Cover_Design_11a.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 200px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_yK8ayfe3RxY/RxXtEd4jiuI/AAAAAAAAAEg/BxBbCvkKMhg/S254/Cover_Design_11a.jpg" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Judul Buku : Biang Penasaran, Sebuah Rahasia Kehidupan  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 12pt; text-align: justify;"&gt;Penulis      : Kafi Kurnia&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 12pt; text-align: justify;"&gt;Penerbit     : Akoer&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 12pt; text-align: justify;"&gt;Tebal         : 380 Hal&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Saya menilik judul buku ini masih berkaitan dengan teori anti teori yang dianut oleh Kafi Kurnia sebagai seorang Konsultan Ahli di bidang Pemasaran. Sebuah plesetan. Dan tentu saja hal ini dilakukan bukan tanpa tujuan. Dari kata pengantar yang ditulisnya, Kafi Kurnia sudah mengingatkan kepada pembaca bahwa untuk bisa berhasil (bisa diucapkan sukses) kita harus berpegang teguh pada 3 hal : Zikir - Pikir - Kikir. Hal yang mengingatkan kita pada hal-hal yang berkenaan dengan ilmu bela diri, jurus tiga langkah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Kafi Kurnia bisa dianggap sebagai pendekar yang mumpuni. Ia telah melahirkan sejumlah merek besar di Indonesia, seperti Pertamax, Esia, dan Fastron, juga dikenal sebagai kolumnis, trainer, dan motivator handal. Di samping itu, Kafi Kurnia rajin menuliskan buah pikirnya dalam bentuk buku. Tahun 2004 bukunya "Anti Marketing" meledak. Banyak orang, terutama praktisi pemasaran menganggap buku itu sebagai terobosan pemikiran dari sejumlah teori yang sudah ada.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Saya membaca buku ini, sudah pada cetakan yang ke-tiga tahun 2006. Naga-naganya, nama Kafi Kurnia memang sudah dijamin membuat orang penasaran akan apa yang hendak dituliskannya pada sebuah buku terutama tentang pemasaran. Hebohnya, pada cover buku ini diberi embel-embel : Awas Menular! Sesuatu yang menjanjikan bahwa isinya bisa merasuk ke dalam diri kita. Jika saya anggap Kafi Kurnia sebagai pendekar besar, tentunya yang dilakukannya dengan menulis buku ini adalah semacam tehnik transfer tenaga dalam.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Ternyata memang betul, di dalam buku ini banyak sekali contoh-contoh kehidupan yang dijumpai dan didengar oleh Kafi Kurnia. Lalu dengan tehnik ala penganut Zen, ia mengolahnya menjadi bahan bacaan yang ringan dan mentransfer kesimpulan-kesimpulan terhadap contoh-contoh itu ke dalam benak pembaca.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Ada&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; pepatah : Buku adalah guru yang sangat penyabar, dan dalam buku ini kita benar-benar disadarkan kembali pada pepatah itu. Kafi banyak sekali mengumbar hasil pembacaannya pada beragam buku, menyarikannya untuk pembaca dengan sangat hati-hati. Mungkin inilah hasil Kafi Kurnia berguru kepada Mpu Peniti, yang saya yakin merupakan tokoh ciptaannya untuk menunjukkan kerendahhatiannya sebagai pendekar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain "kekerasanhati"-nya untuk berteguh tidak menyublimkan bunyi antara awalan dengan kata kerja dasar "ubah", yang membuat saya terpaksa bertanya sana-sini bahkan membuka Kamus Besar Bahasa Indonesia, buku sangat layak dibaca oleh sesiapa saja. Dan ternyata kata "Penasaran" yang digunakan sebagai judul tampaknya lebih tepat untuk dibiarkan begitu tanpa ada tendensi bahwa hal itu adalah "plesetan" dari kata "Pemasaran" karena seluruh isi buku ini tidak melulu bisa diterapkan di bidang itu, tetapi sangat umum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dedy Tri Riyadi&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9117554917202738035-1902539795012608086?l=tamanbacaanku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tamanbacaanku.blogspot.com/feeds/1902539795012608086/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9117554917202738035&amp;postID=1902539795012608086' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9117554917202738035/posts/default/1902539795012608086'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9117554917202738035/posts/default/1902539795012608086'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tamanbacaanku.blogspot.com/2008/04/jika-pendekar-transfer-tenaga-dalam.html' title='Jika Pendekar Transfer Tenaga Dalam'/><author><name>Dedy Tri Riyadi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05323918027714983959</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_yK8ayfe3RxY/RxXtEd4jiuI/AAAAAAAAAEg/BxBbCvkKMhg/s72-c/Cover_Design_11a.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9117554917202738035.post-1736301409318382592</id><published>2008-03-18T20:19:00.000-07:00</published><updated>2008-03-18T23:10:37.632-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='resensi buku'/><title type='text'>Manfaat Doa Sebelum Tidur</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://photos1.blogger.com/blogger/7632/1855/200/Nar%27Kobar.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 190px; height: 291px;" src="http://photos1.blogger.com/blogger/7632/1855/200/Nar%27Kobar.jpg" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Resensi buku : Nar'Kobar The Motivator&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Judul Buku : Nar'Kobar The Motivator&lt;br /&gt;Penulis : Andhika Pramajaya&lt;br /&gt;Penerbit : Akoer&lt;br /&gt;Harga : -&lt;br /&gt;Tebal : 601 hal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Masyarakat muslim percaya bahwa selain manusia tinggal pula bangsa Jin di dunia ini. Bahkan dalam buku tentang Jin seperti "Dialog dengan Jin" mengatakan bahwa ilmu pengetahuan dan tehnologi bangsa Jin lebih tinggi dari manusia, salah satu hal yang disebut dalam buku itu adalah perihal televisi yang disebutnya sebagai kotak bergambar sudah ada sebelum televisi dikenal oleh manusia.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Berlatarkan maraknya tayangan misteri beberapa waktu lalu, buku yang bersampul sosok merah dengan telinga runcing tengah menyeringai menakutkan ini muncul di tengah-tengah masyarakat pembaca. Nar'Kobar The Motivator adalah buku yang mengisahkan dunia yang selama ini hanya diyakini ada, sedikit orang yang mampu bersinggungan dengan mereka, terlebih mengetahui bagaimana pikiran mahluk berjuluk Jin ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dibuka dengan kecemburuan seekor (konon istilah ini dibenarkan karena mahluk tak kasat mata ini mempunyai ekor) Jin pada gaya hidup seorang gadis cantik dan alim yang rajin menuliskan kisah hidupnya pada sebuah buku catatan harian (Diary).  Gaya hidup yang sederhana dan taat menjalankan aturan agama telah menyulitkan Jin yang bernama Nar'Kobar itu untuk memberikan sugesti / motivasi negatif kepada Lena, nama si gadis cantik itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Doa terutama doa mau tidur oleh penulis dianggap sebagai lapisan pelindung yang tak tertembus sekalipun ke dalam alam bawah sadar seorang manusia. Hal lain yang dianggap bisa menyebabkan tubuh manusia "berlubang" adalah minuman keras, obat terlarang, dan seks bebas. Boleh jadi ini memang pesan terselubung yang diinginkan oleh penulis terhadap pembaca buku ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis cukup kreatif untuk mengarang beberapa istilah yang merupakan gabungan bahasa Arab dan bahasa Sunda seperti nipingan, gampusan, jiinnayil aqlun, dll. Beberapa hal seperti sistem penanggalan jin, proses "penampakan" dll menunjukkan bahwa sebelum menulis, penulis sungguh memperhatikan riset sebelum menulis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku ini, menurut penulisnya adalah buku pertama dari trilogi Nar'Kobar The Motivator, sehingga memang ending dari kisah bagaimana Nar'Kobar memotivasi cewek nipingannya Lena masih menyisakan beberapa pertanyaan. Karena di tengah-tengah cerita, ada seekor mantan raja Jin yang sakti mandraguna justru berbaik hati menolong Ipung, cowok yang hampir berhasil memacari Lena dan menyulitkan Nar'Kobar menjadikan Lena sebagai cewek gampusan, setelah sebelumnya menasehati Nar'Kobar untuk "meluruskan" jalan hidupnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Motivasi yang dimaksud dalam buku ini adalah menjadikan seorang manusia rentan akan sugesti negatif dari lingkungan. Para Jin melakukan motivasi dengan berbagai cara, terutama lewat mimpi-mimpi. Ketika manusia tertidur tanpa berdoa sebelumnya, Jiinayil Aq'lun (Jin Pendamping/Mitra Manusia) bisa masuk ke dalam telinga kita, merasuki alam pikiran kita, dan menciptakan ilusi yang pada akhirnya jadi motivasi kita untuk melakukan hal-hal yang negatif. Teman-teman Ipung seperti Gugun dan Aming berhasil dipengaruhi oleh Jiinayil Aq'lun mereka dengan kerjasama Nar'Kobar untuk menjauhkan Lena dari Ipung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nar'Kobar adalah J'mar Kha'dum (Jin Pemotivasi) yang 'meniping' Lena agar bisa dimotivasi menjadi cewek gampusan. Tetapi selama dia 'meniping' Lena, dia belum pernah sekalipun 'nyonglep'-in Lena gara-gara Lena selalu baca doa sebelum tidur, dan di samping Lena ada Ipung yang dibekali oleh Pak Tio (Pakar Supranatural terkenal di Indonesia via acaranya Tabir Dimensi Live) kalung jimat yang menghalangi Nar'Kobar untuk bisa masuk ke pikiran Lena. Dipadupadankan dengan cerita cinta ala anak muda, cerita tentang Jin ini menjadi menarik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya, ada banyak hal yang agak 'nyeleneh' dalam cerita ini, seperti Putri Jin bernama Larasati yang bisa menjelma jadi manusia bahkan berinteraksi dengan Ipung, padahal Nar'Kobar dan teman-temannya selalu ketahuan oleh Ipung jika berada di dekat Ipung.  Lalu Ipung yang  tersesat ke alam Jin  yang  menurut penulisnya memang 'setempat'  dengan alam manusia, akibat ramuan rahasia (cairan mayat perempuan dalam coklat) dukun bernama Soleh. Lalu adanya Jin ciptaan Jin berwujud wanita cantik bernama Ainuur yang hanya berfungsi untuk mengembalikan aura manusia-nya Ipung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti di awal, bisa jadi keanehan-keanehan yang tidak terjawab di buku ini akan diteruskan untuk dijelaskan di buku kedua dan seterusnya oleh Andhika, selaku penulisnya. Hanya saja, jika kita teringat pada Ayat 56 Surah Adz Dzariat dalam Al Quran yang bunyinya; "Tidak Aku ciptakan Jin dan Manusia kecuali beribadah (mengesakan ibadahnya) kepada-Ku." Buku ini sepertinya tidak berpihak pada Jin-Jin yang melakukan ibadah kepada Tuhannya. Karena di sepanjang cerita di buku ini, mereka selalu melakukan motivasi yang berkonotasi negatif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dedy Tri Riyadi&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9117554917202738035-1736301409318382592?l=tamanbacaanku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tamanbacaanku.blogspot.com/feeds/1736301409318382592/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9117554917202738035&amp;postID=1736301409318382592' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9117554917202738035/posts/default/1736301409318382592'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9117554917202738035/posts/default/1736301409318382592'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tamanbacaanku.blogspot.com/2008/03/berkelit-dengan-motivasi-negatif.html' title='Manfaat Doa Sebelum Tidur'/><author><name>Dedy Tri Riyadi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05323918027714983959</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9117554917202738035.post-3495158550516470626</id><published>2008-03-14T02:09:00.000-07:00</published><updated>2008-12-10T21:07:09.088-08:00</updated><title type='text'>Perempuan Mengusik Kenangan</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_IkrPSDNbczI/Rrh5m5LIfCI/AAAAAAAAAFA/2kLxxV0Ew3w/s200/SelasarKenangan.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 200px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_IkrPSDNbczI/Rrh5m5LIfCI/AAAAAAAAAFA/2kLxxV0Ew3w/s200/SelasarKenangan.jpg" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Resensi buku : Selasar Kenangan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Judul Buku : Selasar Kenangan&lt;br /&gt;Penulis : Anjar, dkk.&lt;br /&gt;Penerbit : Akoer&lt;br /&gt;Harga : Rp. 24.500&lt;br /&gt;Tebal : xx+95&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku ini sudah lama saya lihat covernya semenjak bergabung di Apresiasi-Sastra. Sebuah komunitas berbasis mailing-list yang banyak sekali dihuni oleh penulis-penulis yang kompeten di bidangnya. Buku ini merupakan hasil lomba cerita pendek yang diadakan sebagai peringatan ulang tahun pertama komunitas ini.&lt;br /&gt;Lomba cerpen itu ditujukan untuk penulis perempuan dengan tema "Masa Kecil" dan dari 21 naskah yang masuk, setelah diseleksi oleh 13 kritikus lelaki, jadilah 10 naskah cerpen yang diterbitkan menjadi buku ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penggagas Apresiasi-Sastra, Djodi Budi Sambodo, dalam kata pengantarnya menyebutkan salah satu tujuan dari karya-karya ini adalah menjernihkan kemanusiaan kita di tengah-tengah kepungan materi. Dan selaras dengan itu, maka 10 cerpen dalam buku ini benar-benar terasa begitu alami menstimulasi kenangan dari dalam diri kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam cerpen pertama, Putaran Batu, persoalan yang sedang dihadapi oleh tokohnya tidaklah menjadi penting bagi kita. Tetapi yang ditonjolkan adalah pengalaman masa kecil yang pada akhirnya seakan-akan memberi kita kekuatan untuk bisa mengatasi ketakutan kita. Dan ketakutan masa kecil ternyata merupakan ketakutan karena ketidaktahuan kita sebagai kanak-kanak. Ketidaktahuan semacam itulah yang banyak dijabarkan sebagai titik awal penggalian masa kanak-kanak. Seperti pada cerita ; "Papa Menepuk Nyamuk, Sayang", "Jemputan Sepeda Mama", dan "Segiempat bukan Segitiga."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun di saat para penulis merenungkan bahwa masa kecil adalah bagian yang justru menjulur hingga masa kini, pembaca disuguhkan pada kesimpulan-kesimpulan kecil yang mau tak mau harus membuat kita tersenyum, meskipun kadang getir. Pada cerita "Dilarang Membenci Becak", dan "Sedikit  Kenangan Tersisa".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cerita terakhir, justru agak berbeda karena sebenarnya Achoi memang masih kecil, dan tokoh aku juga tidak sedang menceritakan masa lalu dirinya. Spoiler yang ada di belakang buku juga sama sekali tidak menggambarkan inti cerita sesungguhnya bahkan seakan berusaha mengecohkan harapan pembaca pada cerita "Sesuatu yang Bernama Kenangan".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari sisi lay-out dan tipologi, buku ini sepertinya memang dirancang sangat serius agar bisa dinikmati. Akan tetapi dua buah spoiler di belakang sampul buku ini benar-benar sesuatu yang seharusnya tidak perlu. Spoiler untuk "Hantu di Kamar Baru" membuat pembaca langsung bisa membaca apa sebenarnya yang ingin diutarakan oleh penulisnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara keseluruhan Selasar Kenangan sangat menarik untuk dibaca, hanya saja ketika membukanya di halaman awal saya cukup kaget melihat puisi kolaborasi yang disajikan itu. Saya kira itu adalah daftar isi karena ada angka dan nama. Cukup rumit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dedy Tri Riyadi.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9117554917202738035-3495158550516470626?l=tamanbacaanku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tamanbacaanku.blogspot.com/feeds/3495158550516470626/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9117554917202738035&amp;postID=3495158550516470626' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9117554917202738035/posts/default/3495158550516470626'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9117554917202738035/posts/default/3495158550516470626'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tamanbacaanku.blogspot.com/2008/03/perempuan-mengusik-kenangan.html' title='Perempuan Mengusik Kenangan'/><author><name>Dedy Tri Riyadi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05323918027714983959</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_IkrPSDNbczI/Rrh5m5LIfCI/AAAAAAAAAFA/2kLxxV0Ew3w/s72-c/SelasarKenangan.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9117554917202738035.post-5136754704047366167</id><published>2008-03-14T00:50:00.000-07:00</published><updated>2008-12-10T21:07:09.273-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='resensi buku'/><title type='text'>Menyikapi Kebohongan-Kebohongan Yang Nyata</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_E2R9bHY4wpU/R9o3vBpMB2I/AAAAAAAAAA0/M0pZ02dM6Pc/s1600-h/HargaSebuahHati.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://1.bp.blogspot.com/_E2R9bHY4wpU/R9o3vBpMB2I/AAAAAAAAAA0/M0pZ02dM6Pc/s320/HargaSebuahHati.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5177512002650376034" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Resensi Buku : Harga Sebuah Hati&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Judul Buku     : Harga Sebuah Hati&lt;br /&gt;Penulis            : Tias Tatanka, dkk.&lt;br /&gt;Penerbit          : Akoer&lt;br /&gt;Harga               : 27.900&lt;br /&gt;Tebal              :142 hal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="insertedphoto"&gt;&lt;/span&gt;&lt;img src="file:///C:/DOCUME%7E1/dedy/LOCALS%7E1/Temp/moz-screenshot.jpg" alt="" /&gt;&lt;img src="file:///C:/DOCUME%7E1/dedy/LOCALS%7E1/Temp/moz-screenshot-1.jpg" alt="" /&gt;Pagi mantan remaja 80-an seperti saya, nama Gola Gong tentunya sudah tidak asing lagi. Lewat serial cerita pendeknya Balada Si Roy di majalah Hai kualitasnya sebagai penulis cerita pendek bahkan novel sudah tidak diragukan lagi. Medio 2007 saya akhirnya baru sempat berjabat tangan dengan dia di sanggarnya yang dikenal sebagai Rumah Dunia. Di sana pula saya mengenal beberapa nama yang dikenal sebagai penyair dan ternyata menyumbang naskah cerita pendek di dalam buku ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku ini punya tujuan yang mulia, yakni menggalang dana demi kelangsungan proses belajar mengajar yang dilakukan oleh Rumah Dunia di Serang. Serang merupakan daerah yang tergolong unik dari sisi bahasa di tataran Jawa Barat. Di samping itu, gambaran sebagai daerah yang sedang berkembang pun dapat dirasakan dari kultur kehidupan masyarakatnya. Hal ini tergambar jelas di dalam buku Harga Sebuah Hati. Bermacam-macam kehidupan kaum marjinal diketengahkan seperti kehidupan pemulung (Harga Sebuah Hati), tukang becak (Si Dul Ingin Sekolah), calon tenaga kerja migran (Diantar Kematian), dan karyawan kecil (Baju Baru Buat Lebaran, Seroja, Bandot).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari sisi tema, meskipun mayoritas settingnya di ambil dari keluarga kelas menengah, ternyata tidak menimbulkan keseragaman. Persoalan kemiskinan memang masih menjadi hal yang kuat, tetapi di sisi lain ada beberapa hal yang coba ditarik oleh para penulis seperti korupsi (Baju Baru Buat Lebaran), cinta (Seroja), dan kejujuran (Harga Sebuah Hati).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gola Gong sendiri menuliskan tentang ketegaran hati seorang perempuan (Tiga Lelaki yang Memberiku Cahaya) menghadapi kemalangan yang menimpa dirinya. Menilik bahasa yang dipergunakan dalam cerita ini, sepertinya Gola Gong sudah mengarahkan pandangannya ke hal-hal yang religius. Meskipun sifatnya masih sangat universal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harga Sebuah Hati, cerita pendek yang sekaligus menjadi judul buku ini sebenarnya kurang begitu kuat konfliknya. Pribadi remaja Ntong yang dari awal diteropong jiwanya ternyata tidak diselesaikan dengan baik oleh si penulis ketika Bapaknya, seseorang yang sangat dipercaya olehnya, berusaha menutupi perbuatan jahatnya. Perubahan rasa percaya kepada rasa benci tergambarkan sangat samar, padahal itu adalah klimaks dari cerita ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara pribadi, saya lebih senang dengan ending cerita Baju Baru Buat Lebaran yang ditulis oleh penyair kawakan Totok St. Radik. Perang batin Mustaqim tersampaikan dengan baik. Sehingga ketika dia memutuskan untuk berbelanja bersama istri dan anak-anaknya, saya sebagai pembaca sangat memaklumi keputusannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti saya utarakan di awal, bahwa tidak melulu hal yang berhubungan dengan buku ini merefleksikan kehidupan masyarakat pinggir kota. Ada hal yang cukup menarik juga telah diangkat oleh Wangsa Nestapa yaitu bagaimana kita mendidik anak-anak kita. Menghindarkan mereka dari pengaruh-pengaruh yang tanpa kita sadari sesungguhnya meracuni daya nalar anak-anak. Setidaknya, lewat buku ini pembaca bisa ikut merasakan bagaimana sastrawan-sastrawan Serang menyikapi kebohongan-kebohongan yang nyata yang juga berada di sekitar kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dedy Tri Riyadi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9117554917202738035-5136754704047366167?l=tamanbacaanku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tamanbacaanku.blogspot.com/feeds/5136754704047366167/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9117554917202738035&amp;postID=5136754704047366167' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9117554917202738035/posts/default/5136754704047366167'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9117554917202738035/posts/default/5136754704047366167'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tamanbacaanku.blogspot.com/2008/03/menyikapi-kebohongan-kebohongan-yang.html' title='Menyikapi Kebohongan-Kebohongan Yang Nyata'/><author><name>Dedy Tri Riyadi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05323918027714983959</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_E2R9bHY4wpU/R9o3vBpMB2I/AAAAAAAAAA0/M0pZ02dM6Pc/s72-c/HargaSebuahHati.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
